Habib Alwi bin Abdullah Alaydrus
Ikhlas sebagai Tujuan…
"Memakmurkan, menghidupkan, dan memelihara agama dengan semata mengharap ridha Allah adalah tujuan dari semua upaya itu, bukan tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi dan sementara." Di sela-sela kepadatan jadwal kunjungan dakwahnya di Indonesia, tokoh muda yang menjadi salah satu sayap dakwah Habib Umar Bin Hafidz, yang menjadi figur kita kali ini, menyempatkan diri bertandang ke kantor alKisah. Dialah Habib Alwi bin Abdullah bin Husein Alaydrus.
Ditemani Habib Hamid Al-Qadri, Habib Alwi berbagi cerita. Meskipun tak banyak yang bisa dikisahkannya, karena sempit dan terbatasnya waktu, tatap muka singkat itu sudah dapat melukiskan secara utuh kedalaman ilmu dan wawasan pemikirannya meski di usianya yang masih sangat muda.
Habib Alwi lahir di Bandar Syihir pada tahun 1979 M/1399 H. Pertama kali belajar ilmu syari’at ia dapatkan dari masjid ke masjid. Ia belajar Al-Quran dari Sayyid Salim bin Sa`id Bada`ud. Selain belajar Al-Quran, ia juga sudah menghafal secara intens beberapa matan penting dalam khazanah keilmuan syari’ah, di antaranya matan kitab karya Syaikh Ibnu Ruslan, dan Aqidah Al-`Awam, karya Syaikh Ahmad Marzuqi. Pada kala itu ia baru menginjak usia kurang dari tujuh tahun.
Setelah itu ia terus menggeluti ilmu-ilmu syari’ah dan banyak menerima ijazah dari guru-guru besar Hadramaut, di antaranya Syaikh Abdul Karim bin Abdul Qadir Al-Mallah, mufti Syihir, Sayyid Ali Masyhur bin Muhammad Bin Hafizh, mufti Tarim, dan Syaikh Salim bin Khamis Al-Habli, ulama besar yang menjadi rujukan banyak ahli ilmu. Dari dan kepada mereka Habib Alwi membaca, antara lain, kitab Al-Yaqut An-Nafis, karya Sayyid Ahmad bin Umar Asy-Syathiri Al-Husaini, dan kitab Tanwir Al-Qulub fi Mu`amalah `Allam Al-Ghuyub, karya Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi.
Setelah Habib Umar Bin Hafidz mendirikan Darul Musthafa pada tahun 1417 H/1996 M, barulah Habib Alwi mengambil silsilah keilmuan dari Habib Umar Bin Hafizh dan ulama-ulama terkemuka lainnya yang ikut terlibat di Darul Musthafa.
Selain menyelami ilmu di Darul Musthafa, Habib Alwi juga telah menamatkan studi formal strata satunya dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Hadhramaut, Fakultas Tarbiyah, tahun 2002.
Saat ini, dalam usianya yang masih sangat muda, Habib Alwi dipercaya mengemban jabatan ketua Divisi Halaqah dan Kajian Ilmu Darul Musthafa, yang membawahkan semua halaqah keilmuan yang berpusat di masjid-masjid, baik di dalam maupun di luar Hadhramaut, yang berada di bawah payung Darul Mushthafa.
Yang menarik, dalam setiap halaqah yang diadakan di masjid-masjid tersebut terdapat metodologi dan kurikulum tersendiri dengan materi kitab-kitabnya. Di antara kitab-kitab yang menjadi materi pokoknya adalah kitab Risalah Al-Jami’ah, Safinah An-Najah, Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyah, Matn Abi Syuja’, Al-Yakut An-Nafis, Umdah As-Salikin, Aqidah Al-`Awam, Al-`Aqidah (karya Imam Haddad), Durus At-Tauhid, Jauhar At-Tawhid, Al-Ajurumiyah, Mutammimah Al-Ajurumiyah, Qatr An-Nada, Mukhtar Al-Ahadits, Al- Arba’in An-Nawawiyyah, Nur Al-Iman, Mukhtar Riyad Ash-Shalihin.
Masa belajar pada halaqah-halaqah tersebut selama dua belas tahun, tiap-tiap tingkatan mamakan waktu selama satu tahun. Selain itu, pada halaqah-halaqah yang ada diterapkan pula ujian-ujian secara berkala berdasarkan kurikulum yang ada.
Satu hal lagi yang perlu ditiru, semua kegiatan pembelajaran yang padat dan berbobot tersebut sama sekali tidak dipungut biaya. Bahkan, "Habib Umar Bin Hafidz bila memberikan ceramah atau taushiyah di suatu tempat hanya diberi kopi," ujar Habib Ubaidillah Al-Habsyi, salah satu alumnus Darul Musthafa yang turut hadir di alKisah pada saat itu, menceritakan pengalamannya selama berada di Hadhramaut. Demikianlah contoh yang diberikan oleh Habib Umar dalam mendidik umat dan mengajak mereka ke jalan Allah. Bilapun ada peserta halaqah yang memberi infaq, itu pun hanya beberapa dan sangat kecil nilainya, sekitar 50 sampai 100 ribu.
"Dengan keikhlasan, kegiatan semacam itu akan terus dilaksanakan, baik ada dana maupun tidak. Karena, memakmurkan, menghidupkan, dan memelihara agama dengan semata mengharap ridha Allah adalah tujuan dari semua upaya itu, bukan tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi dan sementara," kata Habib Alwi.
