Selasa, 05 Desember 2017

PEMBAGIAN MANUSIA MENURUT IMAM GHOZALI

Syeikh Imam al Ghazali
atau bernama lengkap Abu Hamid
Muhammad bin Muhammad al-
Ghazali ath-Thusi asy-Syafii adalah
ulama produktif. Tidak kurang 228
kitab telah ditulisnya, meliputi
berbagai disiplin ilmu; tasawuf,
fikih, teologi, logika, hingga filsafat.
Sang Hujjatul Islam (julukan ini
diberikan karena kemampuan daya
ingat yang kuat dan bijak dalam
berhujjah) ini sangat dihormati di
dua dunia Islam yaitu Saljuk dan
Abbasiyah, yang merupakan pusat
kebesaran Islam.
Al Ghazali pernah membagi
manusia menjadi empat (4)
golongan;
Pertama, Rojulun Yadri wa Yadri
Annahu Yadri (Seseorang yang
Tahu (berilmu), dan dia Tahu kalau
dirinya Tahu).
Orang ini bisa disebut ‘ alim =
mengetahui. Kepada orang ini yang
harus kita lakukan adalah
mengikutinya. Apalagi kalau kita
masih termasuk dalam golongan
orang yang awam, yang masih
butuh banyak diajari, maka sudah
seharusnya kita mencari orang yang
seperti ini, duduk bersama
dengannya akan menjadi pengobat
hati.
“Ini adalah jenis manusia yang
paling baik. Jenis manusia yang
memiliki kemapanan ilmu, dan dia
tahu kalau dirinya itu berilmu,
maka ia menggunakan ilmunya. Ia
berusaha semaksimal mungkin agar
ilmunya benar-benar bermanfaat
bagi dirinya, orang sekitarnya, dan
bahkan bagi seluruh umat
manusia. Manusia jenis ini adalah
manusia unggul. Manusia yang
sukses dunia dan akhirat,” ujarnya.
Kedua, Rojulun Yadri wa Laa Yadri
Annahu Yadri (Seseorang yang
Tahu (berilmu), tapi dia Tidak
Tahu kalau dirinya Tahu).
Untuk model ini, bolehlah kita
sebut dia seumpama orang yang
tengah tertidur. Sikap kita
kepadanya membangunkan dia.
Manusia yang memiliki ilmu dan
kecakapan, tapi dia tidak pernah
menyadari kalau dirinya memiliki
ilmu dan kecakapan. Manusia jenis
ini sering kita jumpai di sekeliling
kita. Terkadang kita menemukan
orang yang sebenarnya memiliki
potensi yang luar biasa, tapi ia
tidak tahu kalau memiliki potensi.
Karena keberadaan dia seakan gak
berguna, selama dia belum bangun
manusia ini sukses di dunia tapi
rugi di akhirat.
Ketiga, Rojulun Laa Yadri wa Yadri
Annahu Laa Yadri (Seseorang yang
tidak tahu (tidak atau belum
berilmu), tapi dia tahu alias sadar
diri kalau dia tidak tahu).
Menurut Imam Ghazali, jenis
manusia ini masih tergolong baik.
Sebab, ini jenis manusia yang bisa
menyadari kekurangannnya. Ia bisa
mengintropeksi dirinya dan bisa
menempatkan dirinya di tempat
yang sepantasnya. Karena dia tahu
dirinya tidak berilmu, maka dia
belajar.
Dengan belajar itu, sangat
diharapkan suatu saat dia bisa
berilmu dan tahu kalau dirinya
berilmu. Manusia seperti ini
sengsara di dunia tapi bahagia di
akhirat.
Keempat , Rojulun Laa Yadri wa Laa
Yadri Annahu Laa Yadri (Seseorang
yang Tidak Tahu (tidak berilmu),
dan dia Tidak Tahu kalau dirinya
Tidak Tahu).
Menurut Imam Ghazali, inilah
adalah jenis manusia yang paling
buruk. Ini jenis manusia yang
selalu merasa mengerti, selalu
merasa tahu, selalu merasa
memiliki ilmu, padahal ia tidak
tahu apa-apa.
Repotnya manusia jenis seperti ini
susah disadarkan, kalau diingatkan
ia akan membantah sebab ia
merasa tahu atau merasa lebih
tahu. Jenis manusia seperti ini,
paling susah dicari kebaikannya.
Manusia seperti ini dinilai tidak
sukses di dunia, juga merugi di
akhirat.
Untuk itu mari kita intropeksi diri
masing-masing, di kelompak
manakah kita berada. Semoga
Bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar