Al Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaff
Dakwah di Tanah Gersang
Seorang murid harus jadi orang baik. Jika tidak, ia bisa dikeluarkan.
Makkah, kota di tengah gurun pasir nan tandus, selalu menjadi tujuan kaum muslimin setiap tahunnya untuk berhaji. Meski jarak jauh membentang, harus mengorbankan harta benda, bahkan nyawa. Bukan hanya demi sebuah kewajiban, yang harus ditunaikan bagi yang mampu, tapi lebih dari itu, demi kerinduan yang memuncak kepada Sang Pemilik Makkah, Pemilik Ka’bah, Allah Azza Wajallah.
Khusus bagi seorang muballigh yang alim dan shalih, Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaf, Makkah mempunyai tempat tersendiri di hatinya. Ia tak ‘kan pernah melupakan kota ini. Di sinilah ia tumbuh dewasa, digembleng dalam taburan ilmu dan hikmah, di bawah asuhan dan bimbingan ulama besar kota Makkah Sayyid Muhammad bin Alwy Al-Maliky Al-Hasany.
Saat ditemui alKisah di Pondok Pesantren Al-Haromain Asy-Syarifain, pesantren yang dibangunnya sejak tujuh tahun lalu, di Jalan Ganceng, Pondok Ranggon, Jakarta Timur, pada tanggal 2 November, sebelum ia pergi ke Tanah Suci Makkah pada 7 November, dengan senang hati habib yang berperawakan gagah itu menceritakan bagaimana pengalamannya saat belajar bersama gurunya tercinta di tanah yang dimuliakan dan disucikan Allah SWT.
“Alhamdulillah, tiada duka. Semuanya sangat menyenangkan.... Ini nikmat Allah yang luar biasa,” katanya.
Berikut penuturan Habib Hamid bin Abdullah Al-Kaf yang begitu mempesona:
Begitu Dekat dengan Nabi
Saya lahir dan tinggal di kota Tegal. Kedua orangtua saya berharap, anak-anaknya, baik yang laki-laki maupun perempuan, menjadi orang yang alim dalam ilmu agama. Sebab dengan menjadi orang alim, bisa bermanfaat, terutama untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan masyarakat umum.
Alhamdulillah, berkat usaha orangtua, saya dan kakak saya, Habib Thohir, diberangkatkan ke Makkah Al-Mukarramah, untuk berguru kepada Al-Allamah As-Sayyid Muhammad bin Alwy Al-Maliky Al-Hasani, atau sering disapa “Abuya”.
Abuya adalah ulama yang bersungguh-sungguh menyebarkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Beliau berusaha membentengi Aswaja, walaupun di sana tersebar Wahabi. Karena itu, murid-muridnya pun mempunyai semangat yang sama. Di tempatnya masing-masing, mereka gigih membentengi aqidah Aswaja, karena kita berkeyakinan bahwa Aswaja adalah satu-satunya aqidah yang benar.
Kami menuntut ilmu dengan senang. Mulai dari berangkat dari tanah air, hingga pulang ke tanah air, semua biaya ditanggung Abuya. Bahkan beliau memberi uang saku kepada kami. Pakaian, kitab, makanan, semua dijamin Abuya. Ruang tidur kami pun ber-AC. Jadi semua serba nikmat.
Tapi ada syarat utama yang beliau berikan kepada murid-muridnya. Yaitu, kami harus gigih menuntut ilmu, selalu menjaga akhlaq yang baik, wirid harus diperhatikan betul, dan selalu shalat berjama’ah.
Akhlaq yang mulia ini sangat penting dan harus diperhatikan sampai hal yang kecil, mulai dari perkataan, berpakaian, bagaimana berinteraksi dengan guru, orangtua, menghadapi murid, tamu, dan lain-lain.
Akhlaq ini sangat penting, lebih penting daripada kebanyakan ilmu. Ilmu banyak, tapi adabnya sedikit, jelek....
Selain mengenai masalah akhlaq, kami juga diajari bermacam-macam ilmu, seperti tafsir, hadits, fiqih, faraidh, tasawuf.
Jadi, murid-murid lulusan dari sana mempunyai keistimewaan tersendiri. Kalau bicara tafsir, mereka siap. Bicara hadits, mereka pun siap. Karena semua ilmu didalami.
Guru saya bukan hanya seorang alim, tapi juga ‘abid, ahli ibadah, yang luar biasa, baik dari segi bangun malam maupun wiridan. Beliau juga sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Beliau sering bermimpi bertemu Nabi Muhammad. Bahkan murid-muridnya atau teman-temannya, baik yang ada di pesantren maupun di luar pesantren, sering memberikan kabar gembira untuk Abuya dari Rasulullah lewat mimpi mereka. Ini sering terjadi.
Beliau juga tak pernah lepas dari shalat Istikharah. Bahkan jika hendak bepergian, beliau tidak akan berangkat kecuali setelah shalat Istikharah terlebih dahulu. Kadang persiapan sudah dilaksanakan, tapi kemudian mendapat kabar “lebih baik jangan pergi”, maka beliau membatalkannya.
Semua ini berkah dari hubungan dekat beliau dengan Nabi SAW. Kecintaan beliau kepada Nabi SAW luar biasa.
Rekreasi Islami
Jika ada waktu luang, beliau mengajak muridnya pergi ke tempat lain, misalnya ke Thaif, atau Hada, tempat yang dingin, untuk berekreasi. Tapi rekreasi ini rekreasi Islami. Di sana kami diajak membaca Maulid, setelah itu membaca ktiab, lalu shalat dan wirid berjama’ah. Kalau ada waktu kosong, beliau mempersilakan kami untuk bermain atau sekadar jalan-jalan. Tapi ketika waktu shalat tiba, kami harus tetap shalat berjama’ah.
Jika kami mempunyai waktu luang, beliau memerintahkan kami untuk selalu membawa kitab. Kata beliau, “Jangan pergi ke mana saja kecuali membawa kitab. Waktu kosong jangan dibuang begitu saja, tapi gunakanlah untuk menelaah kitab. Manfaatkan waktu untuk belajar dan beribadah.”
Waktu pertama kali saya datang, saya disyaratkan untuk belajar minimal lima tahun lamanya. Tidak boleh kurang. Abuya berkata, “Kamu nggak boleh pulang sebelum lima tahun. Sudahlah, kamu jangan mirikin apa-apa. Di sini saja belajar.”
Saya pun menerimanya dengan ikhlas. Ketika itu sekitar tahun 1982.
Murid-murid yang datang setahun kemudian, syarat lamanya belajar naik menjadi 10 tahun. Dan setahun kemudian, syarat itu bertambah lagi....
Abuya menerapkan sistem demikian karena beliau ingin murid-muridnya tidak pulang sebelum berhasil. Beliau sering mengatakan, “Kalau belajar, jangan suka pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Belajar di satu tempat terlebih dahulu sampai pintar. Jika sudah pintar atau sudah ahli, silakan pindah ke tempat lain.”
Sebelum murid-muridnya pulang, beliau akan mengevaluasi mereka.
Saya sendiri bisa pulang ke tanah air setelah tujuh setengah tahun. Beliau mengizinkan saya pulang dan ridha. Alhamdulillah.
Berkhidmah kepada Guru
Dalam menuntut ilmu, akhlaq terhadap guru harus diperhatikan. Kita berusaha bukan hanya untuk belajar, tapi juga berkhidmah, artinya melayani guru.
Bahkan berkhidmah di pesantren bukan hanya melayani guru, tapi juga teman. Kita membersihkan halaman, kamar mandi, dan sebagainya. Jadi pesantren kami tidak membutuhkan pegawai, semuanya dikerjakan santri.
Dikatakan, man khadam, khudim, orang yang melayani, pasti akan dilayani. Apalagi yang kita layani orang alim, orang shalih, seorang waliyullah.
Ada satu contoh dari Imam Al-Ghazali semasa beliau belajar. Beliau datang kepada seorang syaikh, orang alim.
“Wahai Syaikh, saya akan berkhdimah, tolong bagikan tugas kepada saya,” kata Imam Al-Ghazali.
Syaikh menjawab, “Semua sudah dipegang oleh para murid. Air wudhu saya sudah ada yang nyiapin, sandal saya sudah ada yang nyiapkan, semuanya sudah. Tinggal satu.”
“Apa itu?”
“Batu untuk istinja saya.”
Dulu, kalau orang buang air besar, menggunakan batu untuk membersihkan. Batu itu, setelah digunakan, ditaruh, kan najis. Supaya bisa dipakai lagi, harus dibersihkan, disiram, disucikan, dijemur. Nah, pekerjaan ini yang masih ada.
Maka, pekerjaan itu pun diterima Imam Al-Ghazali.
Hasilnya, dengan khidmah semacam itu, derajat Imam Al-Ghazali naik. Beliau menjadi orang alim, shalih, seorang wali, pengikutnya pun para wali besar. Masya Allah.... Inilah hikmah dari berkhidmah kepada guru.
Dan alhamdulillah, ketika saya pulang ke Indonesia, semua itu terbukti. Banyak yang melayani saya. Ketika saya hendak berdakwah, banyak yang membantu saya. Saya berpikir, ini semua berkah dari guru saya. Jadi, orang yang membantu, pasti akan dibantu.
Nikmat yang Luar Biasa
Di Makkah, selain belajar, kami juga bisa haji setiap tahun. Bisa juga umrah berulang-ulang, khususnya pada bulan Ramadhan, kami bisa hampir tiap hari umrah. Abuya mendapat jadwal mengajar di Masjdil Haram. Setiap berangkat, beliau selalu mengajak beberapa muridnya. Beliau mengizinkan kami untuk umrah.
Setiap tahun diajak haji. Haji juga dengan beliau, dengan orang alim. Di Indonesia orang pengin haji dituntun oleh kiai dan ustadz. Ini dengan orang alim yang hidupnya di Makkah.
Ketika beliau membaca doa di Arafah, bukan hanya muridnya yang datang, tapi juga kiai, ikut kumpul di kemah tersebut. Ya Allah, nikmatnya luar biasa....
Sungguh nikmat luar biasa. Mempunyai guru orang baik, tempat belajarnya baik, sarana dan prasarana di sana pun menyenangkan. Tapi syaratnya juga berat, seorang murid harus jadi orang baik. Jika tidak, ia bisa dikeluarkan.
Abuya adalah orang yang sangat tegas. Namun begitu, semua itu dilakukan karena beliau sangat sayang kepada murid-muridnya. Ada satu kesukaan beliau, yaitu dipijat oleh santrinya. Tapi bukan sembarang pijat, beliau mempunyai maksud agar ketika dipijat terjadi hubungan yang sangat dekat dengan muridnya.
Semua murid ingin memijat beliau. Setiap murid senantiasa menunggu panggilan beliau. Kami sangat mencintai guru kami. Hubungan dengan guru bukan hanya dunia, tapi juga akhirat. Kami semua ingin mendapat doanya dan syafa’atnya.
Suatu ketika, beliau memangil saya. Saya pun langsung meloncat, kegirangan, dan langsung cepat-cepat mendatangi beliau.
Ketika itu beliau bertanya, “Abah kamu punya anak berapa?”
“Dua belas, Abuya,” kata saya.
“Abah kamu kan anaknya banyak, satu untuk saya saja. Kamu untuk saya saya ya...,” kata Abuya.
Mendengar harl itu saya diam saja. Siapa yang tidak ingin menjadi putra Abuya. Tinggal dan berkhidmah kepadanya. Tapi saya juga ingat orangtua saya. Jadi, ketika Abuya mengatakan demikian, saya diam saja.
Saya merasa begitu dekat dan disayang Abuya. Tapi, bukan saya saja yang merasa demikian. Semua murid merasa disayang Abuya. Sungguh, beliau menyayangi kami semua.
Pada tahun 1989, Abuya mengizinkan saya pulang. Namun, sebelum mengizinkan muridnya pulang, beliau beristikharah.
Beliau mengizinkan saya pulang dengan memberikan banyak ijazah amalan kepada saya, beliau juga memakaikan imamah kepada saya. Dan tak lupa beliau memberi uang saku untuk saya pulang.
Ponpes Al-Haromain Asy-Syarifain
Sepulang dari Makkah, saya tinggal di Tegal. Pada tahun 1992, saya menikah dengan adik bungsu Habib Abdul Qadir Alatas, pengasuh Pesantren Al-Hawi, Condet.
Kemudian saya mulai bolak-balik Jakarta-Tegal, dan mulai mengajar di beberapa tempat. Hingga akhirnya orangtua saya mengizinkan saya tinggal di Jakarta, tepatnya di Kebon Nanas.
Setelah itu saya merintis pendirian pesantren. Saya mendapat izin dari Abuya, lalu mencari-cari tanah, dan mendapatkannya di Jln. Ganceng, Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Maka, pada 21 April 2003, berdirilah pesantren yang saya namai “Pondok Pesantren Al-Haromain Asy-Syarifain”.
Nama ini sesuai dengan tempat belajar saya, yaitu Makkah dan Madinah. Dua tempat yang disucikan dan dimuliakan.
Sedikit demi sedikit tanah di sekitar pesantren saya bebaskan. Kini luas tanah pesantren sekitar 7.150 meter. Guru-guru di pesantren ini sebagian berasal dari Pesantren Al-Anwar, Rembang, pimpinan K.H. Maimun Zubair, seorang kiai sepuh yang sangat alim dan shalih.
Setelah beberapa waktu, alhamdulillah, masyarakat di sini, Pondok Ranggon, menyambut dakwah saya dengan baik. Semua itu karena kami sepaham dan seaqidah.
Dalam berdakwah, saya mengikuti metode para habib dan ulama shalihin. Yaitu tidak memulai pengajian dengan langsung mengkaji kitab, tapi memulai dengan Maulid, dilanjutkan dengan pembacaan wirid, seperti ratib, kemudian pengajian, dan diakhiri dengan doa.
Mengapa harus Maulid dan wirid terlebih dahulu?
Ilmu ini sangat mahal. Lebih mahal daripada intan berlian. Ibarat orang menjual barang mahal, barang itu harus ditempatkan di tempat yang bagus dan apik. Jika tidak, dagangannya tidak akan laku. Tapi kalau ditempatkan di tempat yang bagus, insya Allah orang pun akan tertarik.
Contoh lainnya, bila kita hendak makan. Makanannya sangat lezat, tapi ditempatkan di piring yang kotor dan bau. Apakah kita mau memakannya? Tentu tidak. Karena itu, sebelum makan, piring tempat kita makan harus dibersihkan dulu.
Begitu pula dengan ilmu. Supaya ilmu meresap ke dalam hati, hati harus dibersihkan dahulu. Yaitu dengan cara membaca Maulid dan wirid. Dan supaya ilmu itu tidak keluar lagi, setelah pengajian kita membaca doa, supaya ilmu yang diajarkan ketika itu melekat ke hati dan menjadi penerang jalan hidup kita.
Alhamdulillah, dengan cara seperti ini, dakwah saya meluas ke mana-mana. Undangan untuk mengisi pengajian pun semakin banyak. Yang tadinya saya mengisi sebuah majelis di sebuah wilayah seminggu sekali, karena waktunya harus dibagi, untuk satu majelis hanya bisa satu bulan sekali. Hari-hari selebihnya kami serahkan kepada ustadz atau guru-guru yang sudah saya tunjuk, yang tentunya paham dan aqidahnya sama.
Dalam waktu satu bulan, paling tidak hanya 30 tempat atau majelis yang bisa saya datangi. Sementara kampung-kampung yang tersebar di sekitar sini ada ratusan kampung.
Majelis Mahabbaturrasul
Lalu, bagaimana supaya kampung-kampung yang masih “gersang” ini bisa tersirami dengan dakwah Aswaja dengan baik?
Saya pun membentuk majelis dakwah keliling bernama “Majelis Mahabbaturrasul”. Mahabbaturrasul artinya cinta Rasulullah, dan insya Allah cinta ini akan mendatangkan kecintaan Rasulullah kepada kita.
Majelis ini diawali dengan konvoi dari Pondok Pesantren Al-Haromain Asy-Syarifain lalu berakhir di sebuah tempat. Di tempat itulah jama'ah berkumpul, dan didakan acara ceramah. Penceramah tidak hanya saya, tapi juga kiai-kiai dan ustadz-ustadz yang datang ketika itu.
Awalnya, majelis ini hanya berlangsung satu bulan sekali. Namun karena permintaan semakin banyak, akhirnya diadakan seminggu sekali.
Setiap pengajian, alhamdulillah, jama’ah yang datang tidak hanya dari kalangan muhibbin, tapi juga para ulama, kiai, pejabat, orang awam, para pemuda. Ini sebagai tahaddusan binni'mah, menyebut-nyebut nikmat Allah, yang dianjurkan oleh Rasulullah.
Rabu, 09 Desember 2015
Habib hamid bin abdullah alkaff
Habib hadi bin abdullah al haddar
Al Habib Hadi bin Abdullah Al-Haddar
Kabupaten Banyuwangi, sebuah kabupaten yang terletak paling ujung timur dari propinsi Jawa Timur selain terkenal sebagai kota santri juga di kabupaten ini terdapat seorang auliya’ yang setiap tahun haulnya diperingati dengan besar-besaran setiap hari ahad pagi minggu pertama bulan Muharam. Waliyullah itu adalah Habib Hadi bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Soleh Al-Hadar. Ia Lahir pada tahun 1908 M (1325H) di Banyuwangi. Habib Hadi dari kecil telah menunjukan akhak yang terpuji. Dari kanak-kanak ia telah menunjukan sikap-sikap yang baik. Dengan teman sepermainan tidak pernah mau mengganggu dan kalau pun diganggu, ia tidak pernah melawan.
Pada umur sembilan tahun, ibunya yang bernama Syarifah Syifa binti Mustafa Assegaff meninggal. Ia kemudian oleh ayahnya Habib Abdullah bin Umar Al-Haddar dibawa ke Gathan, Hadramaut. Selama di negeri para auliya itu, Habib Hadi belajar dengan ulama-ulama setempat. Hari- hari diisinya dengan taklim dan mengaji.
Saat bulan Ramadhan tiba, masyarakat muslim Hadramaut menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah dengan waktu yang berbeda-beda, mulai dari lepas shalat isya sampai jelang waktu sahur. Habib Hadi tak ketinggalan ikut shalat tarawih berjamaah dari masjid yang satu ke masjid yang lainnya dari mulai lepas Isya sampai waktu jelang sahur. Kebiasaan ini membuat ayahanda Habib Hadi, Habib Abdullah bin Umar marah kepadanya.”Kamu ke sini bukan untuk beribadah. Kamu datang ke sini untuk menuntut ilmu. Jangan satu malam kamu habiskan untuk shalat tarawih.”
Padahal usianya pada waktu itu, baru 11 tahun, ayahnya meninggal. Habib Hadi kemudian tinggal bersama seorang adiknya, yakni Habib Muhammad. Saat itulah ia hidup sangat sederhana di Hadramaut, namun di tengah kesederhanaan itu, ia selalu mendahulukan adiknya. Kalau ia mendapatkan dua keping roti dan secangkir kopi tiap sehabis shalat berjamaah, dua keping roti dan secangkir kopi itu diberikan untuk adiknya dan ia lebih berpuasa. Demikian kecintaan yang luarbiasa untuk sang adik.
Habib Hadi dari kecil telah menjaga makanan yang dimakan dari sesuatu yang haram, bahkan yang diragukan (subhat). Pernah suatu ketika sang adik membawa buah-buahan, ia kemudian bertanya, ”Dari mana kamu dapat buah-buahan ini?”
Sang adik menjawab,”Saya memungut dari kebun sebelah.”
Mendengar jawaban dari sang adik, Habib Hadi marah kemudian ia memegang buah yang dibawa sang adik dan berkata, ”Kembalikan ke tempat yang kamu yang dapat.”
Sang adik pun akhirnya menuruti perintah sang kakak mengembalikan buah yang jatuh kepada sang pemilik kebun.
Demikianlah sedari kecil, Habib Hadi sangat menjaga makanan yang masuk ke perutnya. Sehingga ibadah sesuatu
Setelah ayahnya meninggal, Habib Hadi belajar dengan Habib Muhammad bin Hadi Assegaff di Seiwun. Habib Muhammad bin Hadi Seiwun ini adalah murid dari Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi, sahibul maulid Simthud Durar. Selama di majelis Habib Muhammad ini, teman Habib Hadi selama belajar di sana adalah Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (ayahanda Habib taufik, Pasuruan).
Kalau malam, Habib Hadi bermunajat, berdzikir dan amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT (qiyamul lail), sedangkan kalau siang hari ia berpuasa. Wajarlah melihat aktivitas ibadah dari Habib hadi telah terlihat sejak kecil, membuat sang guru, Habib Muhammad memberikan kedudukan yang istimewa di tengah murid-muridnya.
Dalam mengajar, Habib Muhammad selalu menyediakan tempat duduk di sampingnya dalam keadaan kosong, dan tidak pernah ada seorang pun dari murid-muridnya yang berani menempati tempat duduk yang kosong itu. Tempat duduk yang kosong itu adalah tempat duduk Habib Hadi bin Abdullah Al-Hadar.
Pada umur 20 tahun, Habib Hadi pulang ke Indonesia melalui pelabuhan Surabaya. Saat itu ia disambut oleh saudara-saudaranya yang saat itu sudah sukses di Surabaya, seperti Habib Ahmad (pemborong jalanan), Habib Muhamad (pedagang beras), Habib Mustafa (saudagar kopra). Tapi, Habib Hadi menolak semua sambutan yang meriah, ia menolak pakaian yang sudah dipersiapkan oleh saudara-saudaranya.
Melihat saudaranya yang sudah maju, Habib Hadi tidak terpikat untuk bergabung dengan saudara-saudaranya. Ia justru mampir ke tempat kenalannya yakni H. Abdul Aziz, seorang pedagang kain. Habib Hadi tiap hari berjualan sarung, kain batik di pasar. Melihat Habib Hadi jualan di pasar, saudara-saudaranya marah. Habib Hadi kemudian ditarik kerja di pelabuhan bagian menimbang kopra.
Akhirnya Habib Hadi, menurut perintah saudara-saudaranya kerja di pelabuhan. Namun, sebelum kerja di pelabuhan, ia sempat mampir ke pasar untuk membeli paesan (nisan untuk orang mati) dan selalu dibawa ke tempat kerja. Nisan yang terbuat dari kayu itu ditaruhnya di bawah timbangan dan selalu ditaburi bunga yang masih segar. “Saya kalau menimbang kopra selalu ingat nisan yang ada di bawah timbangan. Dengan mengingat nisan ini, saya selalu ingat akan mati, maka timbangannya harus pas. Karena yang saya timbang ini akan dipertanggungjawabkan, kelak di hari kiamat,” kata Habib Hadi mengomentari tingkahnya yang selalu membawa nisan saat bekerja.
Pernah ia dipindah ke bagian keuangan (kasir), suatu saat ia mengumpulkan uang yang rusak, palsu dan dikumpulkan semua. Dan akhirnya semua uang yang rusak itu dibuang ke laut. Melihat perilaku Habib Hadi, saudara-saudaranya sudah habis rasa kesalnya. Mereka marah dengan perilaku Habib Hadi.
Melihat ketidakcocokan dalam bekerja dengan saudara-saudaranya, Habib Hadi kemudian berhenti bekerja dan lebih banyak beribadah serta hadir di acara-acara haul para ulama dan habib yang tersebar di Pulau Jawa, mulai Habib Ali bin Abdurahman Al-Habsyi. Habib Hadi kembali berdagang kain untuk menghidupi keluarga. Uniknya dalam berdagang, ia selalu jujur mengatakan harga yang sebenarnya dari barang yang dijualnya kepada pembelinya.”Boleh kamu kasih ongkosnya, atau lebihkan sedikit dari barang ini,” kata Habib Hadi kepada para pembelinya.
KH Chasan Abdillah salah seorang ulama ternama di Glenmoore, Banyuwangi pernah berkata kepada Habib Hadi, ”Habib, anda tidak ditipu sama orang dengan berjualan seperti itu?”
“Biar orang-orang menipu saya. Yang penting, saya tidak menipu sama orang lain,” kata Habib Hadi kepada KH Chasan Abdillah.
Habib Hadi saat Banyuwangi dikenal sangat dekat dengan Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaff (Pasuruan). Saat itu Habib Ja’far mempunyai tasbih kesayangan yang diperoleh dari Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad. Tasbih itu ternyata adalah milik Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al-Habsyi. “Siapa yang memegang tasbih ini akan membuat kenyang akan dzikrullah,” kata Habib Ja’far kepada orang-orang yang ada di majelis. Orang-orang berebut ingin mendapatkannya. Tapi Habib Ja’far bin Syaikhon mencegahnya.”Sebentar lagi orangnya akan datang.” Tak berapa lama kemudian Habib Hadi hadir di majelis, Habib Ja’far langsung bangkit dan mengalungkan tasbih kesayangannya ke leher Habib Hadi.
Saking dekatnya antara Habib Ja’far, kalau Habib Hadi datang, selalu diajaknya ke kamar dan dikunci. Sekalipun Habib Ja’far sedang ada pengajian atau tamu, Habib Hadi selalu diajaknya ke kamar khusus. Apa yang mereka perbincangkan, tidak ada yang tahu.
Habib Hadi wafat pada usia 65 tahun dengan meninggalkan 8 orang anak (1 putra, 7 perempuan), pada Kamis, 4 Muharam 1393 H (8 Februari 1973). Jenazahnya kemudian dishalati dengan imam Habib Abdulkadir bin Husein Assegaff (Pasuruan) dan dimakamkan di komplek makam Blambangan, Lateng, Banyuwangi.
Habib hadi bin 'alwi bin hasan alkaff
AL HABIB HADI BIN ‘ALWI BIN HASAN AL KAFF
Beliau lahir di Malang pada 29 Juni 1947, beliau adalah putra Habib ‘Alwi bin Hasan Al Kaff yang ke-16 dari 31 bersaudara. Ibunda beliau bernama Syarifah Futum, putri dari Habib ‘Abdurohman bin ‘Ali bin Syech Abu Bakar bin Salim. Jadi Habib Hadi Al Kaff ini masih termasuk cucu dari Habib ‘Abdurohman bin Syech Abu Bakar bin Salim, seorang ‘ulama yang terkenal sebagai ulama yang sholeh dan perintis gerakan dakwah ke desa-desa sekitar Malang. Gerakan dakwah Habib ‘Abdurohman ini dilanjutkan oleh menantu cucu beliau,Al Ustadz Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus.
Habib Hadi mengenyam pendidikan Madrasah di Pondok Pesantren Darul Hadits Malang yang diasuh oleh Habib ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih dari tahun 1953 - 1967. Habib Hadi Al Kaff sebenarnya punya kesempatan untuk belajar di Madinah namun, karena Pemerintah Republik Indonesia pada waktu itu melarang pelajar Indonesia untuk berangkat ke Saudi, kecuali yang mempergunakan beasiswa pemerintah. Akhirnya beliau mengaji ilmu Nahwu selama kurang lebih dua tahun (1967-1969) secara private kepada Habib ‘Abdurohman bin Muhammad Mauladawilah di rumah beliau, di samping masjid Al-Huda Malang setiap usai sholat Subuh. Kitab yang diajarkan pada waktu itu adalah Jumriyah, Syaroh Ibnu Dahlan, Kafrowy dan Kawakib.
Selain belajar pada Habib ‘Abdurohman, pada tahun itu juga Habib Hadi Al Kaff belajar secara private kepada Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus. Habib Hadi Al Kaff mengaku sangat terkesan dengan metode mengajar dari Habib ‘Alwi, “Beliau adalah seorang guru yang ‘alim, luas, tawadhu’ lagi bijaksana. Pernah beliau mendengar ada yang mengatakan bahwa, Habib Hadi Al Kaff tidak punya Syeikh (guru pembimbing). Beliau spontan marah seraya berkata,’Katakan pada mereka bahwa,’saya adalah Syeikh dari Habib Hadi’. Mendengar pengakuan dari Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus, Habib Hadi Al Kaff sangat gembira atas pernyataan tersebut. Habib ‘Alwi Al ‘Aydrus juga berpesan kepada Habib Hadi Al Kaff untuk lebih memantapkan hatinya, ”Kalau kamu takholluq (berpegangan dengan guru, biasanya seorang syekh) ini insya allah, kamu akan dibimbing. Meskipun seorang guru (syeikh) itu telah meninggal. Jadi seorang murid tetap punya hubungan bathin.”
Setelah gagal berangkat ke Saudi, Habib Hadi Al Kaff kemudian menyibukan diri bekerja membantu ayandanya ke Lombok (Nusa Tenggara Barat) sampai tahun 1974. Baru pada tahun 1975 beliau berangkat ke Saudi dengan diantar langsung oleh Habib Muhammad bin Ahmad Al ‘Aydrus di Madinah. Sayang, saat itu tahun ajaran baru sudah dimulai. Beliau akhirnya disuruh menunggu beberapa bulan sampai menunggu tahun ajaran baru. Habib Hadi Al Kaff akhirnya belajar bahasa Inggris di American School. Karena kesibukan kerja antara 1976-1979, akhirnya Habib Hadi Al Kaff tidak sampai berfikir lagi untuk menuntut ilmu di Madinah.
Pada tahun 1979 beliau pindah ke Khobar, di kota yang terletak belahan utara Mekkah itu beliau mengumpulkan jama’ah dari pekerja-pekerja yang dari Indonesia untuk belajar agama dan sesekali rutin membaca maulid. “Alhamdulilah, sembari bekerja juga bisa belajar sendiri dan juga mendatangi pengajian,”
Selama di Saudi, Habib Al Kaff belajar sendiri dengan bertakholluq kepada Habib ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih, Habib ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus dan Habib ‘Abdurrohman bin Muhammad Mauladawilah. Sekalipun belajar sendiri, beliau juga terkadang menghadiri acara-acara keagamaan yang digelar di Saudi, seperti peringatan maulid, Khataman Bukhori, silaturahmi halal bi halal dan lain-lain.
