Minggu, 08 November 2015

Makna dan sejarah azimat darokah ya ahlal madinah

MAKNA DAN SEJARAH "AZIMAT"
DARKAH YAA AHLAL MADINAH - YA TARIIM WA
AHLAHAA....
PERNAH melihat logo isim seperti diatas ? Logo
isim yang sering dijumpai di berbagai majelis-
majelis ta’lim ataupun maulid. Ada yang
menggunakan logo ini di spanduk, umbul-umbul,
bendera, jaket, bahkan dalam bentuk stiker.
Logo apa itu…? Huruf ‘ ﺡ ’ ditengah dengan
ukuran yang cukup besar, kemudian di atasnya
bertuliskan “Darkaah Ya Ahlal Madinah”, di
bawahnya bertuliskan “Ya Tarim Wa Ahlaha”, di
samping kanannya bertuliskan lafzhul jalalah
yang berbunyi ﻳﺎ ﻓﺘﺎﺡ ”Ya Fattah” dan di samping
kirinya ﻳﺎ ﺭﺯﺍﻕ “Ya Rozzaaq”. Di atas huruf ‘ha’
bertuliskan angka 1030 dan di tengah huruf ‘ha’
bertuliskan angka 110.
Mengenai isim seperti itu dan yang semacamnya
maka hal itu merupakan tabarruk dan tawassul
kepada hal yang mulia.
Sedangkan isim di atas sendiri adalah tabarruk
dan tawassul kepada al Imam al Habib Abdullah
bin al Haddad, seorang Wali Quthb yang sangat
masyhur, cucu Rasulullah SAW dari Sayyidina
Husain bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali bin Abi
Thalib, suami Sayyidah Fatimah Az Zahra binti
Rasulullah Muhammad SAW.
Beliau adalah penyusun Ratib al Haddad,
Wirdullathif yang banyak diamalkan oleh muslimin
di berbagai penjuru dunia, juga kitab Risalatul
Mu’awanah, Nashoihud Diniyah, dll.
Dijelaskan oleh Al Habib Munzir bin Fuad al
Musawwa, “Darkah ya ahlal madinah” maksudnya
adalah bertawassul pada shohibul Madinah yaitu
Rasulullah SAW. “Yaa Tarim wa ahlaha” adalah
tawassul kepada para shalihin dan lebih dari 10
ribu wali yang dimakamkan di pemakaman
Zanbal, Fureidh, dan Bakdar, yang pada
pekuburan Zanbal itu juga terdapat Ashabul
Badar utusan Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq r.a.
yang wafat di sana. “110” melambangkan marga
Ibn Syeikh Abubakar bin salim Fakhrul Wujud
(dzuriyyah Rasulullah SAW). “1030”
melambangkan marga Al Habsyi (dzuriyyah
Rasulullah SAW).
Sesuai faham ahlussunnah wal jam’ah, azimat
(Ruqyat) dengan huruf arab merupakan hal yang
diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah
SWT.
Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat dengan
tulisan ayat atau doa disebutkan pada kitab
Faidhul Qadir Juz 3 hal 192, dan Tafsir Imam
Qurtubi Juz 10 hal. 316/317, dan masih banyak
lagi penjelasan para Muhadditsin mengenai
diperbolehkannya hal tersebut, karena itu
semata-mata adalah bertabarruk (mengambil
berkah) dari ayat-ayat Al Qur’an dan kalimat-
kalimat mulia lainnya.
Namun tentunya manfaat dan kemuliaannya
bukan pada tulisan dan stiker itu, tapi tergantung
pada penggunanya, dan bila anda ingin
menggunakannya maka boleh ditempel di pintu
atau lainnya sebagai tabarruk dengan nama
Imam Al Haddad rahimahullah.
Mengenai tawassul, Allah SWT sudah memerintah
kita melakukan tawassul. Tawassul adalah
mengambil perantara untuk doa kita kepada Allah
SWT. Baik itu dengan amal perbuatan, asma
Allah, ayat Al Qur’an, bacaan shalawat, dll.
SEJARAH TULISAN DARKAH
Wawancara bersama Habib Abu Bakar bin
Abdurrahman Al Haddad – Tanjung Gang 2 Kota
Malang Jawa Timur. Siapa sangka jika penyusun
dari Lambang Darkah ini berasal dari kota
Malang , beliau adalah Al Habib Abu Bakar bin
Abdurrahman Al Haddad. Lambang Huruf ‘ha’ di
tengah dengan ukuran yang cukup besar,
kemudian di atasnya bertuliskan “Darkaah Yaa
Ahlal Madiinah”, di bawahnya bertuliskan “Yaa
Tariim Wa Ahlahaa”, di samping kanannya
bertuliskan lafdzul jalalah yang berbunyi “Yaa
Fattaah” dan di samping kirinya “Yaa Rozzaaq”,
sedangkan di atas huruf ‘ha’ bertuliskan angka
1030 dan di tengah huruf ‘ha’ bertuliskan angka
110 seperti keterangan gambar, merupakan hasil
karya beliau yang terinspirasi dari beberapa kisah
sohibul maulid Simthudhurrar. Beliau yang lulusan
dari Pondok Pesantren Darut Tauhid ini
berinisiatif membuat lambang Darkah berawal
dari kisah Al Imam Al Habib Ali Al Habsyi
(Sohibul Maulid, pengarang Simtud Dhurar). Pada
awalnya beliau Al Imam Al Habib Ali bin
Muhammad Al Habsyi membuat tanda untuk
setiap kiriman dengan memakai angka 110,
disebabkan karena saat itu beliau, Habib Ali al
Habsyi, sering kali mendapatkan kiriman-kiriman
dari luar negri, dan kiriman tersebut seringkali
tidak sampai kepada beliau, kemudian petugas
pengirim surat (Pak Posnya) meminta untuk
membuat tanda, agar setiap ada kiriman barang/
surat tidak hilang kirimannya. Kemudian beliau
membuat Kha’ disertai dengan huruf 110, 110 itu
sendiri merupakan jumlah bobot nilai huruf
hijaiyyah yang merangkai kata ‘ALI’ dalam kitab
Aqidatul Awwam. (pada halaman terakhir ada
rumusannya) Sedangkan gabungan 110 dan kha’
itu ada sekitar tahun 1980-an , atas inisiatif dari
Habib Ali bin Muhammad Al Haddad dan Habib
Segaf bin Muhammad Ba’ Agil.
Adapun penulisan kalimat Darkah yaa Ahlal
Madinah adalah inisiatif dari Habib Abu Bakar
sendiri, yang diambil dari Qosidah Habib
Muhammad bin Idrus, yang banyak berisi tentang
tawasul-tawasul dengan Ahlul Madinah
(Rosulullah SAW beserta keluarganya,
sahabatnya), termasuk juga kalimat Yaa Tarim
Wa Ahlaha, yang merupakan tawassul kepada
para shalihin dan lebih dari 10 ribu wali yang
dimakamkan di pemakaman Zanbal, Fureidh, dan
Akdar. Pekuburan Zanbal adalah pekuburan para
wali dan sholihin, juga di pekuburan Zanbal
terdapat Ashhabul Badr utusan Sayyidina Abu
Bakar ash-Shiddiq Ra. yang wafat di sana.
Kemudian penerapan lambang Darkah ini pada
awalnya dulu bukan berbentuk bulat dan
bertuliskan kalimat tawasul tadi, melainkan hanya
berupa lambang ha’ dan huruf 110 dan 1030 saja,
kemudian berkat saran dari paman beliau yang
bernama Habib Abdul Qodir bin Husain Al
Haddad, maka lambang tersembut ditambahlah
dengan wiridannya dari abahnya Habib Husain,
yaitu Yaa Fattah Yaa Rozzaq, dengan niatan
supaya dapat fadlilah wiridannya Habib Husain
bin Muhammad Al Haddad. Siapa sangka bahwa
logo yang sudah dikenal di seluruh dunia, baik di
kalangan habaib maupun muhibbin ini sudah
menyebar ke berbagai negara, seperti Yaman,
Malaysia, Singapore, Abu Dabi, Kuwait, dll.
Setelah berjalan lama, lambang ini sempat nyaris
hilang, kemudian lambang / ism yang sering
dijumpai di berbagai majelis-majelis ta’lim/
maulid. Ada yang menggunakan logo ini di
spanduk, umbul-umbul, bendera, jaket, dll, atau
dalam bentuk stiker, sampai mobil-mobil di kaca
belakangnya ditempel stiker lambang ini.
Lambang yang sebenarnya adalah suatu Ajimat
(Ruqyat) bukan Logo suatu organisasi tertentu,
yang apabila dikaji di kitab-kitab , maka lambang
ini tidak akan diketemukan di kitab manapun,
karena lambang ini ada karena Habib Abu bakar
bin Abdurrahman al Haddad menyusunya
digunakan untuk tafa’ul –an (mengharap
berkah). Adapun hitungan 1030 itu berasal dari
hitungan kalimat “amanatullah wa rosuluh wal
Abdullah al Haddad”, yang ditujukan kepada
kepada al Imam al Habib Abdullah bin Alwi al
Haddad, dimana hitungan isim terssebut
merupakan inisiatif dari para ulama’ kota Tarim
Yaman.
Sesuaifaham Ahlussunnah wal Jama’ah, ‘azimat
(Ruqyat) dengan huruf arab merupakan hal yang
diperbolehkan, selama itu tidak menduakan Allah
SWT. Sebagaimana dijelaskan bahwa azimat
dengan tulisan ayat atau doa disebutkan pada
Kitab Faidhul Qadir Juz 3 halaman 192, dan
Tafsir Imam Qurthubi Juz 10 halaman 316-317,
dan masih banyak lagi penjelasan para
Muhadditsin mengenai diperbolehkannya hal
tersebut, karena itu semata-mata adalah
bertabarruk (mengambil berkah) dari ayat-ayat
al-Qur’an dan kalimat-kalimat mulia lainnya.

