Tampilkan postingan dengan label kisah sahabat nabi SAW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah sahabat nabi SAW. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

Kedermawanan abu bakar ra

Sayyidina ABu Bakar ra terkenal akan
kedermawanannya, siapapun yang datang ke
rumahnya selalu pulang dengan membawa
sesuatu.
Siapapun yang datang selalu di beri, sampai tak
tersisa apapun walaupun sekedar makanan untuk
keluarganya.
Suatu ketika datang seorang pemuda dengan
baju sobek-sobek ke rumah sayyidina Abu Bakar
ashiddiq ra.
Sayyidina Abu bakar melihat si pemuda dan
berkata dengan lirih ,: Ya Allah kasihan sekali si
pemuda ini, maka ia segera masuk ke dalam
rumahnya bermaksud ingin mengambil baju yang
lebih baik untuk di sedekahkannya.
Dilihat di lemari bajunya kosong , tidak satupun
pakaian yang ada. Hanya baju yang ia kenakan
saja yang tinggal ia miliki.
Keluar menemui si pemuda dan berkata : Saya
minta maaf tidak ada lagi yang bisa kami berikan
untukmu wahai pemuda.
Berkata si pemuda : Apakah engkau Abu Bakar
ashiddiq ?
Ia , "saya abu bakar..."
berkata si pemuda : " ENgkau biarkan , aku
keluar dari rumah Abu Bakar ashiddiq dengan
tangan hampa? tanpa membawa sesuatu? "
ENgkau akan di tanya oleh Allah?
Maka bergegas Sayyidina ABu bakar asshiddiq
masuk kembali ke dalam rumahnya , diambilnya
karung beras dari bahan lalu di bukanya bajunya,
dan ia memakai karung beras untuk menutupi
auratnya. Lalu deberikannya pakainnya kepada si
pemuda tersebut. Sampai tidak bisa datang di
majlisnya Rasulullah saw
Di majelis nya Rasulullah saw, Rasulullah
shalallahu alaihi wasallam yang sedang majlis
bersama para sahabat yang lain berkata :
"Dimana Ashiddiq?
Salah seorang sahabat berkata : Di Rumahnya,
ya rasulullah
Panggilkan ia kemari
Maka di panggilnyalah sayyidina abu bakar
ashiddiq ra.
Datang sayyidina ABu Bakar ashiddiq ra lalu dari
pintu masuk masjidnya rasulullah menuju
rasulullah shalallahu alaihi wasallam jalan dengan
merangkak.
(Beruntung saat itu tidak satupun sahabat yang
bermulut usil...ooi sesat tuh, syirik tuh, kafir
tuh...
Sayyidina Abu bakar ra jalan merangkak menuju
Rasulullah saw agar jangan sampai auratnya
terlihat satupun ..Masya Allah..subhanallah..ini
laki-laki..bagaimana dengan lelaki di zaman
sekarang?
tiba di hadapan rasulullah saw, duduk sayyidina
abu bakar asshiddiq ra dengan malu sekali
lalu tiba-tiba datang pemuda yang memakai
pakaian Abu Bakar ashiddiq menuju rasulullah
saw lalu membisikkan ke rasulullah saw.
Para sahabat berdiri geram melihat seorang
pemuda yang masuk tiba-tiba membisikkan
sesuatu kepada Rasulullah saw ,lalu segera
keluar dan pergi entah kemana mereka tidak
mengenal si pemuda tersebut.
Berkata Rasulullah saw : Ya Aba bakar : Apakah
engkau kenal dengan pemuda yang memakai
bajumu itu?
berkata sayyidina Abu Bakar asshiddiq : Allah
dan RasuluNya yang lebih mengetahui
Rasulullah saw bersabda : Pemuda tadi adalah
"Jibril as, jadi yang datang kerumahnya sayyidina
abu bakar adalah malaikat jibril
Ya Aba bakar : Malaikat jibril menyampaikan
salam dari Allah subhanallahu wata`ala untukmu
lalu Allah swt bertanya , "Apakah engkau ridha
dengan apa yang telah engkau infakkan di jalan
Allah ?
Mengucurlah airmata sayyidina abu bakar
asshiddiq ra mendengar ucapan kekasihnya
Rasulullah shallalahu alaihi wasallam dan berkata
dengan lirih : Ya Rasulullah, "Bagaimana saya
tidak ridha, semuanya adalah milik Allah swt.
Inilah sosok yang sangat dahsyat cintanya pada
sang Nabi shalallahu alaihi wasallam
Wallahu`alam

Minggu, 25 Oktober 2015

Calon penghuni syurga

Ahli surga Karena Tidak Hasad ( IRI HATI )
Diriwayatkan dari Anas bin Malik dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau bersabda, ‘Sebentar lagi akan datang seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian seorang laki-laki dari Anshar lewat di hadapan mereka sementara bekas air wudhu masih membasahi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal.
Esok harinya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang laki-laki penghuni Surga.’ Kemudian muncul lelaki kemarin dengan kondisi persis seperti hari sebelumnya.
Besok harinya lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga!!’ Tidak berapa lama kemudian orang itu masuk sebagaimana kondisi sebelumnya; bekas air wudhu masih memenuhi jenggotnya, sedangkan tangan kirinya menenteng sandal .
Setelah itu Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Sementara Abdullah bin Amr bin Ash mengikuti lelaki tersebut, lalu ia berkata kepada lelaki tersebut, ‘Aku sedang punya masalah dengan orang tuaku, aku berjanji tidak akan pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau mengijinkan, maka aku akan menginap di rumahmu untuk memenuhi sumpahku itu.’
Dia menjawab, ‘Silahkan!’
Anas berkata bahwa Amr bin Ash setelah menginap tiga hari tiga malam di rumah lelaki tersebut tidak pernah mendapatinya sedang qiyamul lail, hanya saja tiap kali terjaga dari tidurnya ia membaca dzikir dan takbir hingga menjelang subuh. Kemudian mengambil air wudhu.
Abdullah juga mengatakan, ‘Saya tidak mendengar ia berbicara, kecuali yang baik.’
Setelah menginap tiga malam, saat hampir saja Abdullah menganggap remeh amalnya, ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, sesungguhnya aku tidak sedang bermasalah dengan orang tuaku, hanya saja aku mendengar Rasulullah selama tiga hari berturut-turut di dalam satu majelis beliau bersabda, ‘Akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni Surga.’ Selesai beliau bersabda, ternyata yang muncul tiga kali berturut-turut adalah engkau.
Terang saja saya ingin menginap di rumahmu ini, untuk mengetahui amalan apa yang engkau lakukan, sehingga aku dapat mengikuti amalanmu. Sejujurnya aku tidak melihatmu mengerjakan amalan yang berpahala besar. Sebenarnya amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Rasulullah berkata demikian?’
Kemudian lelaki Anshar itu menjawab, ‘Sebagaimana yang kamu lihat, aku tidak mengerjakan amalan apa-apa, hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.’
Abdullah bin Amr berkata, ‘Rupanya itulah yang menyebabkan kamu mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya’.”
Sumber: Az-Zuhdu, Ibnul Mubarak, hal. 220 (as-sofwah)