Pada tahun 1992, Habib Hadi Al Kaff mau pulang ke Indonesia. Saat itu tanggal 27 Ramadhan ada khatam Bukhori di Masjid Nabawiy, datang para Habaib dari sekitar Saudi. Selepas shalat Ashar ada pengajian Habib Sholeh Al Muhdor. Acara ini tergolong acara yang beasr karena banyak dihadiri ulama-ulama besar seperti Syekh ‘Abdul Qodir bin Ahmad, Sayyid Muhammad bin ‘Alwi Al Maliki, Habib Zein bin Smith dan dari luar Saudi pun banyak yang hadir.
Kebetulan saat itu Habib Hadi Al Kaff datang bersama salah satu teman akrabnya yakni Habib Hasan bin ‘Abdullah Asseggaf. Habib Hasan Asseggaf sudah lama tinggal Saudi, sehingga beliau banyak mengenalkan Habib Hadi AL Kaff dengan para Habaib yang hadir selepas shalat Magrib. Salah satu diantaranya adalah berkenalan dengan Habib ‘Alwi Bilfagih (pengarang kitab-kitab sejarah dan nasab).
Saat itu ‘Habib Alwi Bilfagih saat itu juga sedang mengajar kepada murid-muridnya dan juga ada seorang tua yang sedang menulis. Habib Hasan Asseggaf kemudian mengenalkannya kepada Habib ‘Alwi Bilfagih, ”Ini Hadi Al-Kaff dari Malang.”
Kemudian Habib ‘Alwi Bilfagih menyalami Habib Hadi Al Kaff. “Kenal Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qodir Bilfagih dari Malang?” tanya Habib ‘Alwi Bilfagih kepada Habib Hadi Al Kaff.
“Itu adalah guru saya,” kata Habib Hadi AL Kaff.
“Syeikhi? (gurumu)?” tanyanya dengan penuh keterkejutan.
“Saya adalah murid dari Syeikh ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih,” kata Habib Hadi kepada Habib ‘Alwi.
“Tunggu dulu,” kata Habib ‘Alwi terburu-buru kepada Habib Hadi dan Habib Hasan untuk jangan beranjak dari majelis, karena beliau akan menyelesaikan urusan dengan orang tua yang duduk tidak jauh dari mereka bertiga.
Tidak berapa lama kemudian, Habib ‘Alwi kembali lagi dan kemudian berkata kalau Habib ‘Abdul Qodir adalah saudara dekatnya. “Itu adalah saudara ayah saya, tapi saya belum jumpa,” katanya.
Kemudian Habib ‘Alwi memaksa tangan Habib Hadi, ”Mana tanganmu?”
Lalu Habib Hadi karena dipaksa kemudian memberikan tangannya untuk dicium oleh Habib ‘Alwi. Artinya, Habib ‘Alwi sangat menghormati Habib ‘Abdul Qodir sampai sedemikian rupa, sampai-sampai salah satu muridnya yang pernah pernah belajar kepada Habib ‘Abdul Qodir pun diciumnya.
Sampai di hotel, Habib Hadi bertanya pada Habib Hasan,”Tadi, orang tua yang bertubuh kurus dan duduk di majelis Habib ‘Alwi itu siapa?”
“Itu adalah Habib Zein bin Smith (Madinah),” kata Habib Hasan.
Habib Hadi tentu terkejut, karena Habib Zein bin Smith ternyata sedang belajar kepada Habib ‘Alwi Al Kaff yang baru ditemuinya.
Setelah hari kedua lebaran, para habaib mengadakan silaturahim di hotel Haromain. Setelah acara, Habib Hasan mengenalkan lagi Habib Hadi pada yang hadir, termasuk kepada Habib Zein bin Smith. “Ini Habib Hadi Al Kaff, tholib ilm’,” kata Habib Hasan.
“Di mana kamu belajar?” tanya Habib Zein bin Smith kepada Habi Hadi Al Kaff.
“Saya tidak belajar. Saya bekerja di Khobar,” jawab Habib Hadi.
Habib Hasan berkata lagi, ”Dia belajar sendiri di rumahnya.”
“Tidak boleh. Kalau belajar agama tidak bisa belajar sendiri kecuali dengan belajar kepada syeikh (untuk membimbing). Kalau kamu belajar ilmu umum, seperti bumi, sejarah, kamu bisa belajar sendiri,” kata Habib Zein.
Habib Hadi terdiam, tapi Habib Hasan berkata lagi kepada Habib Zein,”Ya Habib, ia dulu pernah belajar pada Habib ‘Abdul Qodir Bilfagih.”
“Benar?” tanya Habib Zein.
“Ya Habib,” jawab Habib Hadi.
Habib Zein kemudian tertunduk sebentar, tidak langsung jawab. Kemudian beliau berkata, ”Karena kamu sudah pernah belajar pada Habib ‘Abdul Qodir bin Ahmad Bilfagih. Kamu boleh belajar sendiri,” kata Habib Zein kepada Habib Hadi.
Setelah mendapat bisyaroh (isyarat kabar gembira) dari seorang ‘alim. Habib Hadi semakin yakin, kalau selama ini dengan belajar sendiri mempelajari kitab-kitab salaf yang ada di sana masih dalam koridor bimbingan dari guru-gurunya, walaupun guru-gurunya itu telah lama wafat.
Setelah menetap lama di negeri Saudi, pada tahun 1992 beliau pulang ke Indonesia. Saat itu beliau tinggal di Jl. Lontar Atas, Jakarta, sambil berdagang Habib Hadi juga berdakwah dari masjid ke masjid dan taklim di sekitar rumahnya selama kurang lebih lima tahun.
Pada tahun 1997, beliau kemudian dipanggil sang mertua, Habib ‘Ali bin ‘Umar Baharun di Bondowoso untuk mengelola majelis taklim. beliau kemudian mengajar sekitar 4 tahun, beliau meninggal. Pada tahun 2002, beliau berfikir untuk kembali ke Jakarta. Tapi saat singgah di Malang, Habib Hadi bertemu dengan Habib Muhammad bin Agil Ba’Agil pemimpin majelis taklim Al-Hidayah (Malang).
“Kebetulan kamu datang, sekarang saya serahkan majelis taklim ini kepada kamu,” kata Habib Muhammad.
“Ya, Habib. Sekarang saya di Bondowoso,” kata Habib Hadi.
“Kamu pindah ke Malang,” perintah Habib Muhammad.
Karena teman akrab, satu kelas di Darul Hadits akhirnya Habib Hadi mulai tahun 2002 mulai tinggal di Malang pengasuh Majelis Taklim Al-Hidayah. Majelis Taklim Al-Hidayah sendiri diketuai oleh Habib Agil bin Agil Ba’agil, Habib ‘Ali Haidar Al Hamid.
Habib Hadi di Kota Apel itu juga mengasuh Majelis Taklim Al-Mukhlisin tiap malam minggu ba’da Magrib (ibu-ibu) dan selepas Isya (untuk bapak-bapak). Acara berlanjut selepas Subuh. beliau juga masih mengajar tafsir Jalalain dan An-Nashoih Diniyah di Madrasah yang didirikan oleh Ustadz ‘Alwi bin Salim Al ‘Aydrus di Bumiayu (Malang) seminggu tiga kali; Sabtu, Senin dan minggu. Selain itu beliau mengajar di masjid-masjid di sekitar Malang.
beliau sebenarnya sering diminta mengajar di Pesantren Darul Lughoh Wa’Da’wah (Bangil, Pasuruan) dan Darut Tauhid, tapi selama ini masih sangat berat. “Soalnya, waktunya pagi. Itu berat sekali, karena kalau malam sudah habis untuk berdakwah sehingga jarang tidur,” kata Habib Hadi.
Beliau juga sering diminta oleh teman-temannya untuk menterjemahkan Shohih Sifatu Sholatul Rosulullah Saw. Mina Takbir Wa Taslim Ka’annaka Tanduru ilayya (sifat sholat Rosulullah Saw. sejak takbir hingga salam seolah-olah kamu menyaksikan sendiri) karangan Habib Hasan bin ‘Ali Assegaf (Yordania). Sudah banyak orang meminta untuk menterjemahkan kitab yang sering dibawakannya. ”Insya Allah, kalau ada waktu tepat akan segera diterbitkan,” kata beliau
Habib tatib muhammad bin salim assegaff
Habib Ayyib Muhammad bin Salim Assagaf
Makam beliau terletak di pojok kanan dari Taman Pemakaman Umum (TPU) Cibarunai. Makam waliyuallah Habib Ayyib Muhammad bin Salim Assagaf terletak luas sehingga mempermudah peziarah untuk berdoa. Walaupun tanpa cungkup tetapi peziarah dapat leluasa berdoa. Tiupan angin dan suara gemericik air sungai Cikapundung menambah kekhusykan doa. Jangan khawatir akan gelap bila anda datang pada malam hari karena terdapat lampu yang terang yang menerangi makam waliyuallah Habib Ayyib Muhammad bin Salim Assagaf. Bila tidak membawa buku doa, disanapun tersedia buku doa yang disimpan di rumah-rumahan di samping makam waliyuallah Habib Ayyib Muhammad bin Salim Assagaf.
Abah Ayyib Muhammad Assagaf dilahirkan 13 Januari 1936 di Bandung. Beliau adalah pendidik sejak usia beliau sangat muda. Dimulai dengan mengajar anak - anak dan remaja mengaji di Mesjid Al-Falah. Di mesjid inilah kegiatan dakwahnya dimulai.
Ketika beranjak dewasa, Habib Ayyib Muhammad bin Salim bin Ahmad bin Alwi Assaggaf yang biasa dipanggil Abah Ayyib oleh murid - muridnya, pindah ke Bekasi. Selama beberapa tahun mengajar di Bekasi beliau menikah dan kembali ke Bandung.
Kota Pekalongan adalah kota yang dipilih Abah Ayyib untuk tinggal dan menetap. PGAN Pekalongan adalah tempat pertama beliau mengajar di Pekalongan. Kemudian Abah Ayyib diminta untuk mengajar di Ma'had Islam. Di Ma'had Islam ini beliau mengajar selama kurang lebih 17 tahun.
Abah Ayyib Muhammad Assagaf aktif berdakwah Islam di masjid - masjid, khususnya pengisi khutbah Jumat dan acara keagamaan lain. Selain itu beliau sering mengisi ceramah di stasiun radio PTDI Walisongo.