Sabtu, 07 November 2015

Habib alwi bin ali al habsyi solo(ayah habib anis solo)

Al Habib Alwi Bin Ali Al Habsy
Ulama dan dai yang masyhur. Anak bongsu kepada Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi pengarang mawlid “Simthud Durar” yang masyhur. Pendiri masjid ar-Riyadh di Kota Solo (Surakarta). Beliau dikenali sebagai pribadi yang amat luhur budi pekertinya, lemah-lembut, sopan – santun serta ramah tamah terhadap sesiapa pun terutama kaum yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan sebagainya. Rumah kediamannya selalu terbuka bagi para tetamu daripada berbagai golongan dan tidak pernah sepi dari pengajian. Beliau meninggal dunia pada 20 Rabi`ul Awwal 1373H dan dimakamkan di Kota Surakarta. Tempat beliau digantikan anakandanya Habib Anis bin Alwi bin Ali bin Muhammad al-Habsyi, mudah-mudahan Allah panjangkan usianya demi kebaikan Islam dan muslimin. Mudah-mudahan Allah beri kesempatan kita menziarahinya di Kota Solo. Mari hadiahkan al-Fatihah buat Habib Alwi bin Ali bin Muhammad al-Habsyi dan para leluhurnya dan keturunan mereka…. al-Fatihah

Habib ali bin alwi bin shihab(ahli thibbun nabawi)