Selain sebagai ketua Halaqah Ilmu Darul Musthafa, ia juga aktif sebagai salah satu ketua forum kajian keilmuan syari’ah di kota Syihir. Dan meski kesibukannya sangat padat dalam dakwah dan keilmuan, Habib Alwi termasuk tokoh muda yang sangat produktif menulis karya-karya yang dibutuhkan umat. Di antara yang sudah ditulisnya adalah kitab Syarh Al-Warif `ala Al-Mukhtashar Al-Lathif, yang merupakan syarah atas kitab yang lebih dikenal dengan nama Al-Muqaddimah Al-Hadhramiyyah, karya Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Bafadhal, Irsyad Al-Anam ila Ahkam As-Salam, Risalah At-Tilifun wa Ahkamuh, Ad-Dalail Al-Wudhuh fi Qunut Ash-Shubh, Al-Hamzah fi Sharf, Syarh Al-Qawl Al-Mubin fi Tajhiz Amwat Al-Muslimin.
Ada satu pengalaman ruhani yang sangat menarik bagi Habib Alwi, sebagaimana penuturan Habib Hamid Alqadri menukil dari keterangan Habib Alwi. Habib Alwi menceritakan, tatkala menulis kitabnya yang berjudul Al-Manhal Al-Warif, yang merupakan syarah atas kitab Al-Mukhtashar Al-Latif, ia mendapat banyak kritikan dari beberapa orang yang menganggap bahwa mengarang kitab seperti itu hanya membuang energi, sebab kitab-kitab semacam itu telah banyak ditulis oleh orang lain.
Kata-kata itu spontan membuatnya patah semangat, dan ia pun membiarkan kertas-kertas yang berisikan tulisan kitab Al-Manhal Al-Warif tersebut berserakan begitu saja, yang waktu itu masih belum rampung. Dalam keadaan sedih dan bingung itu, Habib Alwi merebahkan diri di antara lembaran-lembaran kertas tersebut hingga akhirnya terlelap.
Dalam kondisi seperti itu, Habib Alwi bermimpi. Ia mendengar telepon berdering dan ia pun segera mengangkatnya dan menanyakan siapa yang menelepon.
"Siapa Anda?"
"Umar Bin Hafidz! Mana kitab Al-Manhal Al-Warif yang engkau tulis itu, ayo baca! Saya ingin mendengarnya.”
Kontan kejadian itu membuatnya bingung dan ia segera mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan tadi.
Sementara ia masih dalam kondisi bingung, tiba-tiba telepon berdering kembali dan Habib Alwi mengangkatnya kembali.
"Siapa Anda?”
"Abdullah bin Abdurrahman Bafadhal (pengarang kitab Al-Mukhtashar). Coba engkau baca kitabmu itu!"
Habib Alwi semakin bingung, dan telepon kembali berdering.
Setelah telepon diangkat dan ditanyakan, penelpon itu menjawab bahwa ia adalah Muhammad bin Idris Asyafi`i (Imam Syafii). Imam Syafi`i juga meminta hal yang sama.
Kepanikan Habib Alwi semakin bertambah tatkala untuk kesekian kalinya telepon berdering. Seperti sebelumnya ia pun mengangkat telepon tersebut dan bertanya, "Anda siapa?"
"Kakekmu, Muhammad SAW. Mana kitab Al-Manhal Al-Warif yang engkau tulis, ayo baca! Aku ingin mendengarnya."
Seketika Habib Alwi terbangun dan menata kembali lembaran-lembaran yang tadinya berserakan.
Keesokan harinya Habib Alwi berjumpa salah seorang shalih yang tinggal di Syihir. Dengan tanpa diduga-duga, orang itu menegor dirinya.
"Alwi, kenapa engkau menunggu sampai Nabi menegurmu dalam melanjutkan karanganmu itu?"
Habib Alwi sangat kaget dengan pernyataan orang itu, sebab mimpi yang dialaminya malam itu tidak diceritakan pada siapa pun.
Maka setelah kejadian itu, semangat Habib Alwi kembali bangkit untuk merampungkan kitab tersebut.
Setelah penulisan kitab itu selesai dan ia pindah ke kota Tarim, ia bertemu Habib Salim Asy-Syathiri. Ia pun memperlihatkan hasil karyanya itu kepada Habib Salim. Dalam perbincangan itu, ia ceritakan mimpi yang pernah dialaminya.
Mendengar semua itu, Habib Salim menganjurkan agar mimpi itu juga dituliskan pada pembukaan kitab tersebut. Namun, saran itu belum bisa ia lakukan karena beberapa hal.
Selama kurang lebih 17 hari berkunjung di Indonesia, Habib Alwi mengadakan safari dakwah di beberapa kota besar di Indonesia. Di Jakarta, Habib Alwi mengikuti semua majelis yang dikunjungi Habib Umar Bin Hafidz, di samping menghadiri halaqah yang diadakan dan diprakarsai oleh Telkom Pusat di Jln. Gatot Subroto. Di Situbondo, Habib Alwi menjadi pembicara pada seminar “Aqidah Ahlussunnah” yang diselenggarakan Universitas Al-Ibrahimi, dilanjutkan dengan pertemuan di Masjid Awwabin, Bondowoso. Setelah itu ia menghadiri haul Imam Faqih Muqaddam, Muhammad bin Ali Al-Husaini, di majelis Tarekat Alawiyyah Naqsyabandiyyah wa Muhsiniyyah, Bondowoso, pimpinan Habib Haidarah bin Muhsin Al-Hinduan, alumnus angkatan pertama Darul Musthafa. Kemudian Habib Alwi melanjutkan safari dakwahnya ke Banjarmasin, Palangkaraya, Sampit, dan Pangkalan Bun dalam rangka menghadiri Haul Imam Faqih Muqaddam.
Setelah itu ia melanjutkan lagi perjalanannya ke Ketapang dan Pontianak untuk mengikuti haul Imam Al-Muhajir, Ahmad bin Isa Al-Husaini.
Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Habib Alwi mendapat undangan untuk menjadi narasumber program dakwah di stasiun TV Banjar.
Dalam dakwah, Habib Alwi memiliki pandangan yang tidak berbeda dengan pendahulu dan salah satu guru utamanya, Habib Umar Bin Hafidz. At-Tawassuth, moderat, dalam dakwah adalah jalan paling utama menurutnya dalam meniti jalur dakwah, mengajak manusia ke jalan Allah.
Menurut Habib Alwi, tidak seorang pun diperkenankan oleh syari’at untuk memaksakan seseorang untuk melazimi hukum syari’at, kecuali seorang hakim yang secara sah diangkat oleh pemerintah. Karena, bila setiap orang merasa berhak untuk memaksa orang lain, pastilah setiap orang akan merasa berhak menghakimi orang lain tatkala orang lain itu berbeda pandangan dengan pemikirannya. Bila hal ini terjadi, bukan amar ma`ruf nahi munkar yang diperintahkan syari’at yang ada, melainkan amar wan nahyu bil munkar, memerintah dan melarang yang dilakukan dengan jalan kemunkaran, itu yang terjadi. Dan itu jelas dilarang oleh syari’at.
Wallahu`alam bish-shawab.
Jumat, 27 November 2015
Habib alwi bin abdullah alaidrus
Jumat, 20 November 2015
Habib ali ridho bin musa al kadzim KHURASAN
Habib Ali Ridha bin Musa Al-Kadhim
Beliau dikenali sebagai salah seorang pemuka dan ulama Ahlil Bait Nubuwah yang besar pengaruhnya di kalangan Syiah. Beliau hidup semasa Khalifah Harun Rasyid. Banyak orang yang menyaksikan karamah beliau. Beliau pernah berkata kepada seorang yang sihat: “Bersiaplah untuk menghadapi kematianmu”. Setelah tiga hari orang tersebut diberitakan meninggal dunia.
Al Hakim meriwayatkan dari Muhammad bin Isa bin Abi HuFaib: “Aku pernah bermimpi melihat Rasulullah s.a.w. di suatu gedung yang biasa kaum Haji singgah di tempat itu ketika tiba di kota kami. Di gedung itu kulihat ada sebuah piring yang berisi buah kurma. Kulihat Rasulullah memberiku delapan belas buah kurma. Setelah dua puluh hari setibanya dari Madinah Ali Ridha singgah di tempat itu. Penduduk kota kami datang menyambutnya. Akupun datang menemui beliau. Kulihat beliau sedang duduk di tempat yang diduduki oleh Rasulullah seperti yang kulihat dalam mimpiku. Sedangkan di hadapan beliau ada sebuah piring yang berisi buah kurma sama seperti yang kulihat di dalam mimpiku. Kemudian beliau memberiku segenggam buah kurma. Ketika kuhitung jumlahnya sama berjumlah lapan belas buah. Aku berkata: “Tambahkan sedikit lagi”. Jawab beliau: “Jika Rasulullah waktu itu menambahkan pasti aku tambahkan padamu”.
Dalam kitab Al Itihaf Bi-Hubbil Asyraf disebutkan: “Waktu Khalifah Ma’mun, hendak menjadikan Ali Ridha sebagai penggantinya kelak sebahagian bawahan Khalifah Ma’mun tidak senang. Mereka takut kalau kekuasaan itu akan berpindah dari keluarga Banil Abbas kepada keluarga Bani Fatimah. Orang-orang yang tidak setuju itu ingin menunjukkan pembangkangannya pada Ali Ridha. Biasanya jika Ali Ridha hendak masuk ke dalam istana orang-orang yang berada dalam istana akan berdiri untuk memberi salam pada beliau terlebih dahulu. Kemudian mereka membukakan tabir yang memisahkan tempat bersemayamnya khalifah dengan ruangan luar. Pada suatu hari pegawai-pegawai istana yang tidak senang pada beliau bersepakat untuk tidak berdiri menghormat beliau dan tidak akan membukakan tabir agar beliau tidak dapat masuk ke dalam majlis khalifah. Di suatu pagi ketika pegawai-pegawai istana sedang duduk tiba-tiba datanglah Ali Ridha hendak masuk ke dalam majlis khalifah seperti biasanya. Anehnya waktu Ali Ridha masuk ke ruang itu tidak seorangpun dari mereka yang tidak bangkit untuk menghormatinya dan membukakan tabir. Setelah Ali Ridha masuk ke dalam majlis khalifah mereka saling menyalahkan apa yang telah dilakukan masing-masing. Kemudian mereka bersepakat sekali lagi untuk tidak membukakan tabir jika Ali Ridha datang ke dalam istana. Keesokan harinya waktu Ali Ridha datang seperti biasanya mereka hanya memberi salam saja pada beliau tanpa membukakan tabir. Dengan izin Allah berhembusanlah angin kencang dalam istana sehingga tabir itu tersingkap dan Ali Ridha pun masuk dalam istana dengan aman. Demikian pula waktu Ali Ridha akan pulang berhembuslah angin dari arah dalam menyingkapkan tabir sehingga Ali Ridha dapat melalui dengan santai.