Wanita pembenci rasulullah yg taubat

Tersebutlah seorang wanita tua yang sedang melintasi gurun pasir dengan membawa beban yang berat. Walaupun tampak sangat kepayahan, namun ia tetap berusaha membawa barang bawaannya dengan sekuat tenaga. Tak lama kemudian, seorang laki-laki muda datang dan menawarkan diri untuk mengangkat bawaannya. Wanita malang itu menerima tawaran tersebut dengan senang hati. Laki-laki itu pun mengangkat bawaannya kemudian mereka berjalan beriringan.
“Senang sekali kamu mau membantu dan menemani, saya sangat menghargainya”, kata wanita itu. Ternyata ia adalah seorang wanita yang senang berbicara. Laki-laki itu pun dengan sabar mendengarkan sambil tersenyum tanpa pernah menginterupsinya. Suatu saat dia berkata pada laki-laki tersebut, “Anak muda, selama kita berjalan bersama, saya hanya punya satu permintaan. Jangan berbicara apapun tentang Muhammad! Gara-gara dia, tidak ada lagi rasa damai dan saya sangat terganggu dengan pemikirannya. Jadi sekali lagi, jangan berbicara apapun tentang Muhammad!”.
Dia lalu melanjutkan lagi, “Orang itu benar-benar membuat saya kesal. Saya selalu mendengar nama dan reputasinya kemanapun saya pergi. Dia dikenal berasal dari keluarga dan suku yang terpercaya, tapi tiba-tiba dia memecah belah orang-orang dengan mengatakan bahwa tuhan itu satu.”
“Dia menjerumuskan orang yang lemah, orang miskin, dan budak-budak. Orang-orang itu berpikir mereka akan dapat menemukan kekayaan dan kebebasan dengan mengikuti jalannya,” wanita itu melanjutkan dengan kesal. “Dia merusak anak-anak muda dengan memutarbalikkan kebenaran. Dia meyakinkan mereka bahwa mereka kuat dan bahwa ada suatu tujuan yang bisa diraih. Jadi anak muda, jangan sekali-kali kamu berbicara tentang Muhammad!”
Tak lama kemudian, mereka sampai ke tempat tujuan. Laki-laki itu menurunkan barang bawaannya. Wanita tua itu menatapnya sambil tersenyum penuh terima kasih. “Terima kasih banyak, anak muda. Kamu sangat baik. Kemurahan hati dan senyuman kamu itu sangat jarang saya temukan. Biarkan saya memberi kamu satu nasihat. Jauhi Muhammad! Jangan pernah memikirkan kata-katanya atau mengikuti jalannya. Kalau kamu lakukan itu, kamu tidak akan pernah mendapatkan ketenangan. Yang ada hanya masalah.”
Pada saat laki-laki itu berbalik menjauh, wanita itu menghentikannya, “Maaf, sebelum kita berpisah, boleh saya tahu namamu, anak muda?” Lalu laki-laki itu memberitahukannya dan wanita itu terkejut setengah mati.
“Maaf, apa yang kamu bilang? Kata-katamu tidak terdengar jelas. Telinga saya semakin tua, terkadang saya tidak bisa mendengar dengan baik. Kelihatannya lucu, saya pikir tadi saya mendengar kamu mengucapkan Muhammad.”
“Saya Muhammad,” laki-laki itu mengulang kata-katanya lagi pada wanita tua itu.
Wanita itu terpaku memandangi Rasulullah SAW. Tak berapa lama meluncur kata-kata dari mulutnya, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.“
Demikianlah Rasulullah SAW. Hanya dengan dua kata dari mulutnya yang mulia, serta dibekali dengan kerendahan hati, kesabaran, dan kewibawaan yang luar biasa, beliau sanggup mengubah hati seorang wanita tua yang sebelumnya sangat membencinya menjadi mencintainya hanya dalam waktu singkat. —

Kamis, 22 Oktober 2015

Bilal bin rabah setelah meninggalnya rasulullah saw

Kisah Sayyidina Bilal Bin Rabah R.A Yang Merindukan Rasulullah
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal tak sanggup mengumandangkan azan. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus.

Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya, “Ya Bilal, wa maa hadzal jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?”

Bilal pun bangun terperanjat, airmata rindunya seketika tak terbendung lagi. Segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.

Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi, pada sang kekasih. Penduduk Madinah yang mengetahui kedatangannya, segera keluar dari rumah untuk menyambutnya. Ketika masuk waktunya sholat, beberapa Sahabat meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan. Akan tetapi Bilal terus menolak permintaan itu.

Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi, Hasan dan Husein. Kali ini mereka berdua yang meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”

Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi itu. “wahai cahaya mataku, wahai dua orang yang sangat dicintai Rasul, sesungguhnya wajib bagiku untuk memenuhi keinginan kalian. Sesungguhnya apabila semua penduduk bumi memintaku mengumandangkan adzan, aku tetap tak akan mau melalukannya. Akan tetapi, setiap permintaan kalian berdua, adalah keharusan bagiku untuk melaksanakannya.”

Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada era Nabi. Mulailah dia mengumandangkan adzan.

Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi. Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya. Lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Setelah itu ia jatuh pingsan bersama banyak orang yang lain karena kerinduan mereka akan sosok Rasulullah SAW.

Hari itu, madinah mengenang masa saat masih ada Nabi. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi. Dan tidak pernah disaksikan hari yang lebih banyak laki-laki dan wanita menangis daripada hari itu

Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama Bilal sekaligus adzan terakhirnya semenjak Nabi wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan. Sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi.

Beberapa hari kemudian Bilal bin Rabah jatuh sakit. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, “Oh, betapa sedihnya hati ini….”

Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, “Oh, betapa bahagianya hati ini…. ” Lalu, sambil mengembuskan napas terakhirnya, Bilal berkata lirih,
“Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya
Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya” —

Bagaimana dengan kita ???

Bolak bin rabah setelah meninggalnya rasulullah saw

Kisah Sayyidina Bilal Bin Rabah R.A Yang Merindukan Rasulullah
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Sesaat setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.

Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, Bilal tak sanggup mengumandangkan azan. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi” (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah), ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.

Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.

Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”

Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”

Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam wafat.”

Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus.

Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Nabi hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya, “Ya Bilal, wa maa hadzal jafa’? Hai Bilal, kenapa engkau tak mengunjungiku? Kenapa sampai begini?”

Bilal pun bangun terperanjat, airmata rindunya seketika tak terbendung lagi. Segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah pada Nabi. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Nabi.

Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Nabi, pada sang kekasih. Penduduk Madinah yang mengetahui kedatangannya, segera keluar dari rumah untuk menyambutnya. Ketika masuk waktunya sholat, beberapa Sahabat meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan. Akan tetapi Bilal terus menolak permintaan itu.

Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucunda Nabi, Hasan dan Husein. Kali ini mereka berdua yang meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan buat kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”

Sembari mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Nabi itu. “wahai cahaya mataku, wahai dua orang yang sangat dicintai Rasul, sesungguhnya wajib bagiku untuk memenuhi keinginan kalian. Sesungguhnya apabila semua penduduk bumi memintaku mengumandangkan adzan, aku tetap tak akan mau melalukannya. Akan tetapi, setiap permintaan kalian berdua, adalah keharusan bagiku untuk melaksanakannya.”

Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja.

Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada era Nabi. Mulailah dia mengumandangkan adzan.

Saat lafadz “Allahu Akbar” dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan, itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”, seluruh isi kota madinah berlarian ke arah suara itu sembari berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar.

Dan saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Nabi. Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya. Lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Setelah itu ia jatuh pingsan bersama banyak orang yang lain karena kerinduan mereka akan sosok Rasulullah SAW.

Hari itu, madinah mengenang masa saat masih ada Nabi. Tak ada pribadi agung yang begitu dicintai seperti Nabi. Dan tidak pernah disaksikan hari yang lebih banyak laki-laki dan wanita menangis daripada hari itu

Dan adzan itu, adzan yang tak bisa dirampungkan itu, adalah adzan pertama Bilal sekaligus adzan terakhirnya semenjak Nabi wafat. Dia tak pernah bersedia lagi mengumandangkan adzan. Sebab kesedihan yang sangat segera mencabik-cabik hatinya mengenang seseorang yang karenanya dirinya derajatnya terangkat begitu tinggi.

