Rabu, 16 Desember 2015

Keutamaan maulid rasul saw

Di dalam kitab "An-Ni'matul Kubra 'alal 'Alami fi
Maulidi Sayyidi Waladi Adam" halaman 5-7, karya
Imam Ibnu Hajar al-Haitami (909-974 H. /
1503-1566 M.), cetakan "Maktabah al-Haqiqat"
Istambul Turki, diterangkan tentang keutamaan-
keutamaan memperingati maulid Nabi
Muhammad saw sebagai berikut:

1. Sayyiina Abu Bakar RA. berkata:
ﻣﻦ ﺃﻧﻔﻖ ﺩﺭﻫﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻥ
ﺭﻓﻴﻘﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ
Artinya:
----------
"Barangsiapa menyebarkan luaskan dan
membelanjakan satu dirham (uang emas) untuk
malam lahirku mengadakan pembacaan Maulid
Nabi SAW, maka ia akan menjadi temanku di
surga.”
2. Berkata Sayyidina Umar RA.:
ﻣﻦ ﻋﻈﻢ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺪ ﺃﺣﻴﺎ
ﺍﻹﺳﻼﻡ
Artinya:
----------
“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW,
maka sesungguhnya ia telah menghidupkan
Islam.”
3. Berkata Sayyidina Utsman RA.:
ﻣﻦ ﺃﻧﻔﻖ ﺩﺭﻫﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻜﺄﻧﻤﺎ ﺷﻬﺪ ﻏﺰﻭﺓ ﺑﺪﺭ ﻭﺣﻨﻴﻦ
Artinya:
----------
“Barangsiapa membelanjakan satu dirham (uang
mas) untuk mengadakan pembacaan Maulid Nabi
dimalam lahirku SAW, maka seakan-akan ia ikut-
serta menyaksikan perang Badar dan Hunain.”
4. Sayyidina Ali RA. berkata:
ﻣﻦ ﻋﻈﻢ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻛﺎﻥ ﺳﺒﺒﺎ
ﻟﻘﺮﺍﺀﺗﻪ ﻻ ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺇﻻ ﺑﺎﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﻳﺪﺧﻞ ﺍﻟﺠﻨﺔ
ﺑﻐﻴﺮ ﺣﺴﺎﺏ
Artinya:
----------
“Barangsiapa mengagungkan Maulid Nabi SAW,
dan ia menjadi sebab dilaksanakannya
pembacaan maulid Nabi dimalam lahirku, maka
tidaklah ia keluar dari dunia melainkan dengan
keimanan dan akan dimasukkan ke dalam surga
tanpa hisab.”
5. Imam Hasan Bashri RA. berkata:
ﻭﺩﺩﺕ ﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻟﻲ ﻣﺜﻞ ﺟﺒﻞ ﺃﺣﺪ ﺫﻫﺒﺎ ﻓﺄﻧﻔﻘﺘﻪ ﻋﻠﻰ
ﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
Artinya:
----------
“Aku senang sekali seandainya aku memiliki
emas sebesar gunung Uhud, maka aku akan
membelanjakannya untuk kepentingan
memperingati maulid Nabi SAW.”
6. Imam Junaedi al-Baghdadi, semoga Allah
membersihkan sir (rahasia)-nya, berkata:
ﻣﻦ ﺣﻀﺮ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻋﻈﻢ ﻗﺪﺭﻩ
ﻓﻘﺪ ﻓﺎﺯ ﺑﺎﻹﻳﻤﺎﻥ
Artinya:
----------
“Barangsiapa menghadiri malam peringatan
Maulid Nabi SAW dan mengagungkan derajat
beliau, maka sesungguhnya ia akan memperoleh
kebahagian dengan penuh keimanan.”
7. Imam Ma'ruf al-Karkhi, semoga Allah
membersihkan sir (rahasia)-nya:
ﻣﻦ ﻫﻴﺄ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻷﺟﻞ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ
ﺳﻠﻢ ﻭ ﺟﻤﻊ ﺍﺧﻮﺍﻧﺎ ﻭ ﺃﻭﻗﺪ ﺳﺮﺍﺟﺎ ﻭ ﻟﺒﺲ ﺟﺪﻳﺪﺍ ﻭ ﺗﺒﺨﺮ
ﻭ ﺗﻌﻄﺮ ﺗﻌﻈﻴﻤﺎ ﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ
ﺣﺸﺮﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﻔﺮﻗﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ﻭ
ﻛﺎﻥ ﻓﻰ ﺃﻋﻠﻰ ﻋﻠﻴﻴﻦ
Artrinya:
----------
“Barangsiapa menyediakan makanan untuk
peringatan pembacaan Maulid Nabi SAW,
mengumpulkan saudara-saudaranya, menyalakan
lampu, memakai pakaian yang baru, memasang
harum-haruman dan memakai wangi-wangian
karena mengagungkan malam kelahiran Nabi
SAW, niscaya Allah akan mengumpulkannya pada
hari kiamat bersama golongan orang-orang yang
pertama di kalangan para nabi dan dia akan
ditempatkan di syurga yang paling atas (‘Illiyyin).”
8. Imam Fakhruddin ar-Razi berkata:
: ﻣﺎ ﻣﻦ ﺷﺨﺺ ﻗﺮﺃ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
ﻋﻠﻰ ﻣﻠﺢ ﺃﻭ ﺑﺮ ﺃﻭ ﺷﻴﺊ ﺃﺧﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺄﻛﻮﻻﺕ ﺍﻻ ﻇﻬﺮﺕ
ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻭ ﻓﻰ ﻛﻞ ﺷﻴﺊ ﻭﺻﻞ ﺍﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺄﻛﻮﻝ
ﻓﺎﻧﻪ ﻳﻀﻄﺮﺏ ﻭ ﻻ ﻳﺴﺘﻘﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﻐﻔﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﻷﻛﻠﻪ ﻭﺍﻥ ﻗﺮﺉ
ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﺎﺀ ﻓﻤﻦ ﺷﺮﺏ
ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺎﺀ ﺩﺧﻞ ﻗﻠﺒﻪ ﺃﻟﻒ ﻧﻮﺭ ﻭ ﺭﺣﻤﺔ ﻭ ﺧﺮﺝ ﻣﻨﻪ
ﺃﻟﻒ ﻏﻞ ﻭ ﻋﻠﺔ ﻭ ﻻ ﻳﻤﻮﺕ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻳﻮﻡ ﺗﻤﻮﺕ ﺍﻟﻘﻠﻮﺏ
. ﻭ ﻣﻦ ﻗﺮﺃ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ
ﺩﺭﺍﻫﻢ ﻣﺴﻜﻮﻛﺔ ﻓﻀﺔ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻭ ﺫﻫﺒﺎ ﻭ ﺧﻠﻂ ﺗﻠﻚ
ﺍﻟﺪﺭﺍﻫﻢ ﺑﻐﻴﺮﻫﺎ ﻭ ﻗﻌﺖ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺒﺮﻛﺔ ﻭ ﻻ ﻳﻔﺘﻘﺮ ﺻﺎﺣﺒﻬﺎ
ﻭ ﻻ ﺗﻔﺮﻍ ﻳﺪﻩ ﺑﺒﺮﻛﺔ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ
Artinya:
----------
“Tidaklah seseorang yang membaca maulid Nabi
saw. ke atas garam atau gandum atau makanan
yang lain, melainkan akan tampak keberkatan
padanya, dan setiap sesuatu yang sampai
kepadanya (dimasuki) dari makanan tersebut,
maka akan bergoncang dan tidak akan tetap
sehingga Allah akan mengampuni orang yang
memakannya.
Dan sekirannya dibacakan maulid Nabi saw. ke
atas air, maka orang yang meminum seteguk dari
air tersebut akan masuk ke dalam hatinya seribu
cahaya dan rahmat, akan keluar daripadanya
seribu sifat dengki dan penyakit dan tidak akan
mati hati tersebut pada hari dimatikannya hati-
hati itu.
Dan barangsiapa yang membaca maulid Nabi
saw. pada suatu dirham yang ditempa dengan
perak atau emas dan dicampurkan dirham
tersebut dengan yang lainnya, maka akan jatuh
ke atas dirham tersebut keberkahan dan
pemiliknya tidak akan fakir serta tidak akan
kosong tangannya dengan keberkahan Nabi saw.”
9. Imam Syafi'i, semoga Allah merahmatinya,
berkata:
ﻣﻦ ﺟﻤﻊ ﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺧﻮﺍﻧﺎ ﻭﻫﻴﺄ
ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻭﺃﺧﻠﻰ ﻣﻜﺎﻧﺎ ﻭﻋﻤﻞ ﺇﺣﺴﺎﻧﺎ ﻭﺻﺎﺭ ﺳﺒﺒﺎ ﻟﻘﺮﺍﺀﺗﻪ
ﺑﻌﺜﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﺼﺎﺩﻗﻴﻦ ﻭﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀ
ﻭﺍﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺟﻨﺎﺕ ﺍﻟﻨﻌﻴﻢ
Artinya:
----------
“Barangsiapa mengumpulkan saudara-saudaranya
untuk mengadakan Maulid Nabi, dimalam
kelahiranku kemudian menyediakan makanan dan
tempat serta melakukan kebaikan untuk mereka,
dan dia menjadi sebab atas dibacakannya Maulid
Nabi SAW, maka Allah akan membangkitkan dia
bersama-sama golongan shiddiqin (orang-orang
yang benar), syuhada (orang-orang yang mati
syahid), dan shalihin (orang-orang yang shaleh)
dan dia akan dimasukkan ke dalam surga-surga
Na’im.”
10. Imam Sirri Saqathi, semoga Allah
membersihkan sir (bathin)-nya:
ﻣﻦ ﻗﺼﺪ ﻣﻮﺿﻌﺎ ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻴﻪ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺪ ﻗﺼﺪ ﺭﻭﺿﺔ ﻣﻦ ﺭﻳﺎﺽ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻷﻧﻪ ﻣﺎ ﻗﺼﺪ
ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﻮﺿﻊ ﺍﻻ ﻟﻤﺤﺒﺔ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ .
ﻭﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ : ﻣﻦ ﺃﺣﺒﻨﻲ ﻛﺎﻥ ﻣﻌﻲ
ﻓﻰ ﺍﻟﺠﻨﺔ
Artinya:
----------
“Barangsiapa pergi ke suatu tempat yang
dibacakan di dalamnya maulid Nabi saw, maka
sesungguhnya ia telah pergi ke sebuah taman
dari taman-taman syurga, karena tidaklah ia
menuju ke tempat-tempat tersebut melainkan
karena cintanya kepada Nabi saw. Sesungguhnya
Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa
mencintaiku, maka ia akan bersamaku di dalam
syurga.”
11. Imam Jalaluddin as-Suyuthi berkata:
ﻣﺎﻣﻦ ﺑﻴﺖ ﺃﻭ ﻣﺴﺠﺪ ﺃﻭ ﻣﺤﻠﺔ ﻗﺮﺉ ﻓﻴﻪ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﻻ ﺣﻔﺖ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺒﻴﺖ ﺃﻭ
ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﻤﺤﻠﺔ ﻭﺻﻠﺖ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺫﻟﻚ
ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭﻋﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺑﺎﻟﺮﺣﻤﺔ ﻭﺍﻟﺮﺿﻮﺍﻥ .
ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻤﻄﻮﻓﻮﻥ ﺑﺎﻟﻨﻮﺭ ﻳﻌﻨﻰ ﺟﺒﺮﻳﻞ ﻭ ﻣﻴﻜﺎﺋﻴﻞ ﻭ
ﺍﺳﺮﺍﻓﻴﻞ ﻭ ﻋﺰﺭﺍﺋﻴﻞ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻓﺎﻧﻬﻢ
ﻳﺼﻠﻮﻥ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﺳﺒﺒﺎ ﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭ ﺳﻠﻢ . ﻭ ﻗﺎﻝ ﺃﻳﻀﺎ : ﻣﺎ ﻣﻦ ﻣﺴﻠﻢ ﻗﺮﺃ ﻓﻰ ﺑﻴﺘﻪ ﻣﻮﻟﺪ
ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺍﻻ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ
ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺍﻟﻘﺤﻂ ﻭﺍﻟﻮﺑﺎﺀ ﻭﺍﻟﺤﺮﻕ ﻭﺍﻟﻐﺮﻕ ﻭﺍﻷﻓﺎﺕ ﻭﺍﻟﺒﻠﻴﺎﺕ
ﻭﺍﻟﺒﻐﺾ ﻭﺍﻟﺤﺴﺪ ﻭﻋﻴﻦ ﺍﻟﺴﻮﺀ ﻭﺍﻟﻠﺼﻮﺹ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺫﻟﻚ
ﺍﻟﺒﻴﺖ ﻓﺎﺫﺍ ﻣﺎﺕ ﻫﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﺟﻮﺍﺏ ﻣﻨﻜﺮ ﻭﻧﻜﻴﺮ
ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻓﻰ ﻣﻘﻌﺪ ﺻﺪﻕ ﻋﻨﺪ ﻣﻠﻴﻚ ﻣﻘﺘﺪﺭ . ﻓﻤﻦ ﺃﺭﺍﺩ
ﺗﻌﻈﻴﻢ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻜﻔﻴﻪ ﻫﺬﺍ
ﺍﻟﻘﺪﺭ . ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﻨﺪﻩ ﺗﻌﻈﻴﻢ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻟﻮ ﻣﻸﺕ ﻟﻪ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻓﻰ ﻣﺪﺣﻪ ﻟﻢ ﻳﺤﺮﻙ ﻗﻠﺒﻪ
ﻓﻰ ﺍﻟﻤﺤﺒﺔ ﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .
“Tidak ada rumah atau masjid atau tempat yg di
dalamnya dibacakan maulid Nabi SAW melainkan
malaikat akan mengelilingi rumah atau masjid
atau tempat itu, mereka akan memintakan
ampunan untuk penghuni tempat itu, dan Allah
akan melimpahkan rahmat dan keridhaan-Nya
kepada mereka.”
Adapun para malaikat yang dikelilingi dengan
cahaya adalah malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, dan
Izra’il as. Karena, sesungguhnya mereka
memintakan ampunan kepada Allah swt untuk
mereka yang menjadi sebab dibacakannya
pembacaan maulid Nabi saw. Dan, dia berkata
pula: Tidak ada seorang muslimpun yang
dibacakan di dalam rumahnya pembacaan maulid
Nabi saw melainkan Allah swt menghilangkan
kelaparan, wabah penyakit, kebakaran,
tenggelam, bencana, malapetaka, kebencian,
hasud, keburukan makhluk, dan pencuri dari
penghuni rumah itu. Dan, apabila ia meninggal,
maka Allah akan memudahkan jawabannya dari
pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir dan dia
akan berada di tempat duduknya yang benar di
sisi penguasa yang berkuasa. Dan, barangsiapa
ingin mengagungkan maulid Nabi saw, maka
Allah akan mencukupkan derajat ini kepadanya.
Dan, barangsiapa di sisinya tidak ada
pengagungan terhadap maulid Nabi saw,
seandainya penuh baginya dunia di dalam memuji
kepadanya, maka Allah tidak akan menggerakkan
hatinya di dalam kecintaannya terhadap Nabi
saw.”