Melihat kejadian itu salah seorang dari mereka berkata: “Sungguh orang ini mempunyai kedudukan tinggi disisi Allah dan ia selalu mendapatkan pertolongan dari Allah. Lihatlah bagaimanakah datangnya angin sekencang itu yang dapat menyingkapkan tabir ketika beliau datang dan pulang. Kerana itu bertaubatlah kamu pada Allah atas perbuatan kamu”.
Alhasan bin Musa Al Khadhim bercerita: “Ketika kami sedang berada di majlis Ali Ridha ada seorang yang bernama Ja’far bin Umar Ali Alawi melalui sedangkan pakaiannya compang-camping dan mukanya kusut. Melihat keadaannya yang sangat menyedihkan itu sebahagian kami ada yang melihatnya dengan pandangan jijik. Ali Ridha berkata: “Dalam waktu dekat orang itu akan kamu lihat dalam keadaan kaya, banyak pelayan yang mengiringkannya dan keadaannya pun akan sedap untuk dipandang”. Belum sebulan dari ucapan beliau, orang tersebut diangkat sebagai gabenor dan kedudukannya pun berubah. la jadi seorang kaya raya, jika berjalan diiringkan oleh seluruh pelayan dan pembesar-pembesar lainnya. Ketika ia berjalan kami bangun untuk rnenghormatnya dan mempersilakannya singgah”.
Musa bin Marwan berkata: “Aku pernah melihat Ali Ridha berada di masjid Madinah sedangkan khalifah Harun Rasyid berkhutbah. Beliau berkata: “Ketahuilah bahawa aku dan ia (Harun Rasyid) kelak akan dikuburkan berdampingan”.”
Hamzah bin Ja’far Al Arjani berkata: “Suatu hari kulihat Khalifah Harun Rasyid keluar dari salah satu pintu Masjidil Haram, sedangkan Ali Ridha keluar dari pintu yang lain. Beliau berkata sambil menunjukkan ucapannya itu kepada Khalifah Harun ar-Rasyid: “Wahai orang yang berjauhan tempatnya dengan aku kelak akan berdampingan dalam kubur, kelak kota Thousia (Iran) akan mendekatkan aku dengannya. Apa yang diucapkan oleh beliau ternyata benar-benar terjadi. Ketika Khalifah Harun sedang dalam suatu perjalanannya untuk berhijad beliau meninggal dekat kota Thousia. Jenazahnya dimakamkan dekat kuburan Ali Ridha di Thousiah”.
Husin bin Yasarah berkata: “Pernah Ali Ridha berkata padaku: “Kelak Abdullah bin Harun Rasyid akan membunuh saudaranya Muhammad bin Harun Rasyid”. Tanyaku pada beliau: “Apakah hal itu akan terjadi?” Jawab beliau: “Ya”. Ternyata apa yang diucapkan beliau benar-benar berlaku.”
Ali Ridha wafat di kota Thousiah (Khurasan) di akhir bulan Safar tahun 203 H.
Habib ali bin syech abu bakar bin salim PALEMBANG
AL HABIB ‘ALI BIN SYECH ABU BAKAR BIN SALIM (PANGERAN SYARIF ‘ALI – KESULTANAN PALEMBANG)
Al Habib lahir dari pasangan penuh berkah Habib Abu bakar bin Sholeh B.S.A. dan Syarifah Nur binti Ibrohim bin Yahya, sejak kecil beliau dididik langsung oleh kedua orangtuanya dengan pendidikan agama yang terbaik. Ayah beliau, Habib Abu Bakar, yang lahir di kota 'Inat Hadromaut adalah cucu se orang Wali Besar yaitu Habib ‘Ali bin Ahmad B.S.A., salah satu murid Al Imam Al Quthub Al Habib ‘Abdullah bin Alwi bin Muhammad Al Haddad Shohiburrothib. Tradisi tarbiyah (pendidikan) keilmuan yang diterima Habib ‘Ali bin Ahmad dari gurunya ini dan guru-gurunya yang lain, serta dari generasi habaib sebelumnya, beliau pegang teguh dan diteruskannya kepada para muridnya, keluarganya, anak-cucunya, dan begitu seterusnya. Demikianlah, hingga sampailah kepada salah seorang cucunya yang bernama Abu Bakar, yang kemudian meneruskan tarbiyah itu kepada putranya yang bernama ‘Ali, yang di kemudian hari dikenal sebagai Pangeran Syarif ‘Ali.
Pangeran Syarif ‘Ali atau Habib ‘Ali bin Abu Bakar bin Sholeh bin ‘Ali bin ‘Ahmad Bin Syech Abu Bakar bin Salim Asseggaf, lahir di kota Palembang, pada tahun 1208 H/1790 M, atau lebih kurang sekitar 220 tahun yang lalu. Pada masa itu, Kesultanan Palembang Darussalam dipimpin seorang sultan yang sholeh, yaitu Sultan Muhammad Bahauddin, putra sultan terdahulu, Ahmad Najamuddin I.