AL HABIB AL QUTHUB 'ALI BIN 'ALWY BIN SHIHAB ( Ahli Thibbun Nabawi )
Banyak ulama Hadromaut yang memiliki keahlian khusus. Selain menguasai ilmu agama, ada beberapa diantaranya yang terkenal sebagai sufi. Sedangkan Habib 'Ali bin 'Alwi bin Shahab dikenal sebagai pakar atithibb an-nabawi (pengobatan cara Nabi).
Beliau lahir dan dibesarkan di lingkungan para wali di Tarim, Hadramaut, pada tahun 1267 H / 1847 M. sejak kecil beliau dididik oleh ayahandanya hingga sang ayah menjelajah beberapa negeri di Asia untuk berdakwah, dan akhirnya bermukim di Palembang, Sumatera selatan.
Selain kepada ayahandanya, Habib Ali berguru kepada beberapa ulama besar. Antara lain :
• Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi ( penulis kitab Iqdul Yawaqitul Jauhariyah ).
• Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi ( penulis naskah mauled Simtud Duror ).
• Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf ( ayahanda Al-Quthb Habib Abdul Qadir Assegaf, Jeddah ).
Setelah dewasa, Habib Ali, bersama saudaranya Habib Hasan, berdakwah ke Asia, sekalian menziarahi ayahandanya di Palembang. Sebelum akhirnya menetap di Palembang, beliau tinggal di Singapura sambil berguru kepada Syekh Umar Al-Khatib; sedangkan Habib Hasan dan saudaranya, kembali ke Hadramaut, Yaman, setelah mengunjungi Gresik, Jawa Timur.
Di Palembang dia mendirikan rumah di perkampungan kaum Alawiyin di sungai Bayas, berhadapan dengan rumah ayahandanya, yang oleh penduduk disebut rumah batu. Rumah itu berlantai dua. Lantai bawah khusus para tamu, lengkap dengan kamar tidur dan kamar mandi. Sedangkan beliau sendiri tinggal di lantai atas.
Kegemaran Habib Ali bin Alwi bin Shahab memuliakan para tamu bukan hanya dalam keadaan jaga, tapi juga dalam keadaan tidur, mungkin bisa disebut dalam keadaan mimpi. Sampai-sampai istrinya, Syarifah Ruqayyah binti Abu Bakar Al-Kaf, pada hari-hari pertama berkeluarga dengan Habib Ali bingung dan mengira suaminya sakit. Sebab dalam keadaan tidur, Habib Ali tampak berdialog dan menyebut nama para wali yang sudah wafat. Agaknya mereka menemui Habib Ali dalam tidurnya.
Tamu Habib Ali, dalam keadaan terjaga, banyak sekali, terdiri para pedagang dan mubalig, baik dari Asia maupun Timur Tengah. Mereka melakukan transaksi dengan Habib Ali, dan Habib Ali menjual barang dagangann ya di Toko "Laris" di pasar Ilir, atau menyalurkannya ke Apotek. Diantaranya terdapat da'wat ( untuk rajah ), khan arab, inggu, dedes, mustaki, minyak wangi. Getar semalo, malam, akar kara, kumo-kumo dan minyak Za'faron.
Rumah Habib Ali juga dimanfaatkan untuk majelis taklim, tempat mendidik anak-anaknya dan beberapa murid lain. Diantara mereka, dibelakang hari ada yang menjadi ulama terkenal, seperti Nungcik Aqil dan mualim Umar. Kepada para muridnya, Habib Ali selalu memberi uang setiap kali mereka selesai belajar.
Suatu hari, Habib Ali memulai majelisnya pada pukul dua dini hari hingga para santrinya kedinginan dan kelaparan lantaran menunggu Habib Ali menghatamkan Al-Qur'an, kebiasaannya tiap hari. Mualim Umar, melihat pisang goring yang disediakan untuk Habib Ali sudah dingin, tapi madu dan ceret kopi sudah kosong.
Setelah menghatamkan Al-Qur'an dan shalat dua raka'at, Habib Ali menyuruh murid-muridnya membuka kitab, sedangkan Mualim Umar disuruh menyajikan kopi, pisang goreng dan madu. Tentu saja Mualim Umar bingung, tapi ia tetap mematuhi perintah sang guru. Betapa ia terkejut ketika didapatinya pisang goring masih panas dan ceret kopi sudah terisi penuh, padahal tak ada orang lain yang mengerjakannya.
Dalam majelisnya yang lain, Habib Ali didatangi seorang pemuda berpakaian rapi, mengenakan jas dan celana panjang dengan rambut tersisir rapi. Tampilan pemuda itu tidak sesuai untuk ukuran majelis taklim. Namun Habib Ali menyambutnya dengan hangat, memeluk dan mencium tangannya, meskipun umur sang tamu masih sangat muda.
"Kalian tahu siapa yang datang tadi?Habib Ali bertanya kepada para santrinya setelah sang pemuda tadi pamit pulang.
"Beliau adalah Habib Salim bin Ahmad bin Jindan dari Jakarta, Waliyullah yang mendapatkan abdal ( salah satu tingkatan wali yang jumlahnya tujuh ) dari Allah swt." Konon, Habib Salim Jindan sengaja berpakaian seperti itu agar para pemuda tidak sungkan-sungkan menghadiri majelis Habib Ali.
Selain di rumah, Habib Ali juga mengajar di beberapa tempat lain, seperti di rumah Habih Muhammad bin Alwi ( pasar Kuto, Palembang ), Pesantren Tahtal Yaman ( Jambi ) dan Madrasah Al-Ihsan ( 10 Ilir, Palembang ) cababg Rabithah Alawiyah ( Jakarta ).
Habib ali juga dikenal sebagai ahli Thibbun nabawi , pengobatan cara Nabi. Mulai dari pembuatan wafak atau wifik, hingga obat-obatan tradisionil yang terkenal mujarab. Produk obatnya yang masih bisa diperoleh hingga saat ini, antara lain minyak mawar, minyak inggu, minyak rahib, minyak telur, minyak labu dan ma,jun bawang putih.
Beliau juga menulis kitab tentang obat-obatan dalam huruf Arab Melayu berjudul Penggirang Hati dan menerbitkan beberapa risalah :
• Fathul Mubin
• Al-Ghirah al-'Alawiyyah 'ala al-Ukhuwwah al-Hadramiyyah
• Tanbihul Anam 'anti Jawiyyah
• Al-Ghirah asy-Syahabiyyah 'ala as-Sirah al-Hasyimiyyah.
Pada suatu hari, ketika sedang beristirahat di teras kamar. Beliau didekati dua ekor burung berwarna putih. Beliau lalu menciprati burung itu dengan minyak wangi, dan si burung disuruh terbang kembali. Tetapi burung tidak terbang juga meski Habib Muhammad, anaknya, ikut mengusirnya. Agaknya Habib Ali memahami situasi tersebut. Lalu dipanggilnya pembantu setianya yang terbaring sakit.
'Ya. Saidah, Izrail sudah datang, dia mau memanggil saya."
Yang dimaksud dengan Izrail, rupanya si burung itu.
"jangan Ya Habib, biar Saidah dulu, tolong Habib doa'kan saya." Jawab Saidah binti Salim al-Maidit yang mengulanginya sampai tiga kali. Akhirnya, ketika magrib tiba, Saidah pun wafat.
Malamnya, Habib Ali mempersiapkan kain kafan untuk Saidah, setelah itu kembali ke kamarnya, sementara burung putih itu masih bertengger di teras rumah.
Keesokan harinya, setelah mandi dan shalat shubuh. Habib Ali minta dimandikan lagi, karena hari itu sahur pertama, terlebih ada jenazah Saidah.
"Rupanya Izrail masih menunggu saya dan saya mau mandi dulu." Kata Habib Ali kepada istrinya. Setelah mandi dengan bantuan anaknya, Habib Muhammad, beliau berbaring. Saat itulah beliau bertanya:
Ya Izrail apakah sudah ada izin dari Allah swt?"
Tidak lama kemudian beliau pun berkata kepada istrinya:
Ya Ipa, sudah ada izin dari Allah awt."
Kontan istrinya berteriak :
"Jangan, Ya Ami……Jangan Ya Ami!
Kemudian Habib Ali berdoa' sambil tetap berbaring, setelah sebelumnya mencelupkan kedua tangannya ke dalam baskom air. Saat itulah Habib Ali berpulang dalam usia 87 tahun, pada 1 Ramadhan 1354 H, bertepatan dengan tanggal 27 November 1935 M.