Kota Pekalongan bukanlah kota terakhir bagi Abah Ayyib Muhammad Assagaf karena atas panggilan Ibunya yang sudah berusia lanjut, beliau kembali menetap di Bandung. Di kota Bandung ini, beliau tidak berhenti menjadi pengajar. Abah Ayyib Muhammad Assagaf melanjutkan pengajarannya di Yayasan Pendidikan Muthahari. Disamping mengajar, beliau mengisi ceramah agama di radio Antasalam dan khutbah Jumat di beberapa Mesjid.
Selama hidup, Abah Ayyib Muhammad Assagaf dikenal sebagai da'i yang hidupnya bersahaja dan baik kepada semua orang. Beliau sangat senang membantu orang lain dan mukhlis.
Pada Selasa, 29 Juni 2004 Abah Ayyib Muhammad Assagaf berpulang ke rahmat Allah. Beliau meninggalkan delapan orang anak (salah satunya bernama Nadir meninggal ketika bayi). Abah Ayyib Muhammad Assagaf terletak diantara makam pejuang 45 di Pemakaman Umum Cibarunai, Sarijadi, Bandung, Jawa Barat.
Habib alwi bin ahmad bahsin
AL HABIB ALWI BIN AHMAD BAHSIN
dilahirkan pada bulan Muharram 1326 H / Maret !908 M. Ayah beliau bernama Habib Ahmad bin Muhammad Bahsin, sedang ibunya bernama Syarifah Syifa' binti Abdurrahman.
Sejak kecil beliau dididik dalam keluarga islami. Pendidikan pertamanya di Arabian School, di samping belajar kepada ayah an paman beliau, Habib Ali bin Muhammad Bahsin.
Dalam menunutut ilmu, Habib bAlwi bersungguh-sungguh dan tidak pernah merasa puas. Banyak ulama yang tercatat sebagai guru beliau, antara lain, Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff, Syekh Abu Bakar bin Hasan Basyaib, KH.Abdullah Azhari ( Kiai Pedatuan ), dan Habib Husein bin Abu Bakar Syekh Abu Bakar. Sejak berusia 15 tahun, Habib Alwi telah diizinkan oleh guru-gurunya untuk mengajar. Sistem pengajaran yang beliau terapkan kebanyakan berupa diskusi dan praktik, terutama dalam hal fiqih. Tidak berhenti ampai disitu, pendidikan Habib Alwi terus berlanjut, hingga beliau banyak mendapatkan ijazah dari berbagai Habib yang masyhur, di antaranya Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi ( Kwitang ), Habib Salim bin Jindan ( Jakarta ), Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid ( Tanggul ) dan Habib Salim bin Alwi Al-Khirid ( Makkah ).
Habib Alwi terkenal sebagai seorang ulama yang tegas dan berani dalam menjalankan Amar makruf Nahi Munkar. Madrasah yang didirikannya pada zaman penjajahan jepang sempat ditutup karena beliau menentang Jepang untuk menyembah matahari setiap pagi hari. Namun setelah Jepang meninggalkan Indonesia, 1945, madrasah tersebut beliau buka kembali dan dinamai Madrasah Al-Kautsar, terletak di Kampung Munawar 13 Ulu.
Kegigihan Habi Alwi dalam berdakwah terlihat tatkala beliau ke pelosok daerah seperti Tanjung Agung dan Talang Padang. Dengan berbekal sampan dan lampu petromaks, beliau dan beberapa temannya menunggu perahu motor yang lewat untuk mengikatkan ampan pada perahu tersebut, sehingga perjalanan menjadi lebih cepat. Demikian pula ketika mereka akan kembali ke kota. Sesampainya di daerah tersebut, mereka membersihkan musala dan mengajak penduduk untuk shalat berjamaah atau menghadiri majlis taklim.
Habib Alwi mencurahkan perhatian yang luar biasa kepada kaum muslimin, terutama faqir miskin dan yatim piatu. Hal ini diwujudkan dengan mendirikan panti asuhan Darul Aitam, pada 8 Desember 1971 M ( 29 Syawal 1391 H ). Di tanah wakaf H.Syukur bin Ahmad Bustam, 14 Ulu, Palembang, yang juga merupakan gagasan gurunya, Habib Abdurrahman bin Syekh Al-Idrus.
Selain mendirikan Darul Aitam, beliau juga membangun Madrasah Al-Munawariyah yang terletak di Lr.Sederhana 13 Ulu. Aktivitas yayasan dan madrasah tersebut hinggga kini masih berjalan. Pada tahun 1395 H, Habib Alwi mempelopori kuliah subuh di masjid dan musholla. Antara lain yang masih berjalan di Masjid Darul Muttaqin 8 Ilir, Palembang, setiap minggu pagi.
Sudah menjadi kebiasaan para habib untuk melazimkan berziarah kepada para sholihin. Demikian pula Habib Alwi, sering berziarah ke makam kakeknya, Habib Muhammad bin Ahmad Bahsin, di Jebus, Pulau Bangka. Konon kakek beliau dengan ilmunya dapat menaklukan dukun-dukun santet yang terkenal hebat di daerah tersebut.
Habib Alwi memiliki persahabatan yang istimewa dengan Habib Ali bin Husein Al-Aththas ( Bungur ). Hal ini terlihat tatkala Habib Ali wafat. Sebelum wafat, beliau berwasiat agar yang memandikan jenazahnya adalah Habib Alwi Bahsin. Maka dipenuhilah keinginan beliau dengan memberangkatkan Habib Alwi dari Palembang untuk memandikan jenazahnya. Demikian pula semasa hidupnya, Habib Ali bin Husein Al-Aththas selalu berpesan kepada jemaah yang hendak pulang atau berziarah ke Palembang, agar memintakan doa' kepada hAbib Alwi Bahsin untuk beliau.
Pada tahun 1398 H, Habib Alwi menunaikan ibadah haji. Setibanya di Jeddah, karena kecintaan yang begitu mendalam kepada datuknya, Rasulullah saw, beliau dan rombongan langsung menuju Madinah. Perjalanan dari Jeddah ke Madinah yang biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama, dengan izin Allah swt menjadi begitu singkat, sehingga membuat sopir mobil yang ditumpanginya takjub.
Saat di Madinah, Habib Alwi tidak mau menginap di hotel yang telah disediakan di lantai atas. "Bagaimana mungkin aku berada di atas, sedangkan Rasulullah saw berada di bawah. Aku takut tidak mengamalkan akhlaq yang telah diajarkan oleh Nabi saw." Katanya. Dan sewaktu berziarah ke makam Nabi saw, dengan melepas gigi palsunya, beliau menyatakan tidak menyukai kedustaan seperti halnya gigi palsu itu.
Habib Alwi berpulang ke Rahmatullah pada waktu fajar hari selasa, 22 Januari 1985 M ( 1 Jumadil awal 1405 H ). Beliau berwasiat agar kita selalu berpegang teguh pada madzhab Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dengan mengikuti jejak langkah salaf as-sholihin, para ulama Sholeh terdahulu.
Senin, 07 Desember 2015
KISAH SIKECIL PECINTA BAGINDA NABI SAW
Bissmillah
Si Kecil yg Cinta kpd Baginda Saw
Terjadi satu kisah dizaman Syeikh Abdurrahman
Ad-Diba'i. Ketika sedang berkumpul dengan orang
di kota Zabid (ujung kota Yaman) untuk berziarah
ke makam Sayyidina Muhammad SAW di kota
Madinah.
Jarak perjalanannya membutuhkan waktu selama
2 minggu. Ketika rombongan tadi hendak
bergerak ke kota Madinah datang seorang anak
kecil sekitar 8 tahun, wahai syeikh aku hendak
ikut ziarah ke makam Nabi SAW.
Tapi permintaan anak kecil itu tidak diizinkan
oleh syeikh, karena kau nanti membuat susah,
orang hendak ke sini kau hendak kesana. Lalu
syeikh bertanya kepada anak kecil itu, kenapa
kau sangat ingin ikut. Lalu anak itu berkata
wahai syeikh percayalah "Aku sangat rindu
dengan Rasulullah". Namun dijawabnya,
''Sudahlah kau tetap tak boleh ikut.''
Maka berjalanlah rombongan tadi. Setibanya di
kota Madinah tepatnya dimakamnya Sayyidina
Muhammad SAW, terkejutlah Syeikh
Abdurrahman Ad-Diba'i karena melihat anak kecil
itu ada dihadapannya.
''Wahai anak kecil, dari mana kau datang.
Bagaimana kau bisa ikut.''
''Ketika kalian berangkat, aku masuk dalam
kotak/peti ikut bersama rombongan ziarah ke
makam Sayyidina Muhammad SAW.''
''Kata Syeikh aku tidak heran kalau kau masuk
peti, tapi selama 2 minggu kau makan dan
minum dari mana, tidak makan dan tidak
minum.''
''Wahai syeikh sungguh aku dilupakan dari makan
dan minum karena sangat rindu kepada Nabi
SAW''.
Anak kecil tadi pun bertanya; ''Wahai syeikh
apakah benar tanah ini pernah di pijak
Rasulullah?''
Kata syeikh ''ya'.' Kemudian anak tersebut
mengambil tanah itu lalu diciumnya tanah
tersebut, terus anak kecil itu tiba-tiba roboh
seakan-akan pingsan.
Rupanya anak kecil itu telah wafat. Anak kecil
itu di kebumikan di luar kota Madinah karena
orang luar. Kemudian kesemuanya terus
mengerjakan umrah.
Saat pulang, syeikh teringat kepada anak tadi,
lalu datang menziarahi makam anak itu. Ketika
syeikh melihat keadaan makam itu, menjadi
bingung. Karena kubur itu diluar kota Madinah
tapi berangsur-angsur bergeser masuk kota
Madinah mendekati makam Sayyidina
Muhammad Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa
Sallam. Maka menangislah Syeikh Abdurrahman
Ad-Diba'i. Sampai sekarang makam tersebut
masih ada dan makam tersebut ada di seberang
Masjid Nabawi.
''Wahai anak kecil betapa hebat dan mulianya
engkau, sewaktu kecil kau rindu hendak ziarah ke
makam Sayyidina Muhammad Rasulullah SAW,
dan sewaktu kau wafat kau juga rindu kepada
Rasulullah...''
Syeikh Abdurrahman Ad-Diba'i pun menangis di
dalam rumahnya “Aku ini adalah seorang imam
tapi aku malu melihat kecintaan seorang anak
yang sangat mencintai Rasulullah SAW. Dan sang
Imam pun menulis riwayat perjalanan anak kecil
tersebut di Maulidnya.
Hebatnya cinta anak kecil kepada Habibana
Sayyidina Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam.
Referensi:
Diambil dari beberapa sumber
Dikisahkan pula oleh: Habib Ali Zainal Abidin Al
Kaff
Sabtu, 05 Desember 2015
PARA PENGIKUT DAJJAL
Kemunculan Dajjal merupakan
puncak dari munculnya fitnah paling
besar dan mengerikan di muka bumi
ini bagi umat manusia khususnya
umat Muslim. Kemunculannya di
akhir zaman, di masa imam Mahdi
dan Nabi Isa ‘alaihis salam, akan
banyak mempengaruhi besar bagi
umat muslim sehingga banyak yang
mengikutinya kecuali orang-orang
yang Allah jaga dari fitnahnya.
Dalam hadits disebutkan :
ﻗﺎﻡ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﻓﻲ
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻓﺄﺛﻨﻰ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻤﺎ ﻫﻮ ﺃﻫﻠﻪ، ﺛﻢ ﺫﻛﺮ
ﺍﻟﺪﺟﺎﻝ ﻓﻘﺎﻝ : " ﺇﻧﻲ ﻷﻧﺬﺭﻛﻤﻮﻩ، ﻭﻣﺎ ﻣﻦ ﻧﺒﻲ
ﺇﻻ ﻭﻗﺪ ﺃﻧﺬﺭ ﻗﻮﻣﻪ
“ Rasulullah shallahu ‘alaihi wa
sallam berdiri di hadapan manusia
dan memuji keagungan Allah,
kemudian beliau menyebutkan Dajjal
lalu mengatakan : “ Sesungguhnya
aku memperingatkan kalian akan
dajjal, tidak ada satu pun seorang
nabi, kecuali telah memperingatkan
umatnya akan dajjal “. (HR. Bukhari :
6705)
Dalam hadits lain, Nabi bersabda :
ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﺑﻠﺪ ﺇﻻ ﺳﻴﻄﺆﻩ ﺍﻟﺪﺟﺎﻝ
“ Tidak ada satu pun negeri, kecuali
akan didatangi oleh dajjal “. (HR.
Bukhari : 1782)
Pada kesempatan ini, saya tidak
menjelaskan sepak terjang dajjal,
namun saya akan sedikit membahas
sebagian kaum yang menjadi
pengikut dajjal. Dan kali ini, saya
tidak mengungkap semua kaum yang
mengikuti dajjal, namun saya akan
menyinggung satu persoalan yang
cukup menarik yang telah
diinformasikan oleh nabi bahwa ada
kelompok umatnya yang akan
menjadi pengikut setia dajjal,
padahal sebelumnya mereka ahli
ibadah bahkan ibadah mereka
melebihi ibadah umat Nabi
Muhammad lainnya, mereka rajin
membaca al-Quran, sering
membawakan hadits Nabi, bahkan
mengajak kembali pada al-Quran.
Namun pada akhirnya mereka
menjadi pengikut dajjal, apa yang
menyebabkan mereka terpengaruh
oleh dajjal dan menjadi pengikut
setianya ? simak uraiannya berikut :
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
ﺇﻥَّ ﻣِﻦ ﺑﻌْﺪِﻱ ﻣِﻦْ ﺃُﻣَّﺘِﻲ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﻳَﻘْﺮَﺅُﻥَ ﺍْﻟﻘُﺮﺁﻥَ ﻻَ
ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺣَﻼَﻗِﻤَﻬُﻢْ ﻳَﻘْﺘُﻠُﻮْﻥَ ﺃَﻫْﻞَ ﺍْﻹﺳْﻼَﻡِ
ﻭَﻳَﺪَﻋُﻮْﻥَ ﺃَﻫْﻞَ ﺍْﻷَﻭْﺛَﺎﻥِ، ﻳَﻤْﺮُﻗُﻮْﻥَ ﻣِﻦَ ﺍْﻹﺳْﻼَﻡِ
ﻛﻤَﺎ ﻳَﻤْﺮُﻕُ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢُ ﻣَﻦَ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ، ﻟَﺌِﻦْ ﺃَﺩْﺭَﻛْﺘُﻬُﻢْ
ﻟَﺄَﻗْﺘُﻠَﻨَّﻬُﻢْ ﻗَﺘْﻞَ ﻋَﺎﺩٍ
“ Sesungguhnya setelah wafatku
kelak akan ada kaum yang pandai
membaca al-Quran tetapi tidak
sampai melewati kerongkongan
mereka. Mereka membunuh orang
Islam dan membiarkan penyembah
berhala, mereka lepas dari Islam
seperti panah yang lepas dari
busurnya seandainya (usiaku
panjang dan) menjumpai mereka
(kelak), maka aku akan memerangi
mereka seperti memerangi (Nabi
Hud) kepada kaum ‘Aad “.(HR. Abu
Daud, kitab Al-Adab bab Qitaalul
Khawaarij : 4738)
Nabi juga bersabda :
ﺳَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻰ ﺃُﻣَّﺘِﻰ ﺍﺧْﺘِﻼَﻑٌ ﻭَﻓُﺮْﻗَﺔٌ ﻗَﻮْﻡٌ
ﻳُﺤْﺴِﻨُﻮﻥَ ﺍﻟْﻘِﻴﻞَ ﻭَﻳُﺴِﻴﺌُﻮﻥَ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞَ ﻭَﻳَﻘْﺮَﺀُﻭﻥَ
ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻻَ ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺗَﺮَﺍﻗِﻴَﻬُﻢْ ﻳَﻤْﺮُﻗُﻮﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ
ﻣُﺮُﻭﻕَ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ ﻻَ ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ ﺣَﺘَّﻰ
ﻳَﺮْﺗَﺪَّ ﻋَﻠَﻰ ﻓُﻮﻗِﻪِ ﻫُﻢْ ﺷَﺮُّ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖِ ﻭَﺍﻟْﺨَﻠِﻴﻘَﺔِ
ﻃُﻮﺑَﻰ ﻟِﻤَﻦْ ﻗَﺘَﻠَﻬُﻢْ ﻭَﻗَﺘَﻠُﻮﻩُ ﻳَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺇِﻟَﻰ ﻛِﺘَﺎﺏِ
ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻟَﻴْﺴُﻮﺍ ﻣِﻨْﻪُ ﻓِﻰ ﺷَﻰْﺀٍ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﺗَﻠَﻬُﻢْ ﻛَﺎﻥَ
ﺃَﻭْﻟَﻰ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ
ﺳِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻗَﺎﻝَ : ﺍﻟﺘَّﺤْﻠِﻴﻖُ
“ Akan ada perselisihan dan
perseteruan pada umatku, suatu
kaum yang memperbagus ucapan
dan memperjelek perbuatan, mereka
membaca Al-Quran tetapi tidak
melewati kerongkongan, mereka
lepas dari Islam sebagaimana anak
panah lepas dari busurnya, mereka
tidak akan kembali (pada Islam)
hingga panah itu kembali pada
busurnya. Mereka seburuk-buruknya
makhluk. Beruntunglah orang yang
membunuh mereka atau dibunuh
mereka. Mereka mengajak pada kitab
Allah tetapi justru mereka tidak
mendapat bagian sedikitpun dari Al-
Quran. Barangsiapa yang memerangi
mereka, maka orang yang
memerangi lebih baik di sisi Allah
dari mereka “, para sahabat bertanya
“ Wahai Rasul Allah, apa cirri khas
mereka? Rasul menjawab “ Bercukur
gundul “.(Sunan Abu Daud : 4765)
Nabi juga bersabda :
ﺳَﻴَﺨْﺮُﺝُ ﻓِﻲ ﺁﺧِﺮِ ﺍﻟﺰَّﻣﺎﻥِ ﻗَﻮﻡٌ ﺃَﺣْﺪَﺍﺙُ ﺍْﻷَﺳْﻨَﺎﻥِ
ﺳُﻔَﻬَﺎﺀُ ﺍْﻷَﺣْﻼَﻡِ ﻳَﻘُﻮْﻟُﻮْﻥَ ﻗَﻮْﻝَ ﺧَﻴْﺮِ ﺍﻟْﺒَﺮِﻳَّﺔِ
ﻳَﻘْﺮَﺅُﻭﻥَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺁﻥَ ﻻَ ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺣَﻨَﺎﺟِﺮَﻫُﻢْ ﻳَﻤْﺮُﻗُﻮْﻥَ
ﻣِﻦَ ﺍﻟﺪِّﻳْﻦَ ﻛَﻤَﺎ ﻳَﻤْﺮُﻕُ ﺍﻟﺴَّﻬْﻢُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﻣِﻴَّﺔِ ، ﻓَﺈﺫَﺍ
ﻟَﻘِﻴْﺘُﻤُﻮْﻫُﻢْ ﻓَﺎﻗْﺘُﻠُﻮْﻫُﻢْ ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻗَﺘْﻠَﻬُﻢْ ﺃَﺟْﺮﺍً ﻟِﻤَﻦْ
ﻗَﺘَﻠَﻬُﻢْ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍْﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔ
“ Akan keluar di akhir zaman, suatu
kaum yang masih muda, berucap
dengan ucapan sbeaik-baik manusia
(Hadits Nabi), membaca Al-Quran
tetapi tidak melewati kerongkongan
mereka, mereka keluar dari agama
Islam sebagaimana anak panah
meluncur dari busurnya, maka jika
kalian berjumpa dengan mereka,
perangilah mereka, karena
memerangi mereka menuai pahala di
sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR.
Imam Bukhari 3342)
Dalam hadits lain Nabi bersabda :
ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻧَﺎﺱٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻤَﺸْﺮِﻕِ ﻳَﻘْﺮَﺅُﻭﻥَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺍﻥَ ﻟَﺎ
ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺗَﺮَﺍﻗِﻴَﻬُﻢْ ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﻗَﻄَﻊَ ﻗَﺮْﻥٌ ﻧَﺸَﺄَ ﻗَﺮْﻥٌ ﺣَﺘَّﻰ
ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺁﺧِﺮُﻫُﻢْ ﻣَﻊَ ﺍْﻟﻤَﺴِﻴْﺦِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِ
“ Akan muncul sekelompok manusia
dari arah Timur, yang membaca al-
Quran namun tidak melewati
tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn
(kurun / generasi) mereka putus,
maka muncul generasi berikutnya
hingga generasi akhir mereka akan
bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam
Thabrani di dalam Al-Kabirnya,
imam imam Abu Nu’aim di dalam
Hilyahnya dan imam Ahmad di
dalam musnadnya)
Ketika sayyidina Ali dan para
pengikutnya selesai berperang di
Nahrawain, seseorang berkata :
ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﺑَﺎﺩَﻫُﻢْ ﻭَﺃَﺭَﺍﺣَﻨَﺎ ﻣِﻨْﻬُﻢْ
“ Alhamdulillah yang telah
membinasakan mereka dan
mengistirahatkan kita dari mereka “,
maka sayyidina Ali menyautinya :
ﻛَﻼَّ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺇِﻥَّ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻟَﻤَﻦْ ﻫُﻮَ ﻓِﻲ
ﺃَﺻْﻼَﺏِ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ ﻟَﻢْ ﺗَﺤْﻤِﻠْﻪُ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﻭَﻟِﻴَﻜُﻮْﻧَﻦَّ
ﺁﺧِﺮَﻫُﻢْ ﻣَﻊَ ﺍْﻟﻤَﺴِﻴْﺢِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝ
“ Sungguh tidak demikian, demi
jiwaku yang berada dalam
genggaman-Nya, sesungguhnya akan
ada keturunan dari mereka yang
masih berada di sulbi-sulbi ayahnya
dan kelak keturunan akhir mereka
akan bersama dajjal “.
Penjelasan :
Dalam hadits di atas Nabi
menginformasikan pada kita
bahwasanya akan ada sekelompok
manusia dari umat Nabi yang lepas
dari agama Islam sebagaimana
lepasnya anak panah dari busurnya
dengan sifat dan ciri-ciri yang Nabi
sebutkan sebagai berikut dalam
hadits-haditsnya di atas :
1. Senantiasa membaca al-Quran,
Namun kata Nabi bacaanya tidak
sampai melewati tenggorokannya
artinya tidak membawa bekas dalam
hatinya.
2. Suka memerangi umat Islam.
3. Membiarkan orang-orang kafir.
4. Memperbagus ucapan, namun
parkteknya buruk.
5. Selalu mengajak kembali pada al-
Quran, namun sejatinya al-Quran
berlepas darinya.
6. Bercukur gundul.
7. Berusia muda.
8. Lemahnya akal.
9. Kemunculannya di akhir zaman.
10. Generasi mereka akan terus
berlanjut dan eksis hingga menajdi
pengikut dajjal.
Jika kita mau mengkaji, meneliti dan
merenungi data-data hadits di atas
dan melihat realita yang terjadi di
tengah-tengah umat akhir zaman ini,
maka sungguh sifat dan cirri-ciri
yang telah Nabi sebutkan di atas,
telah sesuai dengan kelompok yang
selalu teriak lantang kembali pada al-
Quran dan hadits, kelompok yang
senantiasa mempermaslahkan
urusan furu’iyyah ke tengah-tengah
umat, kelompok yang mengaku
mengikut manhaj salaf, kelompok
yang senantiasa membawakan
hadits-hadits Nabi shallahu ‘alaihi wa
sallam yaitu tidak ada lain adalah
wahhabi yang sekarang
bermetomorfosis menjadi salafi.
Membaca al-Quran dan selalu
membawakan hadist-hadits Nabi
adalah perbuatan baik dan mulia,
namun kenapa Nabi menjadikan hal
itu sebagai tanda kaum yang telah
keluar dari agama tersebut?? Tidak
ada lain, agar umat ini tidak tertipu
dengan slogan dan perilaku mereka
yang seakan-akan membawa
maslahat bagi agama Islam. Ciri
mereka yang suka memerangi umat
Islam, tidak samar dan tidak
diragukan lagi, sejarah telah
mencatat dan mengakui sejarah
berdarah mereka di awal
kemuculannnya, ribuan umat Islam
dari kalangan awam maupun
ulamanya telah menjadi korban
berdarah mereka hanya karena
melakukan amaliah yang mereka
anggap perbuatan syirik dan kufr
dan dianggap telah menentang
dakwah mereka. Namun dengan
musuh Islam yang sesungguhnya,
justru mereka biarkan bahkan
hingga saat ini mereka akrab dengan
kaum kafir, adakah sejarahnya
mereka memerangi kaum kafir??
Ciri berikutnya adalah memperbagus
ucapan namun prakteknya buruk,
mereka jika berbicara dengan
lawannya selalu mengutarakan ayat-
ayat al-Quran dan hadits, namun
ucapanya tersebut tidaklah
dinyatakan dalam prakteknya,
kadang mereka membaca mushaf al-
Quran pun sambil tiduran tanpa ada
adabnya sama sekali.
Ciri berikutnya adalah mereka
senantiasa berkoar-koar kepada
kaum muslimin lainnya agar kembali
pada al-Quran. Tanda mereka ini
sangat nyata dan kentara kita
ketahui pada realita saat ini, kaum
wahabi selalu teriak kepada kaum
muslimin untuk kembali pada Al-
Quran. Ahlus sunnah selalu
mengajak pada Al-Quran karena
ajaran mereka memang bersumber
dari Al-Quran, namun kenapa Allah
menjadikan sifat ini sebagai tanda
pada kaum neo khawarij (wahabi)
ini?? Sebab merekalah satu-satunya
kelompok yang dikenali dikalangan
awam yang selalu teriak mengajak
pada Al-Quran sedangkan Al-Quran
sendiri berlepas diri dari mereka.
Sehingga hal ini (yad’uuna ilaa
kitabillah; mengajak kepada Al-
Quran) menjadi tanda atas kelompok
ini bukan pada kelompok khawarij
lainnya.
Tanda mereka adalah bercukur
gundul, Hal ini menambah
keyakinan kita bahwa yang
dimaksud oleh Nabi dalam tanda ini
adalah tidak ada lain kelompok
wahabi. Tidak ada satu pun
kelompok ahli bid’ah yang
melakukan kebiasaan dan
melazimkan mencukur gundul selain
kelompok wahabi ini, mereka
kelompok sesat lainnya hanya
bercukur gundul pada saat ibadah
haji dan umrah saja sama seperti
kaum muslimin Ahlus sunnah.
Namun kelompok wahabi ini
menjadikan mencukur gundul ini
suatu kelaziman bagi pengikut
mereka kapan pun dan dimana pun.
Bercukur gundul ini pun telah diakui
oleh Tokoh mereka; Abdul Aziz bin
Hamd (cucu Muhammad bin Abdul
Wahhab) dalam kitabnya Majmu’ah
Ar-Rasaail wal masaail : 578.
Cirri berikutnya adalah berusia
muda dan akalnya lemah, Mereka
pada umumnya masih berusia muda
tetapi lemah akalnya, atau itu adalah
sebuah kalimat majaz yang
bermakna orang-orang yang kurang
berpengalaman atau kurang
berkompetensi dalam memahami Al
Qur’an dan As Sunnah. Subyektivitas
dengan daya dukung pemaham yang
lemah dalam memahaminya, bahkan
menafsiri ayat-ayat Al-Qur`an
dengan mengedepankan fanatik dan
emosional golongan mereka sendiri.
Kemunculan kaum ini ada di akhir
zaman sebagaimana hadits Nabi di
atas, kemudian generasi mereka juga
akan terus berlanjut hingga generasi
akhir mereka akan bersama dajjal
menjadi pengikut setianya.
Namun apa yang menyebabkan
mereka terpengaruh oleh dajjal dan
menjadi pengikut dajjal ?? berikut
kajian dan analisa ilmiyyahnya :
Sebab pertama : Wahabi
beraqidahkan tajsim dan tsyabih.
Sudah maklum dalam kitab-kitab
mereka bahwa mereka meyakini
Allah itu memiliki organ-organ tubuh
seperti wajah, mata, mulut, hidung,
tangan, kaki, jari dan sebagainya,
dan mereka mengatakan bahwa
organ tubuh Allah tidak seperti organ
tubuh makhluk-Nya.
Mereka juga meyakini bahwa Allah
bertempat yaitu di Arsy, mereka juga
memaknai istiwa dengan
bersemayam dan duduk dan
menyatakan semayam dan duduknya
Allah tidak seperti makhluk-Nya.
Mereka meyakini Allah turun ke
langit dunia dari atas ke bawah di
sepertiga malam terakhir, dan
meyakini bahwa ketika Allah turun
maka Arsy kosong dari Allah namun
menurut pendapat kuat mereka
Arasy tidak kosong dari Allah.
Sungguh mereka telah memasukkan
Allah dalam permainan pikiran
mereka yang sakit itu. Dan lain
sebagainya dari pensifatan mereka
bahwa Allah berjisim..
Nah, demikian juga dajjal,
renungkanlah kisah dajjal yang
disebutkan oleh Nabi dalam hadts-
hadits sahihnya, bahwasanya dajjal
itu berjisim, berorgan tubuh,
memiliki batasan, dia berjalan secara
hakikatnya, dia turun secara
hakikatnya, dia berlari kecil secara
hakikatnya, dia memiliki kaki secara
hakikat, memiliki tangan secara
hakikat, memiliki mata secara
hakikat, memiliki wajah secara
hakikat dan lain sebagainya..dan
tidak ada lain yang menyebabkan
mereka mengakui dajjal sebagai
tuhannya kecuali karena
berlebihannya mereka di dalam
menetapkan sifat-sifat Allah tersebut
dan memperdalam makna-maknanya
hingga sampai pada derajat tajsim.