Gelar Pangeran yang disandang beliau adalah karena kedekatan dirinya dengan keluarga besar Kesultanan Palembang Darussalam, baik secara nasab, pertalian pernikahan, maupun kedudukannya sendiri di dalam lingkungan pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam. Nenekn beliau dari sebelah ibu adalah cucu Sultan Mahmud Badaruddin Sedangkan salah seorang istrinya, yang bernama Laila atau bergelar Ratu Maliya adalah putri Sultan Husein Dhiauddin.
Ibundanya yaitu Syarifah Nur binti Ibrahim Bin Yahya, adalah seorang wanita sholehah putri seorang Al Allamah Habib Ibrohim bin Zein bin Yahya,beliau adalah Ahli Tasawwuf. Pangeran Syarif ‘Ali mendapatkan banyak pelajaran dari ibunya sendiri di samping tambahan pelajaran lainnya dari para paman beliau, seperti Habib ‘Abdullah bin Ibrohim dan Habib Syech bin Ibrohim, serta dari banyak ‘ulama lainnya pada masa itu.
Diriwayatkan, beliau memiliki koleksi hingga sekitar seribu kitab. Untuk ukuran saat itu, jumlah sebanyak itu tentu sangat spektakuler. Ini menunjukkan kecintaan-nya pada ilmu sekaligus keluasan ilmu beliau yang mendalam.
Masa kecil beliau, sebagaimana putra-putri keluarga ‘Alawiyyin lainnya, selalu berada dalam lingkungan pendidikan agama, baik dari orangtuanya sendiri maupun dari para guru. Disebutkan, sejak kecil kecerdasannya terlihat menonjol dan beliau memiliki banyak teman sepergaulan yang berpendidikan. Bersama orang tuanya, Pangeran Syarif ‘Ali sering mengunjungi kesultanan, hingga
beliau pun memiliki kedekatan dengan sultan kala itu.
Menginjak remaja, Pangeran Syarif ‘Ali giat melakukan pelayaran niaga, terutama ke Kalimantan dan Jawa. beliau arungi lautan yang luas dengan kapal kayu pinisi sederhana, di tengah ancaman badai besar dan gelombang laut yang kerap datang menghadang. Belum lagi ancaman kehadiran kawanan bajak laut yang sangat marak pada saat itu. Ganasnya alam telah membentuk kepribadiannya yang dikenal sebagai seorang yang gagah berani, teguh pendirian, tidak banyak bicara, dan bersikap tegas dalam menangani persoalan.
Suatu saat, Sultan Husein Dhiauddin meminta beliau menyelesaikan sebuah misi khusus kesultanan ke Pulau Kalimantan. Maka karena berhasil menyelesaikan misi tersebut itulah beliau, yang masih dalam usia relatif muda, dipercaya Sultan memegang jabatan bendahara kesultanan dan dinikahkan dengan salah satu putrinya, Raden Ayu Maliya.
Dari pernikahannya dengan putri sultan ini, beliau mendapat putra bernama Hasan, yang setelah dewasa memutuskan untuk hijrah ke negeri lain. Berbekal sejumlah uang dan wasiat pemberian ayah beliau, berangkatlah Habib Hasan bin Pangeran Syarif ‘Ali dengan kapal ayahbeliau berlayar ke arah timur. Namun tidak sampai ke tujuan, karena kapalnya karam di Selat Bangka atau Belitung dan dia selamat mendarat di suatu kampung nelayan.
Dari buku Sejarah Daerah Sumatera Selatan (Depdikbud, 1991-1992), disebutkan, masjid yang pertama ada di Pulau Belitung didirikan oleh Sayyid Hasan bin Syech Abu Bakar. Belum diketahui, apakah nama ini ada hubungannya dengan putra Pangeran Syarif ‘Ali yang juga bernama Hasan.
Pangeran Syarif ‘Ali, dalam usia yang relatif muda, telah dipercaya memegang jabatan bendahara kesultanan. Namun beliau hadir di lingkungan istana pada masa-masa pahit yang dialami keluarga sultan.
Dalam suasana kebencian kepada Belanda setelah kesultanan dilumpuhkan dan kemudian dihapuskan, terjadilah keresahan di tengah-tengah rakyat.
Mengantisipasi hal ini, sejalan pula dengan politik kolonial, setelah meneliti beberapa pilihan pribadi, di antaranya yang dinilai paling berpengaruh di kalangan keluarga kesultanan dan di kalangan masyarakat umum, Belanda mengangkat Pangeran Syarif ‘Ali sebagai Pegawai Tinggi Pembantu Residen untuk menjalin hubungan dengan semua golongan masyarakat.
Pangeran Syarif ‘Ali merasakan hal ini sebagai sebuah dilema. Kekuatan tentara kesultanan telah dilumpuhkan. Dapat ditebak, bila beliau menolak, hukuman seperti yang diterima ayah mertuanya juga akan ia dapat. Bila diterima, beliau hanya menjadi alat musuh, yang waktu itu sangat memerlukannya.
Mempertimbangkan banyak hal, sosok yang selalu tak lepas dari sorban dan jubah itu akhimya memutuskan untuk menerima jabatan tersebut, dengan catatan, ia tak berkenan duduk di meja kerjanya di kantor Residen. Dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari, beliau pun ingin dibantu oleh putra beliau Abu Bakar, atau dikenal dengan Pangeran Bakri.