Sejarah maulid

Memperingati hari kelahiran
(maulid) Nabi sudah ada sejak masa Nabi
shallahhu ‘alaihi wa sallam sendiri. Yakni dari
segi mengagungkan hari di mana Nabi
dilahirkan dengan melakukan suatu ibadah
yaitu berpuasa.
Ketika Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam
ditanya tentang puasa hari senin, beliau
menjawab :
ﺫﺍﻙ ﻳﻮﻡ ﻭﻟﺪﺕ ﻓﻴﻪ ﻭﻳﻮﻡ ﺑﻌﺜﺖ ﺍﻭﺍﻧﺰﻝ ﻋﻠﻲ ﻓﻴﻪ
“ Hari itu hari aku dilahirkan , hari aku diutus
atau diturunkan wahyu kepadaku “ (HR.
Muslim)
Ini merupakan dalil nyata bolehnya
memperingati hari kelahiran (maulid) beliau
yang saat itu dirayakan oleh Nabi dengan
salah satu macam ibadah yaitu berpuasa.
Dan ini merupakan fakta bahwa beliaulah
pertama kali yang mengangungkan hari
kelahirannya sendiri dengan berpuasa. Maka
mengagungkan hari di mana beliau dilahirkan
merupakan sebuah sunnah yang telah Nabi
contohkan sendiri. Ini asal dan esensi dari
acara maulid Nabi.
Kedua : Merayakan, mengagungkan dan
memperingati hari kelahiran (maulid) Nabi
dengan berbagai cara dan program sudah
sejak lama diikuti oleh para ulama dan raja-
raja yang shalih. Kita kupas sejarahnya di sini
:
1. Ibnu Jubair seorang Rohalah [2] (lahir pada
tahun 540 H) mengatakan dalam kitabnya
yang berjudul Rihal :
ﻳﻔﺘﺢ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﺍﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﺃﻱ ﻣﻨﺰﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻳﺪﺧﻠﻪ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻟﻠﺘﺒﺮّﻙ ﺑﻪ ﻓﻲ ﻛﻞ
ﻳﻮﻡ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﻣﻦ ﺷﻬﺮ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﻭﻝ ﻓﻔﻲ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻭﺫﺍﻙ
ﺍﻟﺸﻬﺮ ﻭﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
“ Tempat yang penuh berkah ini dibuka yakni
rumah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam, dan
semua laki-laki memasukinya untuk mengambil
berkah dengannya di setiap hari senin dari
bulan Rabi’ul Awwal. Di hari dan bulan inilah
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan “ [3]
Dari sini sudah jelas bahwa saat itu perayaan
maulid Nabi merupakan sudah menjadi tradisi
kaum muslimin di Makkah sebelum
kedatangan Ibnu Jubair di Makkah dan
Madinah dengan acara yang berbeda yaitu
membuka rumah Nabi untuk umum agar
mendapat berkah dengannya. Ibnu Jubair
masuk ke kota Makkah tanggal 16 Syawwal
tahun 579 Hijriyyah. Menetap di sana selama
delapan bulan dan meninggalkan kota
Makkah hari Kamis tanggal 22 bulan Dzul
Hijjah tahun 579 H, dengan menuju ke kota
Madinah al-Munawwarah dan menetap
selama 5 hari saja.
2. Syaikh Umar al-Mulla seorang syaikh yang
shalih yang wafat pada tahun 570 H , dan
shulthan Nuruddin Zanki seorang pentakluk
pasukan salib. Kita simak penuturan syaikh
Abu Syamah (guru imam Nawawi) tentang
dua tokoh besar di atas :
ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻌﻤﺎﺩ : ﻭﻛﺎﻥ ﺑﺎﻟﻤﻮﺻﻞ ﺭﺟﻞ ﺻﺎﻟﺢ ﻳﻌﺮﻑ ﺑﻌﻤﺮ
ﺍﻟﻤﻼَّ، ﺳﻤﻰ ﺑﺬﻟﻚ ﻷﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﻤﻸ ﺗﻨﺎﻧﻴﺮ ﺍﻟﺠﺺ ﺑﺄﺟﺮﺓ
ﻳﺘﻘﻮَّﺕ ﺑﻬﺎ، ﻭﻛﻞ ﻣﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﻦ ﻗﻤﻴﺺ ﻭﺭﺩﺍﺀ، ﻭﻛﺴﻮﺓ
ﻭﻛﺴﺎﺀ، ﻗﺪ ﻣﻠﻜﻪ ﺳﻮﺍﻩ ﻭﺍﺳﺘﻌﺎﺭﻩ، ﻓﻼ ﻳﻤﻠﻚ ﺛﻮﺑﻪ
ﻭﻻ ﺇﺯﺍﺭﻩ . ﻭﻛﻦ ﻟﻪ ﺷﺊ ﻓﻮﻫﺒﻪ ﻷﺣﺪ ﻣﺮﻳﺪﻳﻪ، ﻭﻫﻮ
ﻳﺘﺠﺮ ﻟﻨﻔﺴﻪ ﻓﻴﻪ، ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀﻩ ﺿﻴﻒ ﻗﺮﺍﻩ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﺮﻳﺪ .
ﻭﻛﺎﻥ ﺫﺍ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺑﺄﺣﻜﺎﻡ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ
ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ .ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻭﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ، ﻭﺍﻟﻤﻠﻮﻙ ﻭﺍﻷﻣﺮﺍﺀ،
ﻳﺰﻭﺭﻭﻧﻪ ﻓﻲ ﺯﺍﻭﻳﺘﻪ، ﻭﻳﺘﺒﺮﻛﻮﻥ ﺑﻬﻤﺘﻪ، ﻭﻳﺘﻴﻤﻨَّﻮﻥ
ﺑﺒﺮﻛﺘﻪ . ﻭﻟﻪ ﻛﻞ ﺳﻨﺔ ﺩﻋﻮﺓ ﻳﺤﺘﻔﻞ ﺑﻬﺎ ﻓﻲ ﺃﻳﺎﻡ
ﻣﻮﻟﺪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺤﻀﺮﻩ ﻓﻴﻬﺎ
ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﻮﺻﻞ، ﻭﻳﺤﻀﺮ ﺍﻟﺸﻌﺮﺍﺀ ﻭﻳﻨﺸﺪﻭﻥ ﻣﺪﺡ
ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺤﻔﻞ . ﻭﻛﺎﻥ
ﻧﻮﺭ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻣﻦ ﺃﺧﺺ ﻣﺤﺒﻴﻪ ﻳﺴﺘﺸﻴﺮﻭﻧﻪ ﻓﻲ
ﺣﻀﻮﺭﻩ، ﻭﻳﻜﺎﺗﺒﻪ ﻓﻲ ﻣﺼﺎﻟﺢ ﺃﻣﻮﺭﻩ
“ al-‘Ammad mengatakan , “ Di Mosol ada
seorang yang shalih yang dikenal dengan
sebutan Umar al-Mulla, disebut dengan al-Mulla
sebab konon beliau suka memenuhi (mala-a)
ongkos para pembuat dapur api sebagai biaya
makan sehari-harinya, dan semua apa yang ia
miliki berupa gamis, selendang, pakaian,
selimut, sudah dimiliki dan dipinjam oleh orang
lain, maka beliau sama sekali tidak pakaian dan
sarungnya. Jika beliau memiliki sesuatu, maka
beliau memberikannya kepada salah satu
muridnya, dan beliau menyewa sesuatu itu
untuknya, maka jika ada tamu yang datang,
murid itulah yang menjamunya. Beliau seorang
yang memiliki pengetahuan tentang hokum-
hukum al-Quran dan hadits-hadits Nabi. Para
ulama, ahli fiqih, raja dan penguasa sering
menziarahi beliau di padepokannya, mengambil
berkah dengan sifat kesemangatannya,
mengharap keberkahan dengannya. Dan beliau
setiap tahunnya mengadakan peringatan hari
kelahiran (maulid) Nabi shallahu ‘alaihi wa
sallam yang dihadiri juga oleh raja Mosol. Para
penyair pun juga datang menyenandungkan
pujian-pujian kepada Nabi shallahu ‘alaihi wa
sallam di perayaan tersebut. Shulthan Nuruddin
adalah salah seorang pecintanya yang merasa
senang dan bahagia dengan menghadiri
perayaan maulid tersebut dan selalu
berkorespondesi dalam kemaslahatan setiap
urusannya “. [4]
Ini juga disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Katsir
dalam Tarikh pada bab Hawadits 566 H. al-
Hafidz adz-Dzahabi mengatakan tentang
syaikh Umar ash-Shalih ini : “
ﻭﻗﺪ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﺰﺍﻫﺪ ﻋﻤﺮ ﺍﻟﻤﻼّ ﺍﻟﻤﻮﺻﻠﻲ ﻛﺘﺎﺑﺎً
ﺇﻟﻰ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﺼﺎﺑﻮﻧﻲ ﻫﺬﺍ ﻳﻄﻠﺐ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ
“ Dan sungguh telah menulis syaikh yang
zuhud yaitu Umar al-Mulla al-Mushili sebuah
tulisan kepada Ibnu ash-Shabuni, “ Ini orang
meminta ddoa darinya “. [5]
Adz-Dzahabi dalam kitab lainnya juga
mengatakan :
ﻭﻛﺎﻥ ﺫﻟﻚ ﺗﺤﺖ ﺇﻣﺮﺓ ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﻌﺎﺩﻝ ﺍﻟﺴُّﻨِّﻲِّ ﻧﻮﺭ
ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻣﺤﻤﻮﺩ ﺯﻧْﻜِﻲ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﻤﺆﺭﺧﻮﻥ ﻋﻠﻰ
ﺩﻳﺎﻧﺘﻪ ﻭﺣﺴﻦ ﺳﻴﺮﺗﻪ ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﺃﺑﺎﺩ ﺍﻟﻔﺎﻃﻤﻴﻴﻦ
ﺑﻤﺼﺮ ﻭﺍﺳﺘﺄﺻﻠﻬﻢ ﻭﻗﻬﺮ ﺍﻟﺪﻭﻟﺔ ﺍﻟﺮﺍﻓﻀﻴﺔ ﺑﻬﺎ ﻭﺃﻇﻬﺮ
ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭﺑﻨﻲ ﺍﻟﻤﺪﺍﺭﺱ ﺑﺤﻠﺐ ﻭﺣﻤﺺ ﻭﺩﻣﺸﻖ
ﻭﺑﻌﻠﺒﻚ ﻭﺑﻨﻰ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﺍﻟﺠﻮﺍﻣﻊ ﻭﺩﺍﺭ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ
“ Beliau (syaikh Umar) di bawah kekuasaan raja
yang adil yang sunni yaitu Nuruddin Mahmud
Zanki, yang para sejarawan telah
ijma’ (konsesus/sepakat) atas kebaikan agama
dan kehidupannya. Beliaulah yang telah
memusnahkan dinasti Fathimiyyun di Mesir
sampai ke akar-akarnya, menghancurkan
kekuasaan Rafidhah. Menampakkan
(menzahirkan) sunnah, membangun madrasah-
madrasah di Halb, Hamsh, Damasqus dan
Ba’labak, juga membangun masjid-masjid Jami’
dan pesantren hadits “ [6]
Al-Hafidz Ibnu Katsir menceritakan sosok raja