Habib ali bin husain alattas HABIB BUNGUR

Dari Huraidhah ke Betawi
Berjubah dan bersurban putih, serta selempang hijau (radi), Habib Ali bin Husin Alatas, baik semasa tinggal di Cikini maupun Bungur menerima murid-muridnya atau masyarakat yang ingin menanyakan sesuatu hukum atau persoalan agama. Seperti diungkapkan Habib Ali bin Abdurahman Assegaff (62), dalam mengajar, almarhum biasanya berhadap-hadapan dengan para kiai atau ulama ternama yang datang ke kediamannya. Para ulama ini umumnya para pimpinan majelis taklim.
Misalnya KH Abdullah Syafiie, KH Tohir Rahili, KHM Syafi’i Hadzami, atau KH Nur Ali dari Bekasi, yang pada masa revolusi fisik (1945) menggerakkan rakyat melawan Belanda. Sejumlah ulama Betawi lainnya dari generasi yang lebih muda antaranya KH Abdurahman Nawi, pimpinan majelis taklim Al-Awwabin di Tebet (Jakarta Selatan), dan Depok (di kawasan Bintara dan Tugu-Sawangan). Tapi, menurut Habib Ali Assagaff, di antara ulama-ulama ternama juga banyak dari luar Jakarta. Bahkan dari Jawa Timur seperti Habib Husein Almachdor (Bondowoso), Habib Abdullah Bilfagih (Surabaya).
Di kediamannya itu, Habib Ali menerima mereka yang membacakan suatu kitab atau menanyakan suatu masalah kepadanya. Lalu almarhum menerangkan mengenai isi kitab tersebut. Habib Ali Assagaff yang pernah beberapa tahun berguru kepada almarhum membenarkan, umumnya yang belajar kepada beliau adalah para ulama dan kiai ternama. Tapi banyak yang ketika itu menjadi kader-kader ulama, kini telah berhasil menjadi ulama terkemuka.
Meskipun para murid yang belajar kepadanya tidak bersifat massal seperti di majelis-majelis taklim, tapi almarhum Habib Ali seringkali mendatangi diskusi dan pengajian antar-ulama dan kader-kader ulama. Jumlah mereka memang tidak banyak, hanya puluhan orang.
Seperti dikemukakan putranya Habib Husein, biasanya pengajian yang dihadiri lebih banyak muridnya diadakan secara rutin di majelis taklim Attahiriyah, pimpinan KH Tohir Rohili. Akan tetapi, sering pula pengajian semacam ini diadakan di kediaman atau pengajian KH Abdullah Syafi’ie (As-Syafiiyah), KHM Syafi’i Hadzami (Majelis Taklim Asyirotusy-Syafi’iyah) dan di majelis taklim Habib Abdurahman Assegaff, di Bukit Duri, Jakarta Timur.
Tidak seperti di majelis taklim Kwitang misalnya, dimana Habib Ali Alhabsji, mengajar di hadapan ribuan jamaah, Habib Ali Alatas hanya di kalangan terbatas. Seperti dikemukakan oleh KHM Syafi’i Hadzami, salah satu murid kesayangannya, cara mengajarnya ialah mendengarkan para murid-muridnya satu persatu membacakan kitab. Lalu beliau memberikan keterangan, dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Baik di Cikini, maupun di Bogor, selama 56 tahun Habib Ali membuka semacam majelis talim khusus untuk para pimpinan dai dan mubaligh. Antara keduanya sampai akhir hayat terjalin hubungan yang sangat akrab, dan keduanya setiap saat sering bertemu. Dalam diskusi terbatas semacam ini, sejumlah kitab yang menjadi rujukan ulama salaf dibahas. Seperti kitab Minhajud Thalibin, kitab Hadis Bukhari-Muslim, hingga kepada kitab-kitab Ihya Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali.
Sejumlah ajengan dan mubaligh dari Bogor, Sukabumi, dan Cianjur, banyak yang mendatanginya. Almarhum juga teman akrab para ulama intelektual kala itu, seperti Buya KH Abdullah bin Nuh, Prof Dr Abubakar Atjeh, dan juga Hamka. Menurut Syafi’i Hadzami, salah seorang murid terdekat almarhum, dia telah menimba ilmu kepadanya selama 18 tahun.
Dari tahun 1958 hingga saat meninggalnya almarhum pada Pebruari 1976. Begitu cintanya ia kepada gurunya ini, sehingga ketika habib Ali pindah ke Bungur, KH Syafi’i dari Kebon Sirih ikut-ikutan pindah. Setelah Habib Ali meninggal dunia, kecintaannya terhadap gurunya ini tidak berkurang. ”Setiap kali saya melewati daerah makamnya di Cililitan, saya selalu membacakan Fatihah dan mendoakannya,” kenang Hadzami dalam buku Sumur yang tak Pernah Kering.
Ke Jakarta
Habib Ali bin Husin Alatas dilahirkan di Huraidhah, Hadramaut, pada tanggal 1 Muharram 1309 atau 1889 Masehi, juga dikenal dengan sebutan Habib Ali Bungur. Karena pada akhir hayatnya, ia dan keluarga tinggal di Bungur, Jakarta Pusat. Sebelumnya, guru sejumlah kiai Jakarta ini tinggal di Cikini, Jakarta Pusat. Hingga kala itu namanya dikenal dengan sebutan Habib Ali Cikini. Sejak usia enam tahun ia telah menuntut ilmu keislaman pada sebuah ma’had atau pesantren di Hadramaut. Setelah menempuh pendidikan belasan tahun, pada tahun 1912 dalam usia 23 tahun ia pun menunaikan ibadah haji. Di kota suci ini, Habib Ali menetap selama lima tahun yang waktunya dihabiskan untuk menuntut ilmu pada sejumlah ulama. Pada tahun 1917, ia kembali ke Huraidhah, dan mengajar di kota yang banyak memiliki pesantren itu.
Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 1920, dalam usia 41 tahun, ia pun berangkat ke Jakarta. Hanya dalam waktu singkat, almarhum yang selalu dekat dengan rakyat itu, telah dapat menguasai bahasa Indonesia. Ia mula-mula tinggal di Cikini, berdekatan dengan Masjid Cikini, yang dibangun oleh pelukis Raden Saleh. Ia dengan cepat dapat menarik perhatian masyarakat setempat.