Meski tampaknya tidak menyukai kehadiran Pangeran Syarif ‘Ali, yang selalu mengenakan pakaian ke’ulamaannya, Residen Belanda saat itu memerlukan pengaruhnya. Maka, persyaratan itu pun dapat diterimanya. L.W.C. van den Berg menyebutkan, Belanda telah menggunakan pengaruhnya dan pengaruh putranya selama hampir setengah abad. Sebaliknya, Pangeran Syarif ‘Ali sebenarnya tak sudi berhubungan dengan mereka. Karenanya, uang gajinya, yang tergolong amat besar pada saat itu, selama ber-puluh-puluh tahun lamanya, tak satu sen pun beliau ambil.
Pangeran Syarif ‘Ali wafat pada 27 Muharram 1295 H/1877 M dalam usia 87 tahun di kota Palembang. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga, yaitu di Gubah 3 ilir Palembang.
Kedudukannya dalam hal keilmuan digantikan oleh putra beliau, Habib Muhammad Mahmud. Sedangkan dalam hal aktivitas beliau di kesultanan, digantikan oleh putra beliau, Habib Abu Bakar, atau dikenal dengan Pangeran Bakri.
Kamis, 19 November 2015
Gara2 lalat masuk surga dan neraka
Surga dan neraka merupakan hak prerogatif
Allah SWT kepada hamba-Nya. Sang maha
pencipta memberikan ujian kepada manusia
di dunia untuk meraih salah satu dari dua
tempat tersebut.
Untuk meraih surga, manusia berlomba-
lomba melakukan ibadah yang dianggap
bernilai pahala besar. Namun melakukan
amal kebaikan juga tidak membuat
seseorang dijamin mendapat tempat indah
tersebut.
Sebuah riwayat menceritakan tentang
wanita yang taat ibadah dijamin masuk
neraka karena menyiksa seekor kucing, ada
juga kisah tentang wanita tuna susila yang
masuk surga karena menolong seekor
anjing.
Ternyata makhluk Allah yang lain juga bisa
membawa manusia menuju surga dan
neraka. Seperti kisah tentang dua orang
yang masuk surga dan neraka karena seekor
lalat berikut ini. Salah satu dari mereka
masuk neraka, sementara satunya lagi
menikmati indahnya. Bagaimana kisahnya?
Berikut ulasannya.
Ternyata kebaikan atau kejahatan yang kita
nilai sepele bernilai besar menurut Allah.
Sementara kebaikan yang kita anggap besar
justru kecil di hadapan Allah.
Kisah ini ditulis oleh Imam Ahmad bin Hnibal
dalam kitab yang berjudul Az Zuhud. Ia
menulis sebuah riwayat yang disampaikan
sahabat Salman Al Farisi Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda
yang artinya, “Ada seorang lelaki yang
masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada
pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara
lalat.”
Para sahabat yang bingung kemudian
bertanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi
wahai Rasulullah?”
“Ada dua orang lelaki,” jawab Rasulullah,
“yang melewati suatu kaum yang memiliki
berhala.Tidak ada seorangpun yang
diperbolehkan melewati daerah itu
melainkan dia harus berkorban (memberikan
sesaji) sesuatu untuk berhala tersebut.
Mereka pun mengatakan kepada salah satu
di antara dua lelaki itu, “Berkorbanlah!”
Ia pun menjawab, “Aku tidak punya apa-apa
untuk dikorbankan.”
Rasulullah meneruskan, mereka mengatakan,
“Berkorbanlah, walaupun hanya dengan
seekor lalat!”. Orang tadi kemudian
menangkap lalat dan mengorbankannya.
Karena pengorbanan tersebut mereka pun
memperbolehkan dia untuk lewat dan
meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah,
ia masuk neraka.
Mereka kemudian memerintahkan satu orang
lagi untuk berkorban serupa seperti yang
sebelumya. “Berkorbanlah!, Ia menjawab,
“Tidak pantas bagiku berkorban untuk
sesuatu selain Allah ‘azza wa jalla.”
Akhirnya, mereka pun memenggal lehernya.
Karena itulah, ia masuk surga.
Demikianlah keadaan dua orang manusia
yang nasibnya berbeda karena salah satunya
berujung di neraka selama-lamanya, dan
yang lainnya berujung di surga selama-
lamanya. Padahal, keduanya sebelumnya
adalah sama-sama seorang Muslim.
Kisah serupa juga tertulis oleh Syekh
Nawawi al-Bantani dalam Nashaihul ‘Ibad.
Ia menulis kisah seseorang yang berjumpa
Imam al-Ghazali dalam sebuah mimpi. Imam
al-Ghazali adalah ulama abad pertengahan
dengan reputasi kealiman yang tak
diragukan. Ia merupakan cendekiawan
muslim yang komplet. Ia menguasai disiplin
filsafat, soal teks-teks agama yang rumit
dna sangat disiplin ibadah.
“Bagaimana Allah memperlakukanmu?”
tanya orang tersebut.
Imam al-Ghazali lantas menceritakan bahwa
saat berhadapan dengan Allah SWT ia
ditanya bekal yang harus diserahkan kepada
Allah. Ia kemudian mengatakan dengan
menyebut satu per satu seluruh prestasi
ibadah yang pernah ia jalani di kehidupan
dunia. Namun Allah SWT menolak itu
semua.
“Aku (Allah) menolak itu semua!” Ternyata
Allah menampik berbagai amalan Imam al-
Ghazali kecuali satu kebaikannya ketika
bertemu dengan seekor lalat.