Nuruddin Zanki sebagai berikut :
ﺃﻧّﻪ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻡ ﻓﻲ ﺃﺣﻜﺎﻣﻪ ﺑﺎﻟﻤَﻌﺪﻟَﺔِ ﺍﻟﺤﺴﻨﺔ ﻭﺇﺗّﺒﺎﻉ
ﺍﻟﺸﺮﻉ ﺍﻟﻤﻄﻬّﺮ ﻭﺃﻧّﻪ ﺃﻇﻬﺮ ﺑﺒﻼﺩﻩ ﺍﻟﺴﻨّﺔ ﻭﺃﻣﺎﺕ
ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﻭﺃﻧّﻪ ﻛﺎﻥ ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﻤﻄﺎﻟﻌﺔ ﻟﻠﻜﺘﺐ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﻣﺘّﺒﻌًﺎ
ﻟﻶﺛﺎﺭ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ ﻗﻤﻊ ﺍﻟﻤﻨﺎﻛﻴﺮ ﻭﺃﻫﻠﻬﺎ
ﻭﺭﻓﻊ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﺍﻟﺸﺮﻉ
“ Beliau adalah seorang raja yang menegakkan
hokum-hukumnya dengan keadilan yang baik
dan mengikuti syare’at yang suci. Beliau
menampakkan sunnah dan mematikan bid’ah di
negerinya. Beliau seorang yang banyak belajar
kitab-kitab agama, pengikut sunnah-sunnah
Nabi, akidahnya sahih, pemusnah
kemungkaran dan pelakuknya, pengangkat ilmu
dan syare’at “. [7]
Ibnu Atsir juga mengatakan :
ﻃﺎﻟﻌﺖ ﺳِﻴَﺮَ ﺍﻟﻤﻠﻮﻙ ﺍﻟﻤﺘﻘﺪﻣﻴﻦ ﻓﻠﻢ ﺃﺭ ﻓﻴﻬﺎ ﺑﻌﺪ
ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀ ﺍﻟﺮﺍﺷﺪﻳﻦ ﻭﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻌﺰﻳﺰ ﺃﺣﺴﻦ ﻣﻦ
ﺳﻴﺮﺗﻪ , ﻗﺎﻝ : ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻌﻈﻢ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﻭﻳﻘﻒ ﻋﻨﺪ
ﺃﺣﻜﺎﻣﻬﺎ
“ Aku telah mengkaji sejarah-sejarah kehidupan
para raja terdahulu, maka aku tidak melihat
setelah khalifah rasyidin dan Umar bin Abdul
Aziz yang lebih baik dari sejarah kehidupannya
(Nurruddin Zanki). Beliau pengangung syare’at
dan tegak di dalam hokum-hukumnya “ . [8]
Pertanyaan buat para pengingkar Maulid
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :
Jika seandainya Maulid Nabi itu bid’ah
dholalah yang sesat dan pelakunya disebut
mubtadi’ (pelaku bid’ah) dan terancam masuk
neraka, apakah anda akan mengatakan
bahwa syaikh Umar al-Mulla dan raja yang
adil Nuruddin Zanki adalah orang-orang
pelaku bid’ah dan terancam masuk neraka ??
padahal para ulama sejarawan sepakat (ijma’)
bahwa syaikh Umar adalah orang shalih dan
zuhud, raja Nuruddin adalah raja yang adil,
berakidah sahih, pecinta sunnah bahkan
menampakkanya dan juga pemusnah bid’ah di
negerinnya, sebagaimana telah saya buktikan
faktanya di atas…
Bagaimana mungkin para ulama sejarawan di
atas, mengatakan penzahir (penampak)
sunnah Nabi dan pemusnah bid’ah jika
ternyata pengamal Maulid Nabi yang kalian
anggap bid’ah sesat ?? ini bukti bahwa Maulid
Nabi bukanlah bid’ah. Renungkanlah hal ini
wahai para pengingkar Maulid Nabi…
3. Kemudian berlanjut perayaan tersebut yang
dilakukan oleh seorang raja shaleh yaitu raja
al-Mudzaffar penguasa Irbil, seorang raja
orang yang pertama kali merayakan
peringatan maulid Nabi dengan program yang
teratur dan tertib dan meriah. Beliau seorang
yang berakidahkan Ahlus sunnah wal jama’ah.
Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan :
ﺍﺑﻦ ﺯﻳﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺗﺒﻜﺘﻜﻴﻦ ﺃﺣﺪ ﺍﻻﺟﻮﺍﺩ
ﻭﺍﻟﺴﺎﺩﺍﺕ ﺍﻟﻜﺒﺮﺍﺀ ﻭﺍﻟﻤﻠﻮﻙ ﺍﻻﻣﺠﺎﺩ ﻟﻪ ﺁﺛﺎﺭ ﺣﺴﻨﺔ .…
ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻓﻲ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻻﻭﻝ ﻭﻳﺤﺘﻔﻞ
ﺑﻪ ﺍﺣﺘﻔﺎﻻ ﻫﺎﺋﻼ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﺷﻬﻤﺎ ﺷﺠﺎﻋﺎ ﻓﺎﺗﻜﺎ
ﺑﻄﻼ ﻋﺎﻗﻼ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻋﺎﺩﻻ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻛﺮﻡ ﻣﺜﻮﺍﻩ ﻭﻗﺪ
ﺻﻨﻒ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺨﻄﺎﺏ ﺍﺑﻦ ﺩﺣﻴﺔ ﻟﻪ ﻣﺠﻠﺪﺍ ﻓﻲ
ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ ﺳﻤﺎﻩ ﺍﻟﺘﻨﻮﻳﺮ ﻓﻲ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﺒﺸﻴﺮ ﺍﻟﻨﺬﻳﺮ
ﻓﺄﺟﺎﺯﻩ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﺑﺄﻟﻒ ﺩﻳﻨﺎﺭ ﻭﻗﺪ ﻃﺎﻟﺖ ﻣﺪﺗﻪ ﻓﻲ
ﺍﻟﻤﻠﻚ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻥ ﺍﻟﺪﻭﻟﺔ ﺍﻟﺼﻼﺣﻴﺔ ﻭﻗﺪ ﻛﺎﻥ ﻣﺤﺎﺻﺮ
ﻋﻜﺎ ﻭﺇﻟﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻣﺤﻤﻮﺩ ﺍﻟﺴﻴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺴﺮﻳﺮﺓ ﻗﺎﻝ
ﺍﻟﺴﺒﻂ ﺣﻜﻰ ﺑﻌﺾ ﻣﻦ ﺣﻀﺮ ﺳﻤﺎﻁ ﺍﻟﻤﻈﻔﺮ ﻓﻲ
ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻤﻮﺍﻟﺪ ﻛﺎﻥ ﻳﻤﺪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﺴﻤﺎﻁ ﺧﻤﺴﺔ ﺁﻻﻑ
ﺭﺍﺱ ﻣﺸﻮﻯ ﻭﻋﺸﺮﺓ ﺁﻻﻑ ﺩﺟﺎﺟﺔ ﻭﻣﺎﺋﺔ ﺃﻟﻒ ﺯﺑﺪﻳﺔ
ﻭﺛﻼﺛﻴﻦ ﺃﻟﻒ ﺻﺤﻦ ﺣﻠﻮﻯ
“ Beliau adalah putra Zainuddin Ali bin
Tabkitkabin salah seorang tokoh besar dan
pemimpin yang agung. Beliau memiliki sejarah
hidup yang baik. Beliau yang memakmurkan
masjid al-Mudzhaffari…. dan beliau konon
mengadakan acara Maulid Nabi yang mulia di
bulan Rabiul Awwal, dan merayakannya dengan
perayaan yang meriah , dan beliau adalah
seorang raja yang cerdas, pemberani, perkasa,
berakal, alim dan adil –semoga Allah
merahmatinya dan memuliakan tempat
kembalinya- syaikh Abul Khaththab Ibnu Dihyah
telah mengarang kitab berjilid-jilid tentang
Maulid Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam yang
dinamakannya “ At-Tanwir fi Maulid al-Basyir
an-Nadzir “, lalu diberikan balasan atas usaha
itu oleh raja sebesar seribu dinar. Masa
kerajaannya begitu panjang di zaman Daulah
shalahiyyah. Beliau pernah mengepung negeri
‘Ukaa. Di tahun ini beliau baik kehidupannya
lahir dan bathin. As-Sibth mengatakan, “
Seorang yang menghadiri kegiatan raja al-
Mudzaffar pada beberapa acara maulidnya
mengatakan, “ Beliau pada perayaan maulidnya
itu menyediakan 5000 kepala kambing yang
dipanggang, 10.000 ayam panggang, 100.000
mangkok besar (yang berisi buah-buahan), dam
30.000 piring berisi manisan “. [9]
Adz-Dzahabi juga mengatakan tentang sifat-
sifat beliau :
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻣُﺘَﻮَﺍﺿِﻌﺎً، ﺧَﻴِّﺮﺍً، ﺳُﻨِّﻴّﺎً، ﻳُﺤﺐّ ﺍﻟﻔُﻘَﻬَﺎﺀ
ﻭَﺍﻟﻤُﺤَﺪِّﺛِﻴْﻦَ، ﻭَﺭُﺑَّﻤَﺎ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﺍﻟﺸُّﻌَﺮَﺍﺀ، ﻭَﻣَﺎ ﻧُﻘِﻞَ ﺃَﻧَّﻪُ
ﺍﻧْﻬَﺰَﻡ ﻓِﻲ ﺣﺮﺏ
“ Beliau adalah orang yang rendah hati, sangat
baik, seorang yang berakidahkan Ahlus sunnah,
pecinta para ahli fiqih dan hadits, terkadang
suka memberi hadiah kepada para penyair, dan
tidak dinukilkan bahwa beliau kalah dalam
pertempuran “ [10]
Pertanyaan buat para pengingkar Maulid
Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam :
Adakah para ulama sejarawan di atas
menyebutkan raja Mudzaffar adalah seorang
pelaku bid’ah dholalah karena melakukan
perayaan Maulid Nabi ?? justru mereka
menyebutkan bahwa beliau adalah seorang
raja adil, rendah hati, pemberani dan
berakidahkan Ahlus sunnah. Renungkanlah
hal ini wahai wahabi…
Ketiga : Seandainya Fathimiiyun juga
membuat perayaan Maulid Nabi sebagaimana
para pendahulu kami, maka hal ini bukanlah
suatu keburukan karena kami hanya menolak
kebathilan para pelaku bid’ah dholalah, bukan
menolak kebenaran mereka yang sesuai
dengan Ahlus sunnah.
Keempat : Wahabi telah melakukan
kecurangan ilmiyyah dengan mengunting teks
(nash) dari al-Maqrizi. Mereka tidak
menampilkan redaksi atau teks berikutnya
yang dinyatakan oleh al-Maqrizi dalam
kitabnya tersebut. Lebih lanjutnya beliau
menceritkan bahwasanya para khalifah
muslimin, mengadakan perayaan maulid yang
dihadiri oleh para qadhi dari kalangan empat
madzhab dan para ulama yang masyhur,
berikut redaksinya yang disembunyikan dan
tidak berani ditampilkan wahabi :
ﻓﻠﻤﺎ ﻛﺎﻧﺖ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺑﺮﻗﻮﻕ ﻋﻤﻞ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱّ
ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﻮﺽ ﻓﻲ ﺃﻭّﻝ ﻟﻴﻠﺔ ﺟﻤﻌﺔ ﻣﻦ ﺷﻬﺮ ﺭﺑﻴﻊ
ﺍﻷﻭﻝ ﻓﻲ ﻛﻞّ ﻋﺎﻡ ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻭﻗﺖ ﺫﻟﻚ ﺿﺮﺑﺖ ﺧﻴﻤﺔ
ﻋﻈﻴﻤﺔ ﺑﻬﺬﺍ ﺍﻟﺤﻮﺽ ﻭﺟﻠﺲ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻭﻋﻦ ﻳﻤﻴﻨﻪ
ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺳﺮﺍﺝ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺭﺳﻼﻥ ﺑﻦ ﻧﺼﺮ
ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ ﻭﻳﻠﻴﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺍﻟﻤﻌﺘﻘﺪ ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﺑﺮﻫﺎﻥ ﺍﻟﺪﻳﻦ
ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺑﻬﺎﺩﺭ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺭﻓﺎﻋﺔ ﺍﻟﻤﻐﺮﺑﻲّ
ﻭﻳﻠﻴﻪ ﻭﻟﺪ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﻭﻣﻦ ﺩﻭﻧﻪ ﻭﻋﻦ ﻳﺴﺎﺭ
ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺳﻼﻣﺔ
ﺍﻟﺘﻮﺯﺭﻱّ ﺍﻟﻤﻐﺮﺑﻲّ ﻭﻳﻠﻴﻪ ﻗﻀﺎﺓ ﺍﻟﻘﻀﺎﺓ ﺍﻷﺭﺑﻌﺔ
ﻭﺷﻴﻮﺥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻭﻳﺠﻠﺲ ﺍﻷﻣﺮﺍﺀ ﻋﻠﻰ ﺑﻌﺪ ﻣﻦ
ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻓﺈﺫﺍ ﻓﺮﻍ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀ ﻣﻦ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ
ﻗﺎﻡ ﺍﻟﻤﻨﺸﺪﻭﻥ ﻭﺍﺣﺪًﺍ ﺑﻌﺪ ﻭﺍﺣﺪ ﻭﻫﻢ ﻳﺰﻳﺪﻭﻥ ﻋﻠﻰ
ﻋﺸﺮﻳﻦ ﻣﻨﺸﺪًﺍ ﻓﻴﺪﻓﻊ ﻟﻜﻞ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﻬﻢ ﺻﺮّﺓ ﻓﻴﻬﺎ
ﺃﺭﺑﻌﻤﺎﺋﺔ ﺩﺭﻫﻢ ﻓﻀﺔ ﻭﻣﻦ ﻛﻞّ ﺃﻣﻴﺮ ﻣﻦ ﺃﻣﺮﺍﺀ ﺍﻟﺪﻭﻟﺔ
ﺷﻘﺔ ﺣﺮﻳﺮ ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻧﻘﻀﺖ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﻣﺪّﺕ ﺃﺳﻤﻄﺔ
ﺍﻷﻃﻌﻤﺔ ﺍﻟﻔﺎﺋﻘﺔ ﻓﺄﻛﻠﺖ ﻭﺣﻤﻞ ﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﺛﻢ ﻣﺪّﺕ
ﺃﺳﻤﻄﺔ ﺍﻟﺤﻠﻮﻯ ﺍﻟﺴﻜﺮﻳﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﺭﺍﺷﺎﺕ ﻭﺍﻟﻌﻘﺎﺋﺪ
ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻓﺘُﺆﻛﻞ ﻭﺗﺨﻄﻔﻬﺎ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ ﺛﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﺗﻜﻤﻴﻞ
ﺇﻧﺸﺎﺩ ﺍﻟﻤﻨﺸﺪﻳﻦ ﻭﻭﻋﻈﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﻧﺤﻮ ﺛﻠﺚ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻓﺈﺫﺍ
ﻓﺮﻍ ﺍﻟﻤﻨﺸﺪﻭﻥ ﻗﺎﻡ ﺍﻟﻘﻀﺎﺓ ﻭﺍﻧﺼﺮﻓﻮﺍ ﻭﺃﻗﻴﻢ ﺍﻟﺴﻤﺎﻉ
ﺑﻘﻴﺔ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺍﺳﺘﻤﺮّ ﺫﻟﻚ ﻣﺪّﺓ ﺃﻳﺎﻣﻪ ﺛﻢ ﺃﻳﺎﻡ ﺍﺑﻨﻪ
ﺍﻟﻤﻠﻚ ﺍﻟﻨﺎﺻﺮ ﻓﺮﺝ
“ Maka ketika sudah pada hari-hari yang
tampak dengan ruquq, diadakanlah perayaan
Maulid Nabi di telaga ini pada setiap malam
Jum’at bulan Rabiul Awwal di setiap tahunnya.
Kemduian Shulthan duduk, dan di sebelah
kanannya duduklah syaikh Islam Sirajuddin
Umar bin Ruslan bin Nashr al-Balqini, di dekat
beliau ada syaikh al-Mu’taqad Ibrahim
Burhanuddin bin Muhammad bin Bahadir bin
Ahmad bin Rifa’ah al-Maghrabi, di sampingnya
lagi ada putra syaikh Islam dan orang-orang
selainnya, dan di sebelah kirinya ada syaikh
Abu Abdillah bin Muhammad bin Sallamah at-
Tuzari al-Maghrabi, di sampingnya lagi ada
para qadhi dari kalangan empat madzhab, dan
para syaikh ilmu, juga para penguasa yang
duduk sedikit jauh dari shulthan. Jika telah
selesai membaca al-Quran, maka beridrilah
para nasyid satu persatu membawakan sebuah
nasyidah, mereka lebih dari 20 orang nasyid,
masing-masing diberikan sekantong uang yang
di dalamnya berisi 4000 ribu dirham perak. Dan
bagi setiap amir daulah diberikan kaen sutra.
Dan jika telah selesai sholat maghrib, maka
dihidangkanlah hidangan makanan yang mewah
yang dimakan oleh semuanya dan dibawa
pulang. Kemduian dibeberkan juga hidangan
manisan yang juga dimakan semuanya dan
para ulama ahli fiqih. Kemduian disempurnakan
dengan nasyid pada munsyid dan nasehat
mereka sampai sepertiga malam. Dan jika para
munsyid selasai, maka berdirilah para qadhi
dan mereka kembali pulang. Dan
diperdengarkan sebuah senandung pujian di
sisa malam tersebut. Hal ini terus berlangsung
di masanya dan masa-masa anaknya yaitu an-
Nahsir Faraj “. [11]
Kisah yang sama ini juga diceritakan oleh
seorang ulama pakar sejarah yaitu syaikh
Jamaluddin Abul Mahasin bin Yusufi bin
Taghribardi dalam kitab Tarikhnya “ an-Nujum
az-Zahirah fii Muluk Mesir wal Qahirah “ pada
juz 12 halaman 72.
Hal yang serupa juga disebutkan oleh al-
Hafidz Ibnu Hajar secara ringkas dalam
kitabnya Anba al-Ghumar sebagai berikut :
ﻭﻋﻤﻞ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻧﻲ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻮﻱ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻋﻠﻰ
ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻟﺨﺎﻣﺲ ﻋﺸﺮ، ﻓﺤﻀﺮﻩ ﺍﻟﺒﻠﻘﻴﻨﻲ
ﻭﺍﻟﺘﻔﻬﻨﻲ ﻭﻫﻤﺎ ﻣﻌﺰﻭﻻﻥ، ﻭﺟﻠﺲ ﺍﻟﻘﻀﺎﺓ ﺍﻟﻤﺴﻔﺰﻭﻥ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﻤﻴﻦ ﻭﺟﻠﺴﻨﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻴﺴﺎﺭ ﻭﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ ﺩﻭﻧﻬﻢ،
ﻭﺍﺗﻔﻖ ﺃﻥ ﺍﻟﺴﻠﻄﺎﻥ ﻛﺎﻥ ﺻﺎﺋﻤﺎ، ﻓﻠﻤﺎ ﻣﺪ ﺍﻟﺴﻤﺎﻁ
ﺟﻠﺲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻣﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﻟﻰ ﺇﻥ ﻓﺮﻏﻮﺍ، ﻓﻠﻤﺎ
ﺩﺧﻞ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﻤﻐﺮﺏ ﺻﻠﻮﺍ ﺛﻢ ﺃﺣﻀﺮﺕ ﺳﻔﺮﺓ ﻟﻄﻴﻔﺔ،
ﻓﺎﻛﻞ ﻫﻮ ﻭﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﺻﺎﺋﻤﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﻀﺎﺓ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ
“ Dan perayaan maulid shulthan yaitu Maulid
Nabi yang Mulia seprti biasanya (tradisi) pada
hari kelima belas, dihadiri oleh syaikh al-Balqini
dan at-Tifhani, keduanya mantan qadhi. Para
qadhi lainnya duduk di sebalah kanan beliau,
dan kami serta para masyaikh duduk di sebelah
kiri. Disepakati bahwa shulthan saat itu dalam
keadaan puasa, maka ketika dibentangkanlah
seprei makanan, beliau duduk seperti biasanya
bersama prang-orang sampai selesai. Maka
ketika masuk waktu maghrib, mereka sholat
kemudian dihidangkanlah hidangan makanan
yang lembut, maka beliau makan bersama
orang-orang yang berpuasa dari para qadhi dan
lainnya “ [12]
Dengan ini jelas lah sudah bahwa wahabi
telah melakukan kecurangan ilmiyyah dengan
tidak menampilkan redaksi (teks) selanjutnya
yang membicarakan perhatian para raja dan
ulama besar terhadap perayaan Maulid Nabi
shallahu ‘alaihi wa sallam saat itu. Ini
merupakan tadlis, talbis dan penipuan besar
di hadapan public…naudzu billah min dzaalik.
Kesimpulannya :
1. Perayaan Maulid Nabi, esensinya telah
dicontohkan oleh Nabi shallahu ‘alaihi wa
sallam sendiri yaitu saat beliau
mengangungkan dan memperingati hari
kelahiran beliau dengan melakukan satu
ibadah sunnah yaitu puasa. Maka pada
hakekatnya perayaan Maulid Nabi adalah
sunnah Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Perayaan Maulid Nabi yang dilanjutkan
dengan para raja yang adil dan para ulama
yang terkenal adalah dalam rangka
menghidupkan sunnah Nabi yaitu
memperingati hari kelahiran Nabi, namun
dengan metode dan cara yang berbeda yang
berlandaskan syare’at seperti membaca al-
Quran, bersholawat dan bersedekah. Metode
ini sama sekali tidak bertentangan dengan
syare’at Nabi.
3. Tuduhan wahabi bahwa yang melakukan
Maulid pertama kali adalah dari Syi’ah
Fathimiyyun adalah dusta belaka dan
bertentangan dengan fakta kebenarannya.
4. Wahabi telah melakukan kecurangan
ilmiyyah dengan menggunting dan tidak
menampilkan teks al-Maqrizi yang
menceritakan perhatian para raja adil dan
ulama terkenal dari kalangan empat madzhab
terhadap Maulid