Habib yang dikenal sebagai guru dari sejumlah ulama terkemuka di Betawi itu, pada masa hidupnya dikenal sebagai ulama ahli dalam bidang fikih, falsafah, tasawuf, dan perbandingan mazhab. Menguasai berbagai kitab kuning dari berbagai mazhab, Habib Ali Alatas, selama 56 tahun telah mengabdikan diri untuk perjuangan agama. Bukan saja di Indonesia, juga di Malaysia dan Singapura, banyak muridnya.
Seperti dikemukakan oleh putranya, yang kini meneruskan majelis taklim ‘Al-Khairat’ di Condet, ayahnya memang tidak mau menonjolkan diri. Padahal, di antara para muridnya merupakan ulama terkemuka kala itu. Seperti KH Abdullah Sjafi’ie, pimpinan majelis taklim Assyfi’iyah, KH Tohir Rohili, pimpinan majelis taklim Attahiriyah, KH Syafi’i Hadzami (ketua umum MUI Jakarta), dan puluhan ulama lainnya. Bahkan, para muridnya itu kemudian menjadi guru para mubaligh, dan perguruan tinggi Islam.
Menurut Habib Husein (62 tahun), ayahnya sangat gandrung kepada persatuan umat (ukhuwwah Islamiyah). Di samping sabar dan tidak mengenal lelah dalam melaksanakan dakwah. Selain di kediamannya, menurut putranya Habib Husein, ayahnya juga mengajar di berbagai tempat. Seperti pada setiap habis shalat Jumat, dia mengajar di Attahiriyah. Ulama yang ikut berguru, bukan hanya dari Jakarta, tapi juga dari Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Habib Husin sendiri di kediamannya di Condet, membuka pengajian untuk masyarakat setempat setiap Ahad malam yang dihadiri sekitar 300-400 jamaah.
Bersama rakyat jelata
Baik selama di Cikini, maupun di Bungur, almarhum menetap di lingkungan kampung bersama rakyat jelata. Seperti dikemukakan oleh salah satu muridnya, Habib Ali bin Abdurahaman Assegaff, salah satu pimpinan jamaah shubuh di Tebet, ”Setiap orang yang mengenal almarhum selalu akan berkata, hidupnya sederhana, dan tawadhu.” Setahu saya, kata Habib Ali Assegaff (60 tahun), ”Beliau tidak pernah menyakiti sesama manusia, teguh memegang prinsip, menolak pengultusan, berani membela kebenaran, luas dalam pemikiran.’
Yang perlu diikuti oleh para ulama masa kini, kata Habib Ali Assegaff, beliau tidak membeda-bedakan kaya dan miskin. Dalam mendekatkan diri dengan rakyat jelata ini, putranya menerangkan, almarhum ayahnya selalu naik becak atau kendaraan umum, karena sikapnya yang ingin berdiri dengan kaki sendiri. Melihat keadaan ini, sering di antara para muridnya yang memaksa beliau untuk menaiki mobilnya. Karena tidak tega melihatnya naik becak dalam usia lanjut.
Sampai akhir hayatnya, ia tidak memiliki mobil karena menerapkan hidup sederhana dan tidak pernah mau menadahkan tangan kepada orang kaya. Ketika berdakwah ke berbagai tempat ia lebih banyak naik becak. Hanya dalam waktu singkat, ia pun menjadi sumber ilmu dari para kiai dan ulama kala itu. Hingga kediamannya di Cikini, di sebuah gang kecil yang tidak dapat dimasuki mobil, selalu didatangi para muridnya yang ingin menambah ilmu. Pada tahun 1960′an, rumahnya di Cikini terbakar. Maka ia pun pindah ke Bungur, sebuah kampung di kawasan Senen, yang mayoritas penduduknya warga Betawi.
Di samping itu, Habib Ali pun dalam dakwah Islamnya banyak mendatangi berbagai tempat di Pulau Jawa. Seperti yang dikemukakan oleh KH Idham Chalid, yang juga pernah berguru padanya, almarhum dalam perjuangannya tidak pernah menonjol-nonjolkan diri bahwa ia seorang yang pandai. Ketua DPR/MPR KH Idham Chalid, yang juga ketua umum PBNU. Idham Chalid, kala itu mengatakan, almarhum berani mengoreksi para pemimpin. ”Saya sendiri sering dikoreksinya,” tegas Idham. Sedangkan Habib Ali Assegaff, salah satu muridnya sangat terkesan akan ketegasan gurunya itu. Sementara Idham Chalid mengaku, ”Saya seringkali ditegur karena kesalahan-kesalahan saya, dan almarhum memberi jalan keluar serta nasihat-nasihat.” Pernyataan ini dilontarkan Idham Chalid saat memberikan sambutan pada acara pemakaman almarhum di Cililitan, Jakarta Timur.
Bagi KHM Syafi’i Hadzami ada pengalaman tak terlupakan dengan gurunya itu. Suatu ketika ia menjenguk gurunya yang sedang sakit di kediamannya. Sebagai penghormatan dan adab pada guru, ia pun membuka sandalnya di luar kamar. Melihat muridnya demikian, ia pun menyuruh agar memakai sandalnya itu. Karena KHM Sjafi’i menolak, Habib Ali yang tengah sakit keluar dari kamarnya.
Ia mengambil sandal muridnya, dan minta agar memakainya. ”Saya terkejud dengan perlakuan guru saya yang demikian itu,” ujarnya. Selain Sjafi’i Hadzami, nama-nama besar lain yang pernah menimba ilmu darinya adalah Habib Muhammad Alhabsji (putra Habib Ali Kwitang), Habib Abdulkadir bin Abdullah Bilfagih (Malang), KH Abdullah Syafi’i, KH Tohir Rohili, KH Abdulrazag Ma’mun, Prof Dr H Abubakar Atjeh, KH Nur Ali (Bekasi), dan sejumlah ulama kondang lainnya. (as)
Almarhum meninggal dunia pada 16 Pebruari 1976 dalam usia 88 tahun.
Guru dari beberapa lembaga ilmiah, majelis taklim, dan perguruan agama ini, memang dikenal low profile.