Beberapa hari kemudian Bilal bin Rabah jatuh sakit. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, “Oh, betapa sedihnya hati ini….”

Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, “Oh, betapa bahagianya hati ini…. ” Lalu, sambil mengembuskan napas terakhirnya, Bilal berkata lirih,
“Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya
Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya” —

Bagaimana dengan kita ???

Kisah sahabat sya'ban RA

MENYESAL SAAT SAKARATUL MAUT
Alkisah seorang sahabat bernama Sya’ban RA.
Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol
dibandingkan sahabat – sahabat yang lain.
Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap
masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai
dia selalu beritikaf di pojok depan masjid.
Dia mengambil posisi di pojok bukan karena
supaya mudah senderan atau tidur, namun
karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak
mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.
Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat
bahkan oleh RasululLah Shallallahu `alaihi Wa
Sallam, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi
tersebut termasuk saat sholat berjamaah.
Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan
dimulai RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam
mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di
posisinya seperti biasa.
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya
kepada jemaah yang hadir apakah ada yang
melihat Sya’ban RA.
Namun tak seorangpun jemaah yang melihat
Sya’ban RA.
Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk
menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang
ditunggu belum juga datang.
Khawatir sholat subuh kesiangan, Rasul
Shallallahu `alaihi Wa Sallam memutuskan untuk
segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Selesai sholat subuh, Rasul Shallallahu `alaihi Wa
Sallam bertanya apa ada yang mengetahui kabar
dari Sya’ban RA.
Namun tak ada seorangpun yang menjawab .
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya lagi
apa ada yang mengetahui di mana rumah
Sya’ban RA.
Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan
mengatakan bahwa dia mengetahui persis di
mana rumah Sya’ban RA.
RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang
khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA
meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.
Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama
ditempuh oleh Rasul Shallallahu `alaihi Wa
Sallam dan rombongan sebelum sampai ke
rumah yang dimaksud.
Rombongan Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam
sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat
dhuha
( kira-kira 3 jam perjalanan).
Sampai di depan rumah tersebut beliau
Shallallahu `alaihi Wa Sallam mengucapkan
salam.
Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas
salam tersebut. “
Benarkah ini rumah Sya’ban RA?” Rasul
Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. “
Bolehkah kami menemui Sya’ban RA, yang tadi
tidak hadir saat sholat subuh di masjid?” .
Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA
menjawab:
“ Beliau telah meninggal tadi pagi”
InnaliLahi wainna ilaihirojiun…SubhanalLah ,
satu – satunya penyebab dia tidak solat subuh
berjamaah adalah karena ajal sudah
menjemputnya….
Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya
kepada Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam
“ Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya
bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya
dia berteriak tiga kali dengan masing – masing
teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya”.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam .
Di masing – masing teriakannya dia
berucapkalimat
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “
“ Aduuuh kenapa tidak semua……”
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun
melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf
(50) ayat 22 yang artinya:
“ Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan
lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari
padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka
penglihatanmu pada hari itu amat tajam “
Saat Sya’ban RA dalam keadaan sakratul maut…
perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah
Subhanahu wa Ta'ala .
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari
perbuatannya diperlihatkan oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala .
Apa yang dilihat oleh Sya’ban RA ( dan orang
yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh
yang lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban RA
melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia
pergi pulang ke Masjid untuk sholat berjamaah
lima waktu.
Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu
bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu
pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang
diperolehnya dari langkah – langkah nya ke
Masjid.
Dia melihat seperti apa bentuk sorga