Selasa, 15 Desember 2015

UNTUNG NABIKU BUKAN ORANG WAHABI

UNTUNG NABINYA BUKAN ANDA!!
Untuk ANDA Yang Punya hobi Membid'ahkan dan
Menyesatkan

Beruntung sekali kita dijadikan ummat Nabi
Muhammad SAW. Nabi yang Rouuf, Nabi yang
Rohiim. Nabi yang punya misi rahmatan lil
'alamin. Nabi yang punya prinsip " Buat Mudah
jangan buat sulit!". "Gembirakan jangan kau
takut-takuti". "Dekati! Jangan buat lari!". "Yassiru
wa laa Tu'assiruu!", "Bassyiru wa laa
tundziru!" ....
Tak bisa dibayangkan jika Nabinya adalah ANDA,
golongan yang punya kebiasaan unik tapi sangat
tidak menarik, yaitu membid'ah-bid'ahkan,
menyesat-nyesatkan bahkan mengkafir-kafirkan
saudaranya sendiri. Coba lihatlah bagaimana
Rosululloh SAW memberikan contoh dalam
menyikapi hal-hal baru yang tidak beliau ajarkan
secara khusus.
Ya .... semua ini, hal-hal baru ini terjadi di zaman
Rasululloh SAW. Antara lain:
Pertama;
Bilal bin Robah setiap kali hadats beliau langsung
bersuci. Bilal juga selalu sholat dua roka'at
setiap selesai wudlu dan sehabis adzan. Hal ini
beliau lakukan berdasarkan pemikiran beliau
sendiri, inisiatifnya sendiri. Tidak ada petunjuk
khusus dari Rosululloh SAW.
Lalu bagaimanakah respon Rosululloh SAW ?
apakah Rosululloh berkata : "Hai Bilal engkau
telah membuat kreasi sendiri dalam ibadah.
Engkau telah berbuat bid'ah! Engkau telah sesat!
Nerakalah tempatmu!". Apakah Rosululloh SAW
berkata seperti itu?.
Sama sekali TIDAK, sekali lagi .... TIDAK!!.
Bahkan Rosululloh SAW memuji Bilal, "Engkau
mendahuluiku ke surga wahai Bilal !!!" .....
(diriwayatkan oleh Atturmudzi di dalam sunan, al-
Hakim dalam al-Mustadrok, al-Bayhaqi dalam
Syu'abul iman).
Beruntung sekali Bilal, karena ...... Nabinya
bukan ANDA!!!!! .....
Kedua;
Dalam sebuah kisah yang penuh dengan
patriotisme, Khubaib bin Adi al-Anshori
melakukan sholat dua rokaat sebelum dibunuh
oleh orang-orang qurays, hingga akhirnya
kematian syahid menjemputnya ditiang salib.
Sholat yang dilakukan oleh Khubaib bin Adi ini
kemudian menjadi tradisi yang dilakukan oleh
para sahabat yang dengan tabah menerima
kematian oleh kekejaman orang-orang kafir.
(silahkan lihat al-mu'jamul kabir atthabrani, juga
diriwayatkan al-Bukhori dan Ahmad)
Sholat dua roka'at yang dilakukan oleh Khubaib
muncul dari inisiatifnya sendiri, karena beliau
beranggapan sholat adalah ibadah yang paling
utama dan mulia. Beliau ingin akhir hayatnya
ditutup dengan sholat. Rasululloh SAW tidak
pernah memberi petunjuk khusus mengenai hal
itu, misalnya Rasululloh SAW memerintahkan
"Sholatlah dua roka'at sebelum engkau di bunuh
oleh orang-orang kafir!". Tidak! .... Nabi SAW
tidak mengajarkannya. Lalu apakah Rasululloh
SAW kemudian berkata seperti perkataan ANDA!
Apakah Nabi SAW menyesatkan Khubaib
sebagaimana ANDA menyesatkan saudara ANDA
sendiri! Apakah setelah Nabi mengetahui apa
yang dilakukan oleh Khubaib kemudian beliau
berkata "Khubaib telah sesat, ia telah berbuat
bid'ah!" ..... tidak! Sekali lagi Tidak! ....
Beruntung sekali Khubaib Bin Adi, karena .....
Nabinya bukan ANDA!!!
Ketiga;
Salah seorang sahabat anshor yang menjadi
imam di masjid Quba', setiap kali selesai
membaca surat al-fatihah beliau pasti membaca
surat al-ikhlas, baru kemudian beliau membaca
surat yang lain. Jadi surat apapun yang ia baca
dalam sholat pasti didahului dengan membaca
surat al-ikhlas. Hingga berita ini sampai kepada
Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bertanya
kepada sahabat yang menjadi imam itu, "Apa
yang mencegahmu memenuhi permintaan teman-
temanmu?, apa yang mendorongmu membaca
surat al-ikhlas itu setiap raka'at?". Sahabat itu
menjawab, "Sungguh aku mencintai surat itu".
Lalu Nabi SAW berkata, "Apa yang kau cintai
akan membawamu ke surga". (lihat fathul Bari
al-Hafidh ibnu Hajar dalam bab al-jam'u baina
suratain fir rok'ati)
Maa Syaa Allah .... inilah Nabiku, inilah Nabi
anda ... inilah Nabi kita.
Lihatlah!!! ..... Apakah Nabi langsung melotot
seperti ANDA sambil teriak, "SESAT KAU!!",
"BID'AH KAU!", "Engkau telah membuat hal-hal
baru dalam agama, engkau melakukan sesautu
yang tidak aku contohkan, yang tidak aku
ajarkan!!!" . "NERAKA TEMPATMU!!".
TIDAK! Sekali lagi TIDAKK! ... Maknyesss
Rasulullah SAW berkata "APA YANG ENGKAU
CINTAI MEMBAWAMU KE SURGA". Clepp ...
ademm
AH .... beruntung sekali sahabat itu, karena ....
NABINYA BUKAN ANDA !!!
Keempat;
Qotadah bin Nu'man, sebagaimana diceritakan al-
Hafidh ibn Hajar, setiap malam beliau
menghabiskan malamnya dengan mengulang-
ulang surat al-ikhlas di dalam sholat hingga
masuk waktu subuh. Hal ini kemudian dilaporkan
kepada Nabi. Dan bagaimanakah tangapan Nabi?
Apakah Nabi akan merespon seperti ANDA? .
Apakah Nabi mengatakan "jika itu baik pasti aku
lebih dulu mengerjakannya". Apakah Nabi
berkata, "Engkau melakukan ibadah tanpa contoh
dariku! Ibadahmu sia-sia! Bid'ah Kau! Sesat
kau! .... TIDAK !!! sekali lagi TIDAK !!!. Malah
sebaliknya Rasulullah SAW dengan lembut dan
motifasi yang tinggi beliau berkata " Demi Dzat
yang jiwaku berada dalam genggamannya, surat
al-Ikhlash itu sebanding dengan sepertiga al-
Qur'an".
Ah .... beruntung sekali sahabat Qotadah bin
Nu'man itu, karena .... NABINYA BUKAN ANDA!
Kelima;
Yang ini bahkan hingga sekarang kita lakukan
dan dilakukan oleh seluruh umat Islam di seluruh
penjuru dunia. Tak terkecuali ANDA yang hobi
membid'ahkan.
Sebelum peristiwa ini terjadi, ketika para sahabat
ketinggalan jama'ah, mereka akan bertanya
sudah raka'at keberapakah Nabi ?, kemudian
mereka akan takbir dan melakukan gerakan-
gerakan yang tertinggal hingga ketika sudah
sama gerakan dan raka'atnya baru mereka
mengikuti gerakan imam. Sehingga jama'ah
terlihat kurang teratur. Ada yang masih berdiri,
ada yang masih ruku', ada yang sujud, dan lain
sebagainya. Hingga suatu hari datanglah Mu'adz
bin Jabal yang terlambat jama'ah. (diriwayatkan
oleh imam Ahmad dan Abu Dawud)
Mu'adz bin jabal langsung mengikuti gerakan
Nabi, dan setelah salam beliau menambah
raka'at yang tertinggal. Hal ini ia lakukan
semata-mata karena kecintaannya pada
Rasulullah SAW. Beliau tidak mau ketinggalan
lebih banyak lagi, beliau ingin gerakannya sama
dengan gerakan imam dalam hal ini Rasulullah
SAW.
Lalu bagaimanakah Rasulullah SAW menyikapi
tindakan Mu'adz bin Jabal tersebut, yang sama
sekali belum pernah diajarkan oleh Rasulullah
SAW. Bahkan berbeda dengan sahabat-sahabat
yang lain. Apakah Nabi SAW mengatakan seperti
perkataan ANDA, " Engkau melakukan ibadah
menurut kreasimu sendiri! Ibadahmu sia-sia!
Bid'ah Kau! Sesat kau! .... TIDAK !!! sekali lagi
TIDAK !!! bahkan Rasulullah SAW kemudian
berkata, " sesungguhnya Mu'adz telah membuat
satu jalan (cara) baru untuk kalian, lakukanlah
seperti yang dilakukan oleh Mu'adz!" . dan hingga
sekarang kita melakukan apa yang dilakukan oleh
Mu'adz bin Jabal. ALHAMDULILLAH
Beruntung sekali Mu'adz Bin Jabal karena
disetiap gerakan yang dilakukan oleh makmum
masbuq mulai saat itu hingga hari qiyamat,
Mu'adz bin Jabal mendapat bagian pahalanya,
karena ia lah yang memulai cara yang baik itu.
Dan beruntung sekali, karena ........... Nabinya
bukan ANDA!!!
Sebenarnya masih ada ke enam, ke tujuh, ke
delapan ... dan seterusnya. Anda bisa
mencarinya sendiri, bukankah anda adalah
kelompok yang paling ngerti hadits Nabi Kami
Saudaraku ... anda yang ngaku paling ngerti
sunnah ! bukankah sikap Nabi SAW di atas juga
sunnah? Bukankah perkataan Nabi SAW pada
Bilal bin Rabah, Ucapan Nabi SAW pada sahabat
Anshar, perkataan Nabi SAW pada Qotadah,
perkataan Nabi SAW pada Mu'adz, bukankah
ucapan-ucapan seperti itu juga sunnah.
Bukankah banyak sunnah-sunnah yang membuat
sejuk, membuat tentram, membuat damai,
memberi motifasi? .... tapi entahlah mengapa
anda hanya berkutat pada sunnah sekitar celana
dan janggut saja. Anda terlalu serius pada hadits
kullu bid'atin dlolalatun hingga lupa ada hadits
man sanna sunnatan hasanatan . eh ... maaf
saya sudah suul adab, menjelaskan sunnah pada
antum. Bukankah antum yang lebih faham
sunnah.
Tapi ... ya sudahlah ! teruskan saja membid'ah-
bid'ahkan, menyesatkan-nyesatkan, mengkafir-
kafirkan. Kami akan tetap bahagia dan terima
kasih untuk anda, karena anda kami bisa lebih
bersyukur .... KARENA ALHAMDULILLAH, ......
NABI KAMI BUKAN ANTUM