Perhatikan dan renungkan sabda
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam
berikut :
ﺇﻧﻲ ﺣﺪﺛﺘﻜﻢ ﻋﻦ ﺍﻟﺪﺟﺎﻝ، ﺣﺘﻰ ﺧﺸﻴﺖ ﺃﻥ ﻻ
ﺗﻌﻘﻠﻮﺍ ، ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺴﻴﺢ ﺍﻟﺪﺟﺎﻝ ﻗﺼﻴﺮ ﺃﻓﺤﺞ ،
ﺟﻌﺪ ﺃﻋﻮﺭ ، ﻣﻄﻤﻮﺱ ﺍﻟﻌﻴﻦ ، ﻟﻴﺴﺖ ﺑﻨﺎﺗﺌﺔ ،
ﻭﻻ ﺟﺤﺮﺍﺀ ، ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺘﺒﺲ ﻋﻠﻴﻜﻢ ، ﻓﺎﻋﻠﻤﻮﺍ ﺃﻥ
ﺭﺑﻜﻢ ﻟﻴﺲ ﺑﺄﻋﻮﺭ
“ Sesungguhnya aku ceritkan pada
kalian tentang dajjal, karena aku
khawatir kalian tidak bisa
mengenalinya, sesungguhnya dajjal
itu pendek lagi congkak, ranbutnya
keriting (kribo), matanya buta
sebelah dan tidak menonjol dan
cengkung, jika kalian masih samar,
maka ketahuilah sesungguhnya
Tuhan kalian tidaklah buta sebelah
matanya “. (HR. Abu Dawud)
Nabi benar-benar khawatir umatnya
tidak bisa mengenali dajjal, dan Nabi
menyebutkan cirri-ciri dajjal yang
semuanya itu bermuara pada jisim,
dan menyebutkan aib-aib yang
disepakati oleh kaum musyabbih dan
sunni yang mutanazzih, namun
kaum musyabbihah (wahabi-salafi)
sangat mendominasi pada pemikiran
tajsimnya sehingga bagi mereka
Allah Maha melakukan apapun, dan
Allah maha Mampu atas segala
sesuatu, bahkan menurut mereka
kemampuan Allah memungkinkan
berkaitan dengan perkara yang
mustahil bagi-Nya yang seharusnya
kita sucikan, sehingga berkatalah
sebagian mereka : Bahwa Allah jika
berkehendak untuk bersemayam di
punggung nyamuk, maka Allah pun
akan bersemayam di atasnya.
Naudzu billahi min dzaalik..
Sebab kedua : Tidak adanya
pehamahan mereka tentang perkara-
perkara di luar kebiasaan
(khawariqul ‘aadah) atau disebut
karomah.
Realita yang ada saat ini, kaum
wahhabi-salafi tidak pernah
membicarakan tentang khawariqul
‘aadah atau karomah, bahkan
mereka mengingkari karomah-
karomah para wali Allah yang
disebutkan oleh para ulama hafidz
hadits seperti al-Hafidz Abu Nu’aim
dalam kitab hilyahnya, imam Khatib
al-Baghdadi dalam kitab Tarikhnya
dan lainnya, bahkan mereka
memvonis kafir kepada sebagian
para wali Allah yang mayoritas ahli
tasawwuf. Mereka tidak bisa
mencerna karomah-karomah para
wali yang ada sehingga tidak
mempercayai imdadaat ruhiyyah
(perkara luar biasa yang bersifat
ruh) yang Allah berlakukan di
tangan para wali-Nya yang bertaqwa
sebagai kemuliaan Allah atas
mereka.
Sedangkan dajjal akan dating dengan
kesaktian-kesaktian yang lebih hebat
dan luar biasa sebagai fitnah bagi
orang yang Allah kehendaki,
menumbuhkan tanah yang kering,
menurunkan hujan, memunculkan
harta duniawi, emas, permata,
menghidupkan orang yang mati dan
lain sebagainya, sedangkan kaum
wahhabi tidak perneh membicarakan
khawariqul ‘aadat semacam itu,
sehingg akal mereka tidak mampu
membenarkannya, oleh sebab itu
ketika dajjal muncul dengan
membawa khowariqul ‘aadat
semacam itu disertai pengakuan
rububiyyahnya, maka bagi wahabi
dajjal itu adalah Allah, karena
wahabi tidak mengathui sama sekali
tentang khowariqul ‘aadat yang Allah
jalankan atas seorang dari golongan
manusia, mereka pun tidak mampu
membedakan antara pelaku secara
hakikatnya dan semata-semata
sebab / perantaranya, maka
bercampurlah pemahaman mereka
antara kekhususan sang pencipta
dengan makhluk-Nya. Seandainya
mereka mengetahui bahwa apa yang
terjadi dari khowariqul ‘aadat
hanyalah semata-mata dari qudrah
Allah, dan manusia hanyalah
perantara, maka wahabi tidak akan
heran atas apa yang dilakukan dajjal.
Dan seandainya kaum wahabi
bertafakkur atas khowariqul ‘aadat
yang terjadi dari para Nabi dan wali,
maka wahabi tidak akan terkena
fitnah oleh khowariqul ‘aadat yang
terjadi dari dajjal sebagai bentuk
istidraajnya.
Yang membedakan khowariqul
‘aadat yang terjadi atas para Nabi
dan dajjal adalah bahwa para nabi
memperoleh hal itu sebagai penguat
kebenaran yang mereka serukan,
sedangkan dajjal memperolah hal itu
sebagai fitnah atas seseorang yang
mengaku rububiyyah, perkara hal itu
sama-sama perkara khowariqul
‘aadat (perkara luar biasa).
Sebab ketiga : Bermanhaj khowarij
yakni keluar dari jama’ah muslimin
dan mengkafirkan kaum muslimin.
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam
mensifati pengikut dajjal
bahwasanya mereka adalah kaum
khowarij, sebagaimana sebagian
telah dijelaskan di awal :
ﻳَﺨْﺮُﺝُ ﻧَﺎﺱٌ ﻣِﻦَ ﺍْﻟﻤَﺸْﺮِﻕِ ﻳَﻘْﺮَﺅُﻭﻥَ ﺍْﻟﻘُﺮْﺍﻥَ ﻟَﺎ
ﻳُﺠَﺎﻭِﺯُ ﺗَﺮَﺍﻗِﻴَﻬُﻢْ ﻛُﻠَّﻤَﺎ ﻗَﻄَﻊَ ﻗَﺮْﻥٌ ﻧَﺸَﺄَ ﻗَﺮْﻥٌ ﺣَﺘَّﻰ
ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﺁﺧِﺮُﻫُﻢْ ﻣَﻊَ ﺍْﻟﻤَﺴِﻴْﺦِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِ
“ Akan muncul sekelompok manusia
dari arah Timur, yang membaca al-
Quran namun tidak melewati
tenggorokan mereka. Tiap kali Qarn
(kurun / generasi) mereka putus,
maka muncul generasi berikutnya
hingga generasi akhir mereka akan
bersama dajjal “ (Diriwayatkan imam
Thabrani di dalam Al-Kabirnya,
imam imam Abu Nu’aim di dalam
Hilyahnya dan imam Ahmad di
dalam musnadnya)
Arah Timur yang Nabi maksud tidak
ada lain adalah arah Timur kota
Madinah yaitu Najd sebab Nabi
shallahu ‘alaihi wa sallam telah
menspesifikasikan letak posisinya
yaitu tempat dimana ciri-ciri khas
penduduknya orang-orang yang
memiliki banyak unta dan baduwi
yang berwatak keras dan berhati
kasar dan tempat di mana
menetapnya suku Mudhar dan
Rabi’ah, dan semua itu hanya ada di
Najd Saudi Arabia, Nabi bersabda :
ﻣِﻦْ ﻫَﺎ ﻫُﻨَﺎ ﺟَﺎﺀَﺕِ ﺍْﻟﻔِﺘَﻦُ ، ﻧَﺤْﻮَ ﺍْﻟﻤَﺸْﺮِﻕِ ،
ﻭَﺍْﻟﺠَﻔَﺎﺀُ ﻭَﻏِﻠَﻆُ ﺍْﻟﻘُﻠﻮْﺏِ ﻓﻲِ ﺍْﻟﻔَﺪَّﺍﺩِﻳﻦَ ﺃَﻫْﻞُ
ﺍْﻟﻮَﺑَﺮِ ، ﻋِﻨْﺪَ ﺃُﺻُﻮْﻝِ ﺃَﺫْﻧَﺎﺏِ ﺍْﻹِﺑِﻞِ ﻭَﺍْﻟَﺒﻘَﺮِ ،ﻓِﻲ
ﺭَﺑِﻴْﻌَﺔْ ﻭَﻣُﻀَﺮً
“Dari sinilah fitnah-fitnah akan
bermunculan, dari arah Timur, dan
sifat kasar juga kerasnya hati pada
orang-orang yang sibuk mengurus
onta dan sapi, kaum Baduwi yaitu
pada kaum Rabi’ah dan Mudhar “.
(HR. Bukhari)
Maka kaum wahhabi-salafi ini
adalah regenerasi dari kaum
khowarij pertama di masa Nabi dan
sahabat, perbedaaanya kaum
khowarij pertama bermanhaj
mu’aththilah (membatalkan sifat-sifat
Allah), sedangkan kaum neo
khowarij (wahhabi) ini bermanhaj
tajsim dan taysbiih. Walaupun
berbeda, namun sama-sama
menyimpang dari aqidah Islam, dan
Allah merubah manhaj mereka dari
kejelekan menuju manhaj yang lebih
jelek lagi sebagai balasan atas
kedhaliman dan kesombongan yang
memenuhi hati mereka. Atas manhaj
tajsim mereka inilah menjadi
penyebab wahhabi mudah
terpengaruh oleh dajjal, sedangkan
khowarij terdahulu jika masih ada yg
mengikuti manhaj ta’thilnya tidak
mungkin terpengaruh oleh dajjal,
sebab sangat anti terhadap sifat-sifat
Allah, mereka mensucikan Allah dari
sifat gerak, pindah, bersemayam,
diam, duduk, turun dan sebagainya
bahkan mereka membatalkan sifat-
sifat wajib Allah.
Maka dengan jelas wahabi kelak
akan menjadi penikut dajjal, naudzu
billahi min syarril wahhabiyyah wa
imaamihim dajjal..