Habib ali bin ja'far alaydrus (HABIB ALI BATU PAHAT)

atau yang sering disebut 'Habib Ali Batu Pahat' adalah seorang kekasih Allah yang mengajarkan kepada siapa-pun bahwa di zaman yang sudah amat maju ini orang masih bisa hidup zuhud dan tawadhu. Dalam kesederhanaannya, ia mengarungi hidup dengan tegar. Banyak di antara pecintanya ingin membangunkan rumah mewah sebagai kediaman yang layak bagi orang sebesar dirinya. Namun semuanya ia tolak secara halus. Demikianlah, setiap harinya dia mandi dan mengambil wudhu di kamar mandi yang bersatu dengan sumur tua dalam bangunan yang sangat sederhana.
Tanda keutamaan dalam dirinya sangat jelas. la adalah orang yang ketika wajahnya dipandang, dapat mengingatkan hati yang memandangnya kepada Allah SWT. Akhlaqnya amat luhur dan mulia, sebagai bias dari akhlaq datuknya, Baginda Rasulullah SAW. Sikap zuhud terhadap dunia adalah hiasan terindah dalam kesehariannya. Begitu pula sifatnya yang teramat wara'.
Salah seorang kerabatnya dari Indonesia, yang masih terhitung cucunya, suatu saat mengunjunginya. Saat berada di sana, lewat jendela rumah sederhana itu, sang cucu memandangi buah kelapa yang menggantung di pohon kelapa di sisi rumahnya.
Memperhatikan hal itu, Habib Ali mendekat dan mengatakan kepadanya, "Kamu mau buah kelapa itu? Sebentar. Saya mintakan izin dulu sama si empunya tanah. Sebab, saya hanya menyewa rumahnya, tanahnya tidak ikut saya sewa." Subhanallah. Rumah sederhana yang ia tempati itu pun ternyata rumah sewaan, bukan rumah miliknya.
Sangat Memuliakan Tamu
Hatinya begitu lembut. la tak ingin ada sedikit pun rasa kecewa tumbuh di hati orang yang mengunjunginya. Di rumahnya yang amat sederhana, kecil, dan sempit itu, sedemikian rupa ia muliakan setiap tamu yang datang. Semua ia terima dengan penerimaan yang menyenangkan hati, tak peduli rupa apalagi harta. Berjumpa dengan sosok bersahaja itu, hati pun serasa menjadi lapang seketika. Ruang tamunya pun tak pernah kosong dari ratusan botol kemasan air mineral para tamu yang berharap keberkahan dari doa-doa yang ia lafalkan. Meski amat banyak untuk ukuran seorang yang sudah sesepuh Habib Ali Batu Pahat, ia mendoai satu per satu air itu dengan penuh kekhusyu'an. la amat santun kepada setiap tamunya. Kaya, miskin, ulama, ataupun awam. Siapapun. Meski hidup sederhana, ia bahkan hampir selalu memberikan uang kepada para tamunya. Jumlahnya terkadang tidak kecil. Jika mereka berkunjung pada jam makan, tak mungkin tamunya diizinkan pulang sebelum mereka makan bersamanya. Sifat rendah hatinya kepada setiap tamunya amat mengagumkan. Sebelum sang tamu pulang, orang semulia dirinya ini justru selalu meminta doa dari mereka