Maulud menurut ulama pentolan wahabi

Ulama Kesukaan Wahabi yang
Cinta Maulid Nabi
Ulama Kesukaan Wahabi yang Cinta
Maulid Nabi
Hari yang baik, bulan yang baik
serta dengan niat yang baik pula, kami
awali tulisan ini dengan Firman Allah
berikut ini, agar hati tenang dan
nyaman ketika membacanya dengan
baik-baik nantinya. Allah ta’ala
berfirman:
ﻗُﻞْ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺁﺑَﺎﺅُﻛُﻢْ ﻭَﺃَﺑْﻨَﺎﺅُﻛُﻢْ ﻭَﺇِﺧْﻮَﺍﻧُﻜُﻢْ
ﻭَﺃَﺯْﻭَﺍﺟُﻜُﻢْ ﻭَﻋَﺸِﻴﺮَﺗُﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻣْﻮَﺍﻝٌ ﺍﻗْﺘَﺮَﻓْﺘُﻤُﻮﻫَﺎ
ﻭَﺗِﺠَﺎﺭَﺓٌ ﺗَﺨْﺸَﻮْﻥَ ﻛَﺴَﺎﺩَﻫَﺎ ﻭَﻣَﺴَﺎﻛِﻦُ ﺗَﺮْﺿَﻮْﻧَﻬَﺎ ﺃَﺣَﺐَّ
ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻭَﺟِﻬَﺎﺩٍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻠِﻪِ
ﻓَﺘَﺮَﺑَّﺼُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺄْﺗِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺑِﺄَﻣْﺮِﻩِ ﻭَﺍﻟﻠَّﻪُ ﻻ ﻳَﻬْﺪِﻱ
ﺍﻟْﻘَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘِﻴﻦَ
“Katakanlah: jika bapak-bapak kamu ,
anak-anak kamu, saudara-saudara
kamu, isteri-isteri kamu, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu
khawatiri kerugiannya, dan tempat
tinggal yang kamu sukai, adalah lebih
kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya
dan dari berjihad di jalan-Nya, maka
tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang
fasik” .(QS At-Taubah ayat 24).
Rasulullah Saw. bersabda:
ﻻ ﻳﺆﻣﻦ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺣﺘﻰ ﺃﻛﻮﻥ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﻭﺍﻟﺪﻩ
ﻭﻭﻟﺪﻩ ﻭﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﺟﻤﻌﻴﻦ
“Tidak beriman seseorang kamu
sehingga adalah saya lebih dicintai nya
dari orang tua nya dan anak nya dan
semua manusia” (HR Bukhari dan
Muslim).
Sikap anti berlebihan terhadap
Maulid Nabi, terkesan seakan
peringatan Maulid Nabi adalah
kesalahan yang mutlak, namun di balik
ingkar mereka yang melampaui batas,
ternyata ajaran ingkar Maulid Nabi
baru ada sejak mereka ada, belum ada
jauh sebelum peringatan Maulid ini
telah diperingati dan diakui oleh
Muslim dan Ulama sedunia, latar
belakang ulama yang mereka sukai
ternyata para pecinta Maulid dan salah
satu dari sekian Para Motivator Maulid ,
berikut ini sebagian bukti nya:
1. Pendapat Ibnu Taymiyah Tentang
Maulid Nabi
Ibnu Taymiyah berkata dalam kitab
Iqtidha' Shirathil Mustaqim halaman
297:
ﻓﺘﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﻭﺍﺗﺨﺎﺫﻩ ﻣﻮﺳﻤًﺎ ﻗﺪ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺑﻌﺾ
ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﺮ ﻋﻈﻴﻢ ﻟﺤﺴﻦ ﻗﺼﺪﻩ،
ﻭﺗﻌﻈﻴﻤﻪ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺍﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ
“Adapun mengagungkan maulid dan
menjadikannya acara rutin, itu
dikerjakan oleh sebagian manusia, dan
mereka mendapat pahala yang besar
karena tujuan baik dan pengagungannya
terhadap Rasulullah Saw.” .
Ibnu Taymiyah juga berkata dalam
kitab Majmu' Fatawa juz 23 halaman
134:
ﻓﺘﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﻭﺍﺗﺨﺎﺫﻩ ﻣﻮﺳﻤﺎً ﻗﺪ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺑﻌﺾ
ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻟﻬﻢ ﻓﻴﻪ ﺃﺟﺮ ﻋﻈﻴﻢ ﻟﺤﺴﻦ
ﻗﺼﺪﻫﻢ ﻭﺗﻌﻈﻴﻤﻬﻢ ﻟﺮﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ
“Adapun mengagungkan maulid dan
menjadikannya acara rutin, itu
dikerjakan oleh sebagian manusia, dan
mereka mendapat pahala yang besar
karena tujuan baik dan pengagungannya
terhadap Rasulullah Saw” .
TERNYATA:
Ibnu Taimiyah sosok Syaikhul
Islam-nya para Wahhabi dan Tokoh
Yang Dipuja dan dibela mati-matian
oleh Syaikh-Syaikh Wahabi-Saudi justru
membela Maulid Nabi, ada apa dengan
Wahabi, kenapa sebagian mereka
mengingkari pendapat Ibnu Taimiyah,
kenapa sebagian mereka menyangka ini
fitnah terhadap Ibnu Taimiyah, kenapa
sebagian mereka justru tidak pernah
tahu pendapat Ibnu Tamiyah
sebenarnya dalam masalah Maulid
Nabi, mereka ingin berlepas diri dari
Ibnu Taimiyah, yang sangat jelas
mendukung Maulid
Nabi, seandainya Maulid Bid’ah atau
Tasyabbuh, sungguh Ibnu Taimiyah
lebih dulu memerangi perayaan Maulid.
Karena di masanya perayaan
Maulid telah dirayakan setiap tahun,
tidak pernah ia bilang Bid’ah, tidak
pernah ia bilang Tasyabbuh dengan
Natal, tidak pernah ia permasalahkan
adakah Nabi dan para sahabat
merayakan Maulid seperti ini, tapi Ibnu
Taimiyah malah menyatakan Maulid
Nabi adalah amalan yang baik, bahkan
mendapat pahala bagi yang
merayakannya, karena menurut Ibnu
Taymiyah Maulid adalah termasuk
sebagian dari cara mengagungkan Nabi,
dan termasuk salah satu cara mencintai
Nabi.
Dengan kata lain Ibnu Taimiyah
mengakui kebenaran Fatwa Ulama yang
membolehkan perayaan Maulid,
perbedaan persepsi dalam memahami
hakikat makna Bid’ah antara Ibnu
Taimiyah dan Wahabi/Salafi , otomatis
berujung pada perbedaan kategori, Ibnu
Taimiyah punya dua kategori Bid’ah
yaitu Bid’ah Dholalah/Sayyiah dan
Bid’ah Hasanah, tentu saja setiap hal
atau cara baru dalam beramal tidak
serta-merta dapat divonis sesat,
sementara Wahabi yang salah
memahami hakikat makna Bid’ah,
membuat mereka tidak punya pilihan
lain, setiap hal baru otomatis sesat
menurut mereka, dan status hukum
bukan lagi pada dalilnya, tapi lebih
kepada ada atau tidaknya itu di masa
Nabi dan Sahabat, sehingga wajar kalau
pada setiap permasalahan yang mereka
pertanyakan bukanlah dalil syar’i, dan
tanpa sadar mereka telah mengingkari
sebagian syari’at Islam atau dengan
kata lain inilah ciri Manipulasi Fatwa
Ala Wahhabi , semoga kekaguman
mereka terhadap Ibnu Taimiyah bisa
memperkecil perbedaan selama ini.
2. Pendapat Ibnu Katsir Tentang Maulid
Nabi
Imam Ibnu Katsir dalam
Kitabnya Bidayah wa an-Nihayah juz 13
halaman 136,
memuji Raja Mudzaffar Abu Sa’id al-
Kukburi sebagai berikut:
ﻭﻛﺎﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﺍﻟﻤﻮﻟﺪ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ ﻓﻲ ﺭﺑﻴﻊ ﺍﻷﻭﻝ
ﻭﻳﺤﺘﻔﻞ ﺑﻪ ﺍﺣﺘﻔﺎﻻ ﻫﺎﺋﻼ
ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﺷﻬﻤﺎ ﺷﺠﺎﻋﺎ ﻓﺎﺗﻜﺎ ﺑﻄﻼ ﻋﺎﻗﻼ
ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻋﺎﺩﻻ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻛﺮﻡ ﻣﺜﻮﺍﻩ
“Dan dia (Raja Mudzaffar)
menyelenggarakan Maulid Nabi yang
mulia di bulan Rabi’ul Awwal secara
besar-besaran. Ia juga seorang raja yang
cerdas, pemberani kesatria, pandai, dan
adil, semoga Allah mengasihinya dan
menempatkannya di tempat yang paling
baik.”
Imam Ibnu Katsir juga
mengatakan:
ﺇﻥ ﺃﻭﻝ ﻣﻦ ﺃﺭﺿﻌﺘﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻫﻲ
ﺛﻮﻳﺒﺔ ﻣﻮﻻﺓ ﺃﺑﻲ ﻟﻬﺐ ﻭﻛﺎﻥ ﻗﺪ ﺃﻋﺘﻘﻬﺎ ﺣﻴﻦ
ﺑﺸﺮﺗﻪ ﺑﻮﻻﺩﺓ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . ﻭﻟﻬﺬﺍ
ﻟﻤﺎ ﺭﺁﻩ ﺃﺧﻮﻩ ﺍﻟﻌﺒﺎﺱ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻨﺎﻡ ﺑﻌﺪﻣﺎ
ﺭﺁﻩ ﺑﺸﺮ ﺧﻴﺒﺔ، ﺳﺄﻟﻪ : ﻣﺎ ﻟﻘﻴﺖ؟ ﻗﺎﻝ : ﻟﻢ ﺃﻟﻖ
ﺑﻌﺪﻛﻢ ﺧﻴﺮﺍً ﻏﻴﺮ ﺃﻧﻲ ﺳﻘﻴﺖ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺑﻌﺘﺎﻗﺘﻲ
ﻟﺜﻮﻳﺒﺔ ‏( ﻭﺃﺷﺎﺭ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﻘﺮﺓ ﺍﻟﺘﻲ ﺑﻴﻦ ﺍﻹﺑﻬﺎﻡ
ﻭﺍﻟﺘﻲ ﺗﻠﻴﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻷﺻﺎﺑﻊ ).
“Sesungguhnya orang pertama kali
menyusui Nabi Saw. adalah Tsuwaibah
yaitu budak perempuan Abu Lahab, dan
ia telah dimerdekakan dan dibebaskan
oleh Abu Lahab ketika Abu Lahab
gembira dengan kelahiran Nabi Saw.
Karena demikian setelah meninggalnya
Abu Lahab, salah seorang saudaranya
yaitu Abbas melihatnya dalam mimpi,
salah seorang familinya bermimpi
melihat ia dalam keadaan yang sangat
buruk, dan Abbas bertanya: “Apa yang
engkau dapatkan?” Abu Lahab
menjawab: “Sejak aku tinggalkan kalian
(mati), aku tidak pernah mendapat
kebaikan sama sekali, selain aku diberi
minuman di sini (Abu Lahab
menunjukkan ruang antara ibu jarinya
dan jari yang lain) karena aku
memerdekaan Tsuwaibah”. (Lihat dalam
Kitab Bidayah wa an-Nihayah juz 2
halaman 272-273, Kitab Sirah an-
Nabawiyah juz 1 halaman 124 dan Kitab
Maulid Ibnu Katsir halaman 21).
Imam Ibnu Katsir mengagungkan
malam Maulid Nabi, berikut pernyataan
beliau dalam Kitab Maulid Ibnu Katsir
halaman 19:
ﺇﻥ ﻟﻴﻠﺔ ﻣﻮﻟﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻛﺎﻧﺖ
ﻟﻴﻠﺔ ﺷﺮﻳﻔﺔ ﻋﻈﻴﻤﺔ ﻣﺒﺎﺭﻛﺔ ﺳﻌﻴﺪﺓ ﻋﻠﻰ
ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ، ﻃﺎﻫﺮﺓ، ﻇﺎﻫﺮﺓ ﺍﻷﻧﻮﺍﺭ ﺟﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﻤﻘﺪﺍﺭ
“Sungguh malam kelahiran Nabi Saw.
adalah malam yang sangat mulia dan
banyak berkah dan kebahagiaan bagi
orang mukmin dan malam yang suci, dan
malam yang terang cahaya, dan malam
yang sangat agung”.
Sebagaimana pula dikatakan oleh
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam
kitab ad-Durar al-Kaminah mengatakan
bahwa kitab tersebut adalah kitab Ibnu
Katsir yang membolehkan Maulid Nabi
dan di dalamnya membahas tentang
perayaan peringatan Maulid Nabi.
TERNYATA:
Ibnu Katsir yang dianggap sama
oleh Salafi-Wahabi dengan mereka
dalam semua hal, juga mengagungkan
Maulid, bahkan beliau punya kitab
tentang kebolehan dan keagungan
Maulid Nabi, perbedaan yang sangat
mencolok ini tentu tidak aneh, karena
Ibnu Katsir adalah seorang Ahlus
Sunnah Waljama’ah (Aswaja), cuma
mereka tidak mau melepaskan Ibnu
Katsir, karena tanpa Ibnu Katsir,
mereka tidak punya lagi ulama hebat
yang bisa mereka sandarkan ajaran
mereka, dan penganut Wahabi akan
semakin berkurang drastis, dan separuh
kebohongan yang mereka tutupi selama
ini akan terkuak dengan sendirinya,
buktinya dalam hal ini Ibnu Katsir
terlepas dari ajaran Wahabi. Perayaan
Maulid yang telah dirayakan setiap
tahun di masanya, tidak memvonis
pecinta Maulid Nabi dengan Ahlu
Bid’ah, apalagi sampai menyamai
dengan perayaan Kuffar.
Dalam kitab nya Ibnu Katsir
memuji Raja Mudzaffar, karena
kedermawanannya dalam perayaan
Maulid besar-besaran, bahkan lebih
dari itu, ketika para penganut Wahabi
menganggap “orang yang merayakan
Maulid sama dengan Abu
Lahab” ternyata Ibnu Katsir
membenarkan kisah tersebut, Ibnu
Katsir membenarkan Abu Lahab
membebaskan budaknya Tsuwaibah
karena kegembiraan nya dengan berita
kelahiran Nabi dan dengan sebab itu ia
mendapat sedikit air yang dapat ia
minum di kubur, karena kekufurannya
telah menghalangi pahala dan fadhilah
besar yang seharusnya. Tidak cuma itu.
Ibnu Katsir juga percaya bahwa
malam Maulid Nabi adalah malam yang
penuh berkah, malam yang lebih dari
malam lainnya, tentu saja ini sangat
bertolak-belakang dengan anggapan
Wahabi, karena mereka anggap malam
Maulid tidak tidak punya kelebihan
apapun, sama seperti malam
sebelumnya atau sesudahnya, semoga
perasaan mereka terhadap Ibnu Katsir
bisa menimbulkan benih cinta mereka
terhadap Maulid Nabi Saw.
3. Pendapat Imam Adz-Dzahabi Tentang
Maulid Nabi
Adz-Dzahabi juga memuji Abu
Said Al-Kukburi dalam kkitabnya yang
berjudul Siyar A'lam an-Nubala' juz 22
halaman 336:
ﻭﻛﺎﻥ ﻣﺘﻮﺍﺿﻌًﺎ ، ﺧﻴِّﺮًﺍ ﺳﻨّﻴًﺎ ، ﻳﺤﺐّ ﺍﻟﻔﻘﻬﺎﺀ
ﻭﺍﻟﻤﺤﺪّﺛﻴﻦ
“Dan adalah ia (Raja Mudzaffar) itu yang
rendah hati, dan baik dan
juga Sunni (Ahlus Sunnah Waljama'ah)
dan ia mencintai Fuqaha’ (Ulama Fiqih)
dan Muhadditsin (Ulama Hadits).“
TERNYATA :
Adz-Dahabi sama halnya dengan
Ibnu Katsir, ia juga memuji Raja
Maulid Raja Mudzaffar, dan dengan
jelas adz-Dzahabi menyebutnya
dengan Sunni yakni Ahlus Sunnah
Waljama’ah, tapi kenapa Wahabi
menyebut pecinta Maulid dengan Ahlu
Bid’ah? tidakkah mereka malu kepada
Imam mereka? kenapa justru mencari-
cari alasan untuk mengingkari
kebenaran dari Ulama yang mereka
sukai, kenapa harus menutupi
kebenaran yang datang dari diri
mereka sendiri, kalau saja kebenaran
datang dari orang yang ia musuhi dan
benci selama ini, mungkin saja terlalu
berat menerima dan mengakui nya, tapi
ini kebenaran dari diri mereka sendiri.
Semoga ini menjadi sebuah
renungan bagi siapapun yang terlalu
anti dengan Maulid Nabi, bila pun
terlalu berat mengakui kelebihannya,
cukuplah dengan berdiri di tengah-
tengah saja, tidak perlu ikutan Maulid,
dan juga jangan ikutan mencaci-maki
Maulid, biarpun nantinya juga akan
sangat menyesal karena tidak bisa
merasakan bila ternyata begitu besar
fadhilah Maulid di akhirat kelak
nantinya.

Senin, 14 Desember 2015

Tentang niat2

DALIL TENTANG KEDUDUKAN NIAT
Di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim
disebutkan bahwa amal perbuatan sangat
bergantung kepada niat. Nabi Muhammad saw
bersabda, sebagaimana diriwayatkan dari Amirul
Mu'minin Umar ibn al-Khatthab r.a.:
ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻻَﻋْﻤَﺎﻝُ ﺑﺎِﻟﻨِّﻴَﺎﺕِ ﻭَﺍِﻧَّﻤَﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣَﺎ ﻧَﻮَﻯ
Bahwasanya setiap amal (perbuatan) hanya
bergantung kepada niat dan bahwasanya setiap
urusan (juga) bergantung kepada apa yang
diniatkan.
al-Imam al-Suyuthi rah di dalam karyanya " Al-
Ashbah wa al-Nadzoir fil furu' " menjelaskan
bahwa hadits innamal a'malu binniyyat ini
merupakan pondasi dari sebagian besar ilmu
agama. Imam al-Syafi'i r.a. sebagaimana dikutip
oleh Imam al-Suyuthi rah, mengatakan bahwa
dari hadits ini lahir 40 cabang pembahasan ilmu.
Demikian besarnya perhatian para ulama,
sebagaimana terekam dari penjelasan Imam al-
Suyuthi tadi menegaskan bahwa persoalan niat
mempunyai kedudukan tersendiri bahkan penting
di dalam urusan agama.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya APAKAH
NABI SAW MEMBACA NIAT KETIKA
MELAKUKAN IBADAH?
Menjawab pertanyaan ini, saya akan lampirkan
beberapa dalilnya:1. Hadits riwayat Anas bin
Malik bahwa Rasul saw mengucapkan niat
ketika melaksanakan haji
ﻋَﻦ ﺍَﻧَﺲ ﺭَﺿِﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋَﻨﻪ ﺳَﻤِﻌْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪ ﺻَﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻟَﺒَّﻴﻚ ﻋُﻤْﺮَﺓً ﻭَﺣَﺠًّﺎ
Dari Anas ibn Malik r.a. ia berkata: Aku
mendengar Rasul saw berujar mengucapkan niat
hajinya,' Aku penuhi panggilan-Mu untuk umrah
dan haji" (HR Muslim, sebagaimana tertulis di
dalam Syarah (penjelasan) Shahih Muslim karya
Imam al-Nawawi rah Jilid VIII/hal.216)2.
Hadits Riwayat Umar ibn al-Khatthab dengan
matan (isi) hadits yang lebih lengkap lagi
mengenai niat haji Rasul saw:
ﻋَﻦْ ﻋُﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﺳَﻤِﻌﺖُ ﺭَﺳﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑِﻮَﺍﺩﻯ ﺍﻟﻌَﻘِﻴﻖ ﻳَﻘُﻮﻝ ﺍَﺗَﺎﻧِﻰ ﺍﻟﻠَّْﻴﻠﺔَ َﺍﺕِ
ﺭَﺏِّ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺻَﻞِّ ﻓِﻰ ﻫَﺬﺍَ ﺍﻟﻮَﺍﺩِﻯ ﺍﻟﻤُﺒَﺎﺭَﻙ ﻭَﻗُﻞ ﻋُﻤْﺮَﺓً ﻓِﻰ
ﺣَﺠَّﺔٍ
Dari Umar r.a. ia berkata Aku mendengar Rasul
saw di lembah al-Aqiq berkata: " telah datang
kepadaku tadi malam utusan Tuhanku (malaikat),
ia berkata,' shalatlah (kamu wahai Rasul saw) di
lembah yang penuh berkah ini dan ucapkanlah
niat umrah untuk haji'. " (HR Bukhari Jilid 1/
hal.89)
Kedua hadits di atas, bagi mereka yang baru
belajar agama, pasti akan disanggah dengan
komentar " Lho itu khan hadits tentang lafadz
niat haji terus apa hubungannya dengan sholat?"
Baiklah saya akan jawab. Meskipun hadits di
atas menjelaskan masalah niat (mengucapkan
niat) di dalam ibadah haji, tapi bukan berarti
muatan hadits di atas, yaitu mengucapkan niat,
hanya khusus untuk ibadah haji. Kesimpulan
tersebut sesuai dengan kaidah di dalam ilmu
ushul fikih:
ﺍِﺫَﺍ ﻭَﺭَﺩَ ﺍﻟﻌَﺎﻡُ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﺒَﺐٍ ﺧَﺎﺹٍ ﻓَﺎﻟﻌِﺒْﺮَﺓُ ﻟِﻌُﻤُﻮﻡِ ﺍﻟﻠَّﻔْﻆِ ﻻَ
ﻟِﺨُﺼُﻮﺹِ ﺍﻟﺴَّﺒَﺐ
"Apabila ada nash (teks dalil baik Al-Qur'an
ataupun hadits) yang bersifat umum karena sebab
yang khusus, maka yang dianggap umum adalah
nash bukan khususnya sebab".
Kaidah ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Qudamah
al-Maqdisy rah seorang ulama salaf (Ibnu
Qudamah wa atsuruhu al-ushuliyyah hal. 233)
Dengan berpatokan kepada kaidah ushul fikih
itu, kedua hadits di atas dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Teks kedua hadits di atas muncul karena
sebab yang khusus yaitu haji dan umrah;
2. Isi teks kedua hadits di atas dipandang
bersifat umum karena Nabi Muhammad saw
tidak menjelaskan bahwa lafadz niat itu hanya
diucapkan pada saat haji dan umrah saja.
Lain halnya jika di belakang kedua teks hadits
itu Nabi Muhammad saw menegaskan dengan
kalimat "jangan kalian baca niat selain daripada
haji dan umrah ini.", seperti terdapat di dalam
hadits tentang membaca surat Al-fatihah di
dalam shalat bagi makmum.
PANDANGAN ULAMA
Untuk menegaskan kesimpulan di atas, di sini
saya akan lampirkan beberapa pandangan ulama
mengenai melafadzkan niat. Pandangan ulama
ini penting dikarenakan mereka memahami
secara utuh makna Al-Qur'an dan sunnah.
1. Mazhab Imam Abu Hanifah. Para ulama
pengikut mazhab Imam Abu Hanifah
berpendapat bahwa melafadzkan niat sunnah
hukumnya untuk membantu kesempurnaan niat
di dalam hati. Silakan cek di (Al-Bada'i al-
Shana'iy fi Tartib al-Syara'i Jilid I/hal.127, al-
durru al-Mukhtar Jilid I/hal.406, al-Lubab Jilid I/
hal.66)
2. Mazhab Imam Malik bin Anas (Maliky). Niat
shalat adalah syarat sah di dalam shalat,
sebaiknya niat tidak dilafadzkan kecuali ragu.
Karena itu menjadi sunnah melafadzkan niat
shalat untuk menghilangkan keraguan. silakan
lihat di (al-Syarh al-Shaghir wa hasyiyatu al-
Shawi Jilid I/hal.303 dan 305)
3. Mazhab Syafi'i, Sunnah melafadzkan niat
menjelang takbiratul ihram dan wajib
menentukan jenis shalat yang dilakukan (Lihat
Imam al-Nawawy Majmu Syarah al-Muhazzab
Jilid III/hal.243 dan hal 252)
4. Mazhab Hanbali, sunnah melafadzkan niat
dengan lisan. Lihat al-Mughny Jilid 1/
hal.464-469 dan Kasyf al-Qona Jilid 1/
hal.364-370).
Itulah pandangan ulama mazhab dianggap
mewakili mayoritas umat Islam ahlussunnah.
Adapun pandangan Syaikh bin Baz rah dan
Syaikh al-albany yang menganggap membaca
niat adalah bid'ah tidak dapat dijadikan sebagai
alasan mengingat pandangan kedua ulama itu
bersifat pribadi dan tidak dapat mewakili
mayoritas. Hanya orang-orang yang kurang
pengetahuan agamanya saja yang menganggap
pendapat kedua ulama tersebut sejalan dengan
sunnah Nabi saw.
KESIMPULAN
1. Mengucapkan lafadz niat di
dalam ibadah bukanlah perkara
bid'ah karena yang demikian telah
disebutkan secara tersirat oleh
Nabi Muhammad saw.
2. Suatu perbuatan dapat
dikatakan bid'ah jika tidak ada
contohnya baik di dalam Al-Qur'an
ataupun di dalam sunnah Nabi
Muhammad saw. Syaikh Nawawi
al-bantany rah menambahkan
kriteria perbuatan bid'ah adalah
menyalahi perintah syariat.
3. Dengan membaca secara jelas
kedua hadits shahih dan
berpedoman kepada kaidah di
dalam membaca dalil sebagaimana
yang diajarkan oleh para ulama,
tidak ditemukan persoalan bid'ah di
dalam melafalkan niat ibadah
apakah itu shalat, puasa, zakat,
ataupun haji.
4. Menganggap bid'ah sebuah
perbuatan bukanlah perkara yang
gampang karena konsekuensi
tuduhan bid'ah adalah kesesatan
yang berujung kepada kekufuran.