Suatu saat Imam al-Ghazali tengah sibuk
menulis kitab hingga seekor lalat
mengusiknya barang sejenak. Lalat “usil” ini
haus dan tinta di depan mata menjadi
sasaran minumnya. Sang Imam yang merasa
kasihan lantas berhenti menulis untuk
memberi kesempatan si lalat melepas
dahaga dari tintanya itu.
“Masuklah bersama hamba-Ku ke sorga,”
kata Allah kepada Imam al-Ghazali dalam
kisah mimpi itu.
Kisah di atas tentu saja menjadi tamparan
bagi golongan yang biasanya
membanggakan pencapaiannya dalam
beribadah. Karena sebenarnya yang bisa
menilai ibadah seseorang adalah Allah SWT
bukan diri sendiri atau manusia lain.
Segenap prestasi ibadah dan kebenaran
agama yang disombongkan bisa jadi justru
berbuah kenistaan. Maka janganlah pernah
menyepelekan amal kebaikan walaupun
kecil.Demikian juga dengan keburukan meski
kita anggap kecil, karena bisa saja hal itu
yang menjerumuskan orang ke neraka.
Senin, 09 November 2015
Wasiat mbah arwani kudus
WASIAT MBAH KH. ARWANI AMIN AL-QUDSI
(KUDUS)
1. Dadi wong sing iso syukur (Jadi orang harus
bisa bersyukur).
2. Nek ngaji jo dipekso sing penting usaha (Kalau
belajar jangan terlalu dipaksakan, yang penting
usaha).
3. Jo ngejar cepet, ngejaro lanyah (Jangan
mengejar cepatnya, tapi kejarlah penguasaan).
4. Eleng, cobone wong dewe-dewe (Ingat, cobaan
seseorang itu sendiri-sendiri).
5. Saben dino dungakno kyaimu (Setiap hari
doakanlah guru/kyaimu).
6. Jo cepet sambat kabeh neng kene cobo
(Jangan mudah mengeluh, semua mengalami
cobaan).
7. Maqamku diziyarahi (Makamku ziarahilah).
8. Jo kakean guyon (Jangan kebanyakan
bergurau).
9. Nek ibadah sing istiqomah (Kalau beribadah
istiqamahlah).
10. Sholate sing ati-ati (Shalatnya yang hati-
hati).
11. Nek hajat sing ati-ati (Kalau berhajat yang
hati-hati).
12. Sing eman karo wong tuwo (Yang murah hati
terhadap orangtua).
13. Jo podo sembrono (Jangan mudah tergesa-
gesa).
14. Sopo gelem obah bakal mamah (Siapa yang
mau bergerak jangan takut tidak makan).
15. Aku wekas karo sliramu: wiwit mongso iki
sliramu saben-saben deres supoyo tartil. Mergo
senejan mung setitik nanging tartil iku luwih
utama lan manfaat tinimbang olih akeh nanging
ora tartil. (Aku berpesan kepadamu: mulai
sekarang setiap kali kamu ‘deres’ supaya ‘tartil’.
Karena meskipun dapat sedikit tapi tartil itu lebih
utama dan bermanfaat daripada dapat banyak
tapi tidak tartil).
16. Mulo wiwit saiki dibiasaaken sing tartil
senejan mung olih sa’juz rong juz sedino.
Pengendikane sohabat Abdulloh bin Abbas
mengkene “La an aqro-a surotan urottiliha
ahabbu ilayya min an aqro-al qur-aana
kullahu” (Makanya mulai dari sekarang
dibiasakan yang tartil walau hanya dapat satu
atau dua juz sehari. Sabda sahabat Abdullah bin
Abbas begini: “Jika aku membaca satu surat
dengan tartil adalah lebih aku sukai daripada
membaca keseluruhan al-Quran.”).
17. Kejobo iku sing wis kelakon tur nyoto, yen
kulinone deres tartil iku sa’mongso-mongso
kepengin deres rikat temtu biso. Nanging
sebalike yen biasane deres rikat bahayane iku
yen deweke dikon deres tartil temtu ora biso
jalan. Mulo sliramu yen ati-ati yen deres. Cukup
semene wasiatku. (Selain itu hal yang sudah
nyata, jika terbiasa deres tartil sewaktu-waktu
ingin deres cepat tentu bisa. Tapi sebaliknya jika
terbiasa deres cepat bahayanya jika disuruh
deres tartil tentu tidak bisa jalan. makanya kamu
hati-hati kalau deres. Cukup sekian wasiatku).
(Tanda tangan beliau).
Keterangan:
• “Nderes” adalah kegiatan santri untuk menjaga
hafalan al-Qurannya dengan cara mengulang-
ulang setiap hari secara kontinyu, atau istilah
Arabnya; Muraja’ah atau Takrir.
• “Tartil” adalah cara membaca al-Quran sesuai
dengan tata aturan Tajwid beserta
memperhatikan Makharijul Ahruf, sehingga tidak
terjadi kesamaran kata ataupun hilangnya kata-
kata tertentu dalam bacaan. Dan membaca tartil
ini relatif susah bila dilafalkan dengan tempo
cepat, harus pelan.
• Foto: KH. M. Arwani Amin dan KH. Hisyam
Hayat.
Wasiat mbah arwani kudus
WASIAT MBAH KH. ARWANI AMIN AL-QUDSI
(KUDUS)
1. Dadi wong sing iso syukur (Jadi orang harus
bisa bersyukur).
2. Nek ngaji jo dipekso sing penting usaha (Kalau
belajar jangan terlalu dipaksakan, yang penting
usaha).