Jumat, 06 November 2015

Karomah habib abdullah bin muchsin al attas EMPANG

Selama di penjara ke keramatan Habib Abdullah Bin Mukhsin semakin tampak sehingga semakin banyak orang yang datang berkunjung kerpenjaraan tersebut. Tentu saja hal itu mengherankan para pembesar penjara dan penjaganya. Sampai mereka pun ikut mendapatkan berkah dan manfaat dari kebesaran Habib Abdullah dipenjara,
Setiap permohonan dan hajat yang pengunjung sampaikan kepada Habib Abdullah Bin Mukhsin selalu dikabulkan Allah SWT, para penjaga merasa kewalahan menghadapi para pengunjung yang mendatangi beliau Mereka lalu mengusulkan kepada kepala penjara agar segera membebaskan beliau. Namun, ketika usulan dirawarkan kepada Habib Abdullah beliau menolak dan lebih suka menungu sampai selesainya masa hukuman.
Pada suatu malam pintu penjara tiba–tiba terbuka dan datanglah kepada beliau kakek beliau Al Habib Umar Bin Abdurrohman Al Athas seraya berkata, Jika kau ingin keluar dari penjara keluarlah sekarang, tetapi jika engkau mau bersabar maka bersabarlah.
Beliau ternyata memilih untuk bersabar dalam penjara, pada malam itu juga Sayyidina Al Faqih Al Muqodam dan Syeh Abdul Qodir Zaelani serta beberapa tokoh wali mendatangi beliau. Pada kesempatan itu Sayyidina Al Faqih Al Muqodam memberikan sebuah kopiah. Ternyata dipagi harinya Kopiah tersebut masih tetap berada di kepala Al Habib Abdullah Padahal, beliau bertemu dengan Al Faqih Al Muqodam didalam impian.
Para pengujung terus berdatangan kepenjara sehingga berubahlah penjaraan itu menjadi rumah yang selalu dituju, Beliau pun mendapatkan berbagai kekeratan yang luar biasa mengingatkan kembali hal yang dimiliki para salaf yang besar seperti Assukran dan syeh Umar Muhdor
Diantara Karomah yang beliau peroleh adalah sebagaimana yang disebutkan Al Habib Muhammad Bin Idrus Al Habsyi bahwa Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ketika mendapatkan anugrah dari Allah SWT, beliau tenggelam penuh dengan kebesaran Allah, hilang dengan segala hubungan alam dunia dan sergala isinya. Al Habib Muhammad Idrus Al Habsyi juga menuturkan, ketika aku mengujunginya Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athos dalam penjara aku lihat penampilannya amat berwibawa dan beliau terlihat dilapisi oleh pancaran Illahi. Sewaktu beliau melihat aku beliau mengucapkan bait –bait syair Habib Abdullah Al Hadad yang awal baitnya adalah sbb “ Wahaii yang mengunjungi Aku di malam yang dingin, ketika tak ada lagi orang yang akan menebarkan berita fitrah, Selanjutnya, kata Habib Muhammad Idrus, kami selagi berpelukan dan menangis, “
Karomah lainnya setiap kali beliau memandang borgol yang membelegu kakinya, maka terlepaslah borgol itu.
Disebutkan juga bahwa ketika pimpinan penjara menyuruh bawahannya untuk mengikat keher Habib Abdullah Bin Mukhsin maka dengan rante besi maka atas izin Allah rantai itu terlepas, dan pemimpin penjara beserta keluarga dan kerabatnya mendapat sakit panas, dokter tak mampu mengobati penyakit pemimpin penjara dan keluarganya itu, barulah kemudian pemimpin penjara sadar bahwa ;penyakitnya dan penyakit keluarganya itu diakibatkan Karena dia telah menyakiti Al Habib yang sedang dipenjara.
Kemudian, kepala penjara pengutus bawahannya untuk mendo’akan, penyakit yang di derita oleh kepala penjara dan keluarganya itu agar sembuh Maka, berkatalah Habib Abdullah kepada utusan itu Ambillah borgol dan rante ini ikatkan di kaki dan leher pemimpin penjara itu, maka akan sembuhlah dia.
Kemudian dikerjakanlah apa yang dikatakan oleh Habib Abdullah, maka dengan izin Allah SWT penyakit pimpinan penjara dan keluarganya seketika sembuh. Kejadian ini penyebabkan pimpinan penjara makin yakin akan kekeramatan Habib Abdullah Mukhsin Al Athas. Sekeluarnya dari penjara beliau tinggal di Jakarta selama beberapa tahun.
Perjalanan ke Empang
Dari sumber lain disebutkan, bahwa awal mula kedatangan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ke Indonesia, pada tahun 1800 Masehi, waktu itu beliau diperintahkan oleh Al Habibul Imam Abdullah bin Abu Bakar Alayidrus, untuk menuju Kota Mekah. Dan sesampainya di Kota Mekah, beliau melaksanakan sholat dan pada malam harinya beliau mimpi bertemu dengan Rasullah SAW, entah apa yang dimimpikannya, yang jelas ke esok harinya beliau berangkat menuju Negeri Indonesia.
Sesampainya di Indonesia, beliau dipertemukan dengan Al Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas yang da dipakojan Jakarta dan beliau belajar ilmu agama darinya, lalu Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas memerintahkan agar beliau datang berziarah ke Habib Husen di luar Batang, dari sana sampailah perjalanan beliau ke Bogor
Beliau datang ke Empang dengan tidak membawa apa-apa,
Pada saat belau datang ke Empang Bogor, disana disebutkan bahwa Empang yang pada saat itu belum ada penghuninya, namun dengan Ilmu beliau bisa menyala dan menjadi terang benderang Diceritakan, ada kekeramatan yang lain terjadi pula ketika beliau tengah makan dipinggiran empang, kebetulan pada saat itu datang kepada beliau seorang penduduk Bogor dan berkata “ Habib, kalau anda benar-benar seorang Habib Keramat, tunjukanlah kepada saya akan kekeramatannya..
Pada saat itu kebetulan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas tengah makan dengan seekor ikan dan ikan itu tinggall separuh lagi. Maka Habib Abdukkah berkata” Yaa sama Anjul ilaman Tabis,” ( wahai ikan kalau benar-benar cinta kepadaku tunjukanlah) maka atas izin Allah SWT, seketika itu juga ikan yang tinggal sebelah lagi meloncat ke empang. Konon ikan sebelah tersebut sampai sekarang masih hidup dilaut.
Masjid Keramat Empang didirikan sekitar tahun 1828 M. pendirian Masjid ini dilakukan bersama para Habaib dan ulama-ulama besar di Indonesia. Di Sekitar Areal Masjid Keramat terdapat peninggalan rumah kediaman Habib Abdullah, yang kini rumah itu ditempati oleh Khalifah Masjid, Habib Abdullah Bin Zen Al Athas. Didalam rumah tersebut terdapat kamar khusus yang tidak bisa sembarang orang memasukinya, karena kamar itu merupakan tempat khalwat dan zikir beliau. Bahkan disana terdapat peninggalan beliau seperti tempat tidur, tongkat , gamis dan sorbannya yang sampai sekarang masih disimpan utuh.
Kitab-kitab beliau kurang lebih ada 850 kitab, namun yang ada sekarang tinggal 100 kitab, sisanya disimpan di “Jamaturkhair atau di Rabitoh”. Tanah Abang Jakarta. Salah satu kitab karangan beliau yang terkenal adalah “Faturrabaniah” konon kitab itu hanya beredar dikalangan para ulama besar,
Adapun karangannya yang lain adalah kitab “Ratibul Ahtas dan Ratibul Hadad.” Kedua kitab itu merupakan pelajaran rutin yang diajarkan setiap magrib oleh beliau kepada murid-muridnya dimasa beliau masih hidup, bahkan kepada anak dan cucunya, Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas menganjurkan supaya tetap dibacanya.
Habib Abdullah Bin Al Athas, adalah seorang Waliyullah dengan kiprahnya menyebarkan Agama Islam dari satu negeri kenegeri lain. Di Kampung Empang beliau menikahi seorang wanita keturanan dalem Sholawat. Dari sanalah beliau mendapatkan wakaf tanah yang cukup luas, sampai sekarang 85 bangunan yang terdapat di kampung Empang didalam sertifikatnya atas nama Al Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas.
Semasa hidupnya sampai menjelang akhir hayatnya beliau selalu membaca Sholawat Nabi yang setiap harinya dilakukan secara dawam di baca sebanyak seribu kali, dengan kitab Sholawat yang dikenal yaitu “ Dala’l Khoirot” artinya kebaikan yang diperintahkan oleh Allah SWT.
Menurut Manakib, beliau dipanggil Allah SWT pada hari Selasa, 29 Zulhijjah 1351 Hijriah diawal waktu zuhur Jenazah beliau dimakamkan keesokan harinya hari Rabu setelah Sholat zuhur. Tak terhitung jumlah orang yang ikut mesholatkan jenazah. Beliau dimakamkan di bagian Barat Masjid An nur Empang,sebelum wafat beliau terserang sakit flu ringan.