Kisah kelahiran insan mulia RASULULLAH SAW

Telah disebutkan bahwa sesungguhnya pada
bulan ke sembilan kehamilan Sayyidah Aminah
(Rabiul Awwal) saat hari-hari kelahiran Baginda
Nabi Muhammad S.A.W sudah semakin
mendekati, Allah S.W.T semakin melimpahkan
bermacam anugerahNya kepada Sayyidah
Aminah mulai tanggal 1 hingga malam tanggal 12
Rabiul Awwal malam kelahiran Al-Musthofa
Muhammad S.A.W.
Pada Malam Pertama (ke 1) :
Allah swt melimpahkan segala kedamaian dan
ketentraman yang luar biasa sehingga beliau
(ibunda Nabi Muhammad saw), Sayyidah Aminah
merasakan ketenangan dan kesejukan jiwa yang
belum pernah dirasakan sebelumnya.
Pada malam ke 2 :
Datang seruan berita gembira kepada ibunda
Nabi Muhammad saw yang menyatakan dirinya
akan mendapati anugerah yang luar biasa dari
Allah swt.
Pada malam ke 3 :
Datang seruan memanggil “Wahai Aminah…
sudah dekat saat engkau melahirkan Nabi yang
agung dan mulia, Muhammad Rasulullah saw
yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada
Allah swt.”
Pada malam ke 4 :
Sayyidah Aminah mendengar seruan beraneka
ragam tasbih para malaikat secara nyata dan
jelas.
Pada malam ke 5 :
Sayyidah Aminah bermimpi dengan Nabi Allah
Ibrahim as.
Pada malam ke 6 :
Sayyidah Aminah melihat cahaya Nabi
Muhammad saw memenuhi alam semesta.
Pada malam ke 7 :
Sayyidah Aminah melihat para malaikat silih
berganti saling berdatangan mengunjungi
kediamannya membawa kabar gembira sehingga
kebahagiaan dan kedamaian semakin memuncak.
Pada malam ke 8 :
Sayyidah Aminah mendengar seruan memanggil
dimana-mana, suara tersebut terdengar dengan
jelas mengumandangkan “Bahagialah wahai
seluruh penghuni alam semesta, telah dekat
kelahiran Nabi agung, Kekasih Allah swt Pencipta
Alam Semesta.”
Pada malam ke 9 :
Allah swt semakin mencurahkan rahmat belas
kasih sayang kepada Sayyidah Aminah sehingga
tidak ada sedikitpun rasa sedih, susah, sakit,
dalam jiwa Sayyidah Aminah.
Pada malam ke 10 :
Sayyidah Aminah melihat tanah Tha’if dan Mina
ikut bergembira menyambut kelahiran Baginda
Nabi Muhammad saw.
Pada malam ke 11 :
Sayyidah Aminah melihat seluruh penghuni langit
dan bumi ikut bersuka cita menyongsong
kelahiran Sayyidina Muhammad saw.
Malam detik-detik kelahiran Rasulullah, tepat
tanggal 12 Rabiul Awwal jam 2 pagi. Di malam ke
12 ini langit dalam keadaan cerah tanpa ada
mendung sedikitpun. Saat itu Sayyid Abdul
Muthalib (kakek Nabi Muhammad saw) sedang
bermunajat kepada Allah swt di sekitar Ka’bah.
Sayyidah Aminah sendiri di rumah tanpa ada
seorang pun yang menemaninya.
Tiba-tiba beliau, Sayyidah Aminah melihat tiang
rumahnya terbelah dan perlahan-lahan muncul 4
wanita yang sangat anggun, cantik, dan jelita
diliputi dengan cahaya yang memancar
berkemilau serta semerbak harum memenuhi
seluruh ruangan.
Wanita pertama datang berkata,”Sungguh
berbahagialah engkau wahai Aminah, sebentar
lagi engkau akan melahirkan Nabi yang agung,
junjungan semesta alam. Beliaulah Nabi
Muhammad saw. Kenalilah aku, bahwa aku
adalah istri Nabi Allah Adam as, ibunda seluruh
umat manusia., aku diperintahkan Allah untuk
menemanimu.”
Kemudian datanglah wanita kedua yang
menyampaikan kabar gembira, “Aku adalah istri
Nabi Allah Ibrahim as diperintahkan Allah swt
untuk menemanimu.”
Begitu pula menghampiri wanita yang ketiga,”Aku
adalah Asiyah binti Muzahim, diperintahkan Allah
untuk menemanimu.”
Datanglah wanita ke empat,”Aku adalah Maryam,
ibunda Isa as menyambut kehadiran putramu
Muhammad Rasulullah.”
Sehingga semakin memuncak rasa kedamaian
dan kebahagiaan ibunda Nabi Muhammad saw
yang tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.
Keajaiban berikutnya Sayyidah Aminah melihat
sekelompok demi sekelompok manusia bercahaya
berdatangan silih berganti memasuki ruangan
Sayyidah Aminah dan mereka memanjatkan puji-
pujian kepada Allah swt dengan berbagai macam
bahasa yang berbeda.
Detik berikutnya Sayyidah Aminah melihat atap
rumahnya terbuka dan terlihat oleh beliau
bermacam-macam bintang di angkasa yang
sangat indah berkilau saling beterbangan.
Detik berikutnya Allah bangun dari singasanaNya
dan memerintahkan kepada Malaikat Ridwan
agar mengkomandokan seluruh bidadari syurga
agar berdandan cantik dan rapih, memakai
segala macam bentuk perhiasan kain sutra
dengan bermahkota emas, intan permata yang
bergemerlapan, dan menebarkan wangi-wangian
syurga yang harum semerbak ke segala arah. lalu
trilyunan bidadari itu dibawa ke alam dunia oleh
Malaikat Ridwan, terlihat wajah bidadari itu
gembira.
Lalu Allah swt memanggil : “Yaa Jibril…
serukanlah kepada seluruh arwah para nabi, para
rasul, para wali agar berkumpul, berbaris rapih,
bahwa sesungguhnya Kekasihku cahaya di atas
cahaya, agar disambut dengan baik dan suruhlah
mereka mnyambut kedatangan Nabi Muhammad
saw.
Yaa Jibril… perintahkanlah kepada Malaikat Malik
agar menutup pintu-pintu neraka dan
perintahakan kepada Malaikat Ridwan untuk
membuka pintu-pintu syurga dan bersoleklah
engkau denagn sebaik-baiknya keindahan demi
menyambut kekasihKu Nabi Muhammad saw.
Yaa Jibril… bawalah trilyunan malaikat yang ada
di langit, turunlah ke bumi, ketahuilah KekasihKu
Muhammad saw telah siap untuk dilahirkan dan
sekarang tiba saatnya Nabi Akhiruzzaman.”
Dan turunlah semua malaikat, maka penuhlah isi
bumi ini dengan trilyunan malaikat. Lalu ibunda
Rasulullah saw di bumi, beliau melihat malaikat
itupun berdatangan membawa kayu-kayu gahru
yang wangi dan memenuhi seluruh jagat raya.
Pada saat itu pula mereka semua berdzikir,
bertasbih, bertahmid, dan pada saat itu pula
datanglah burung putih berkilau cahaya
mendekati Sayyidah Aminah dan mengusapkan
sayapnya pada Sayyidah Aminah, maka pada
saat itu pula lahirlah Muhammad Rasulullah saw
dan tidaklah Sayyidah Aminah melihat kecuali
cahaya, tak lama kemudian terlihatlah jari-jari
Nabi Muhammad saw bersujud kepada Allah
seraya mengucapkan, “Allahu Akbar.. Allahu
Akbar.. Walhamdulillahi katsira, wasubhanallahib
ukratan wa asiilaa.”
Semakin memuncaklah kegembiraan seluruh
alam dunia dan semesta dan terucaplah “Yaa
Nabi Salam Alaika… Yaa Rasul Salam Alaika…
Yaa Habib Salam Alaika… Shalawatullah Alaika.. ”
Senyum indah terpancar dari wajahNya dan
hancurlah berhala-berhala dan bergembiralah
semua alam semesta menyambut kelahiran Nabi
yang mulia…
# BulanKelahiranNabiMuhammadSAW
“Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina
Muhammad nuuri-kas saari wa madaadikal jaari
wajma’nii bihi fi kulli athwaari wa ‘ala alihi wa
shahbihi yannuur”
Artinya:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat serta salam
kepada junjungan Nabi Besar Muhammad, sang
cahaya-Mu yang selalu bersinar dan pemberian-
Mu yang tak kunjung putus, dan kumpulkanlah
aku dengan Rasulullah di setiap zaman, serta
shalawat untuk keluarganya dan sahabatnya,
wahai Sang Cahaya.”
ﺁﻣﻴﻦ...