ganjarannya.
Saat melihat itu dia berucap:
“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban RA,
mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya
pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga
yang didapatkan lebih indah.
Dalam penggalan berikutnya Sya’ban RA melihat
saai ia akan berangkat sholat berjamaah di
musim dingin.
Saat ia membuka pintu berhembuslah angin
dinginyang menusuk tulang.
Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil
satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia
memakai dua buah baju.
Sya’ban RA sengaja memakai pakaian yang
bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di
luar.
Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena
hanyalah baju yang luar, sampai di masjid dia
bisa membuka baju luar dan
solat dengan baju yang lebih bagus.
Dalam perjalanan ke tengah masjid dia
menemukan seseorang yang terbaring kedinginan
dalam kondisi yang mengenaskan.
Sya’ban RA pun iba , lalu segera membuka baju
yang paling luar dan dipakaikan kepada orang
tersebut dan memapahnya untuk bersama –
sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.
Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan
dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.
Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya
sorga yang sebagai balasan memakaikan baju
bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi :
“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “
Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban RA.
Jika dengan baju butut saja bisa
mengantarkannya mendapat pahala yang begitu
besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih
besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang
baru.
Berikutnya Sya’ban RA melihat lagi suatu adegan
saat dia hendak sarapan dengan roti yang
dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke
segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci
sudah tentu mengetahui sebesar apa ukuran roti
arab (sekitar 3 kali ukuran rata-rata roti
Indonesia)
Ketika baru saja hendak memulai sarapan,
muncullah pengemis di depan pintu yang
meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih
3 hari perutnya tidak diisi makanan.
Melihat hal tersebut , Sya’ban RA merasa iba .
Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar,
demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Kemudian mereka makan bersama – sama roti
itu yang sebelumnya dicelupkan susu , dengan
porsi yang sama…
Allah Subhanahu wa Ta'ala kemudian
memperlihatkan ….
ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan
sorga yang indah.
Demi melihat itu diapun berteriak lagi:
“ Aduuuh kenapa tidak semua……”
Sya’ban RA kembali menyesal .
Seandainya dia memberikan semua roti itu
kepada pengemis tersebut tentulah dia akan
mendapat sorga yang lebih indah
Masyaallah,
Sya’ban bukan menyesali perbuatannya,
tapi menyesali mengapa tidak optimal.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat
sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar
yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk
ditunda matinya karena pada saat itu barulah
terlihat dengan jelas …konsekwensi dari semua
perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena
ingin bersedekah. Namun kematian akan datang
pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak
dapat diakhirkan
Sering sekali kita mendengar ungkapan –
ungkapan berikut :
“ Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan
sholat separuh malam”
“ Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama
dengan sholat sepanjang malam”
“ Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari
pada dunia dan isinya”
Namun lihatlah Masjid tetap saja lengang dan
terasa longgar.
Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah
Subhanahu wa Ta'ala .
Mengapa demikian?
Karena apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa
Ta'ala itu tidak terlihat oleh mata kita pada
situasi normal.
Mata kita tertutupi oleh suatu hijab.
Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah
iman dan keyakinan bahwa janji Allah Subhanahu
wa Ta'ala tidak pernah meleset.
Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membuka hijab
itu pada saatnya. Saat ketika nafas sudah
sampai di tenggorokan….
Sya’ban RA telah menginspirasi kita bagaimana
seharusnya menyikapi janji Allah Subhanahu wa
Ta'ala tersebut.
Namun ternyata dia tetap menyesal sebagaimana
halnya kitapun juga akan menyesal.
Namun penyesalannya bukanlah sia – sia.
Penyesalannya karena tidak melakukan kebaikan
dengan optimal…..
Mudah-mudahan kisah singkat ini bermanfaat
bagi kita semua dalam mengarungi sisa waktu
yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta'ala
kepada kita.
Dan mari kita berdo’a semoga Allah Subhanahu
wa Ta'ala memberi kita kekuatan untuk
melakukan sebaik, bahkan lebih baik dari pada
apa yang dilakukan oleh Sya’ban
Dan mari kita berdo’a semoga Allah Subhanahu
wa Ta'ala memberi kita taufiq serta hidayah
wal'inayah .
Amiiiin Allahuma Amiin..
Wallahu a'lamu bisshawaf..