Sayyid sulaiman martapura

beliau adalah seorang ulama yg menyebarkan agama islam di daerah amuntai khusus nya daerah pakacangan , dan beliau ini tidak memiliki keturunan karena wafat di waktu muda dan maqam beliau ini ada 2 yaitu di daerah desa pakacangan dan padang basar
Pada sekitar abad ke 18 ada sepasang suami istri dari
Padang Basar Amuntai Hulu Sungai Utara yang hidup
rukun,tidak tercatat secara pasti nama mereka,pada
suatu hari mereka pergi ke Martapura yang pada saat
itu merupakan ibukota kerajaan Banjar,mereka
berkunjung kepada sanak keluarganya yang berada di Martapura melalui sungai dengan membawa perahu
atau jukung besar khas Banjar,setelah saling melepas
rindu dengan sanak keluarganya mereka pamit
pulang,tapi alangkah terkejutnya mereka ketika sampai
keperahu,ternyata didalam perahu sudah ada seorang
bayi mungil,sadar bahwa bayi tersebut bukan anak mereka,mereka lalu melaporkannya kepada masyarakat
sekitarnya,tak lama kemudian datanglah seluruh
masyarakat Martapura untuk melihat bayi
tersebut,ternyata dari semua masyarakat itu tak ada
satupun yang mengaku bahwa bayi tersebut bayi
mereka,akhirnya setelah dibicarakan dengan warga setempat,akhirnya bayi tersebut mereka bawa pulang
kekampung halamannya untuk di didik dan dipelihara
seperti anak kandung mereka sendiri,dan diberi nama
Sulaiman,ternyata anak tersebut bukan sembarangan,
banyak keganjilan keganjilan yang terjadi sejak iya
masih bayi,pada saat bayi anak tersebut tidak pernah mau minum susu,ia cuma mau minum air putih,dan
setiap waktu sholat anak tersebut pasti bangun dan
tidak mau tidur,keanehan lain pada saat bulan
Ramadhan tiba dan orang orang melaksanakan
puasa,pada siang hari bayi tersebut tidak mau
minum,kecuali saat tibanya berbuka puasa baru bayi tersebut baru mau minum,hal tersebut terus terjadi
hingga iya semakin besar,makin besar iya makin
banyaklah keanehan keanehan yang terjadi dengan
dirinya,selain dipanggil dengan Datu Sulaiman beliau
juga dipanggil oleh masyarakat dengan nama Datu
Burung,kenapa jadi dipanggil Datu Burung hal ini ada kejadiannya,pada suatu hari beliau yang pada saat itu
masih kanak kanak disuruh oleh orang tuanya untuk
menunggu padi yang pada saat itu tengah dijemur,padi
tersebut dijaga supaya jangan sampai dimakan ayam
dan binatang lainnya,sebagai anak yang patuh dan
berbakti dengan orang tuanya beliau tidak menolak,tapi apa yang terjadi...apa yang dilakukannya membuat
orang tuanya dan seluruh masyarakat kampung
menjadi gempar,ternyata untuk melaksanakan tugas
yang diberikan orang tuanya beliau naik keatas pohon
pisang yang dekat dengan jemuran tersebut,lalu duduk
diatas daun pisang tersebut...anehnya jangankan patah daun pisang tersebut,lenturpun tidak dan sejak beliau
menunggui jemuran tersebut tak seekor ayam pun yang
berani mendekat.
tidak tercatat apakah setelah beliau dewasa,beliau
menyebarkan ilmu ilmunya atau diketahui siapa guru
guru beliau,yang ada cuma kesaktian kesaktian beliau yang masih disimpan masyarakat sampai kini,pada
suatu ketika belanda mau menyerang desa Padang
Basar amuntai dan sekitarnya,karena desa Padang
Basar terletak ditepi sungai Tabalong maka Belanda
melakukan penyerangan melalui sungai dengan kapal
laut,mengetahui hal tersebut masyarakat segera melaporkan hal tersebut kepada Datu Sulaiman
"Datu !!..Belanda mau menyerang kampung kita,mereka
sedang dalam perjalanan menuju ke sini" kata salah
seorang warga melapor.
"Tenang ..mereka takkan sampai kesini" sahut Datu
Sulaiman. "mereka sudah dekat Datu,mari kita siapkan
segalanya"....
"baik..panggil semua kawan kawan kumpul semua.."
setelah semua pejuang berkumpul beliau lalu mengajak
mereka semua ketepi sungai Tabalong,beliau mencari
tali lalu dibentangkan melintang keseberang sungai. "untuk apa tali itu dibentangkan menyeberang
sungai ..Datu" tanya seorang warga.
"untuk menghalangi kedatangan Belanda ke daerah
kita..."sahut Datu Sulaiman.
benar saja ketika Belanda mendekati kampung Padang
Basar mereka melihat bahwa sungai yang mereka arungi buntu,dan akhirnya merekapun berbalik arah
tidak jadi menyerang daerah Padang Basar dan
sekitarnya.
konon kabarnya apabila Datu Sulaiman ingin makan
ikan,ikan yang sedang berkeliaran bebas disungai
beliau ambil begitu saja,tanpa menggunakan alat yang lazim dipakai orang,dan juga bila beliau ingin
(mengurung ( bahasa banjar) menangkap ikan yang
berkeliaran disungai,beliau pancangkan empat buah
bilah atau tongkat berbentuk segi empat maka ikan
yang berada didalam keempat bilah tersebut tidak bisa
lepas. Pada suatu hari beliau menanam pohon Kutapi dimuka
rumah beliau,keada keluarganya beliau berpesan agar
tanaman tersebut dipelihara,kalau pohon Kutapi ini
sudah besar seperti pohon Kapuk atau Randu maka
ajalnya akan tiba,ternyata apa yang dikatakan beliau
benar adanya,pada saat pohon Kutapi tersebut sudah besar seperti pohon Kapuk atau Randu maka wafatlah
beliau.
sebelum beliau wafat beliau sempat berwasiat agar
supaya beliau dimakamkan di Kampung Padang Basar
yang merupakan kampung beliau,tapi ketika wafatnya
oleh pemerintah setempat beliau dimakamkan di kampung Pangacangan,karena tidak sesuai dengan
wasiat maka pada malam harinya salah seorang sanak
keluarganya bermimpi bahwa Datu Sulaiman kembali
berkubur ketempat yang sudah diwasiatkannya yaitu
dikampung Padang Basar,siang harinya kemudian dia
ceritakan kepada keluarga lainnya,oleh keluarga akhirnya disepakati untuk membongkar makam di
kampung Pangacangan dengan disaksikan seluruh
warga,anehnya mayat Datu Sulaiman benar benar tidak
ada dan mereka hanya menemukan buluh barencong
(bambu yang dibikin runcing),sedangkan dikampung
padang Basar muncul onggokan tanah dan onggokan tanah tersebutlah yang diyakini oleh seluruh
masyarakat sebagai makam Datu Sulaiman dan
diziarahi sampai sekarang ...wallahu a'lam bissawab.