3. Jo ngejar cepet, ngejaro lanyah (Jangan
mengejar cepatnya, tapi kejarlah penguasaan).
4. Eleng, cobone wong dewe-dewe (Ingat, cobaan
seseorang itu sendiri-sendiri).
5. Saben dino dungakno kyaimu (Setiap hari
doakanlah guru/kyaimu).
6. Jo cepet sambat kabeh neng kene cobo
(Jangan mudah mengeluh, semua mengalami
cobaan).
7. Maqamku diziyarahi (Makamku ziarahilah).
8. Jo kakean guyon (Jangan kebanyakan
bergurau).
9. Nek ibadah sing istiqomah (Kalau beribadah
istiqamahlah).
10. Sholate sing ati-ati (Shalatnya yang hati-
hati).
11. Nek hajat sing ati-ati (Kalau berhajat yang
hati-hati).
12. Sing eman karo wong tuwo (Yang murah hati
terhadap orangtua).
13. Jo podo sembrono (Jangan mudah tergesa-
gesa).
14. Sopo gelem obah bakal mamah (Siapa yang
mau bergerak jangan takut tidak makan).
15. Aku wekas karo sliramu: wiwit mongso iki
sliramu saben-saben deres supoyo tartil. Mergo
senejan mung setitik nanging tartil iku luwih
utama lan manfaat tinimbang olih akeh nanging
ora tartil. (Aku berpesan kepadamu: mulai
sekarang setiap kali kamu ‘deres’ supaya ‘tartil’.
Karena meskipun dapat sedikit tapi tartil itu lebih
utama dan bermanfaat daripada dapat banyak
tapi tidak tartil).
16. Mulo wiwit saiki dibiasaaken sing tartil
senejan mung olih sa’juz rong juz sedino.
Pengendikane sohabat Abdulloh bin Abbas
mengkene “La an aqro-a surotan urottiliha
ahabbu ilayya min an aqro-al qur-aana
kullahu” (Makanya mulai dari sekarang
dibiasakan yang tartil walau hanya dapat satu
atau dua juz sehari. Sabda sahabat Abdullah bin
Abbas begini: “Jika aku membaca satu surat
dengan tartil adalah lebih aku sukai daripada
membaca keseluruhan al-Quran.”).
17. Kejobo iku sing wis kelakon tur nyoto, yen
kulinone deres tartil iku sa’mongso-mongso
kepengin deres rikat temtu biso. Nanging
sebalike yen biasane deres rikat bahayane iku
yen deweke dikon deres tartil temtu ora biso
jalan. Mulo sliramu yen ati-ati yen deres. Cukup
semene wasiatku. (Selain itu hal yang sudah
nyata, jika terbiasa deres tartil sewaktu-waktu
ingin deres cepat tentu bisa. Tapi sebaliknya jika
terbiasa deres cepat bahayanya jika disuruh
deres tartil tentu tidak bisa jalan. makanya kamu
hati-hati kalau deres. Cukup sekian wasiatku).
(Tanda tangan beliau).
Keterangan:
• “Nderes” adalah kegiatan santri untuk menjaga
hafalan al-Qurannya dengan cara mengulang-
ulang setiap hari secara kontinyu, atau istilah
Arabnya; Muraja’ah atau Takrir.
• “Tartil” adalah cara membaca al-Quran sesuai
dengan tata aturan Tajwid beserta
memperhatikan Makharijul Ahruf, sehingga tidak
terjadi kesamaran kata ataupun hilangnya kata-
kata tertentu dalam bacaan. Dan membaca tartil
ini relatif susah bila dilafalkan dengan tempo
cepat, harus pelan.
• Foto: KH. M. Arwani Amin dan KH. Hisyam
Hayat.
Minggu, 08 November 2015
Ijazah kyai subki BAMBU RUNCING
Misteri Bacaan Kyai Subkhi “Bambu Runcing”,
Di masa revolusi kemerdekaan, dikenal sosok
yang sangat populer yakni Kyai Subkhi atau Kyai
Bambu Runcing asal Kauman Parakan,
Kabupaten Temanggung Jawa Tengah.
Pada sekitar tahun 1945-1948, Kyai Subkhi aktif
menerima dan mendoakan ratusan ribu pejuang
kemerdekaan.
Saat itu, masyarakat percaya perjuangan
melawan penjajah akan mendapat kemenangan
apabila senjata bambu runcing didoakan Kyai
Subkhi.
Menurut H. Anasom, M.Hum, peneliti sejarah dari
IAIN Walisongo Semarang, Kyai Subkhi adalah
pelopor penggunaan Bambu Runcing sebagai
senjata perjuangan.
Misteri Doa Kyai Subkhi
Ketika para pejuang berdatangan menemui Kyai
Subkhi, beliau kemudian memanjatkan do’a agar
Allaah Subhanahu WaTa’ala memberikan
kekuatan istimewa kepada pasukan bambu
runcing ini.
Do’a itu berbunyi : “Laa Tudrikuhul Absar
Wahuwa Yudrikuhul Absar Wahuwa Latiful Kabir,”
dengan tiga kali membaca sembari menahan
nafas.
Apa yang dibaca oleh Kyai Bambu Runcing,
sejatinya adalah ayat Al Qur’an, yakni terdapat di
dalam QS. Al An’am ayat 103.
Ayat ini diyakini,
atas seizin ALLAH,
berfaedah bisa terhindar dari kejahatan musuh
dan sihir
WaLlahu a’lamu bishshawab